Seloka Menutup Aurat

Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label Demi Masa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demi Masa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2013

5 Perkara Sebelum 5 Perkara

Kawan-kawan, Ingatlah 5 Perkara Sebelum Datang 5 Perkara:
1. Sihat sebelum sakit
2. Muda sebelum tua
3. Kaya sebelum miskin
4. Lapang sebelum sempit
5. Hidup sebelum mati.
Penjelasan:
1. Sihat sebelum sakit – Lakukan sesuatu yang berfaedah dan mendatangkan kebaikan kepada diri anda dan orang-orang disekeliling anda semasa anda masih sihat.
2. Muda sebelum tua – Waktu anda muda inilah saatnya anda berusaha mencari kemewahan disamping tidak lupa kewajiban anda kepada Maha Pencipta, kelak bila anda tua anda tidak lagi memikirkan hal duniawi.
3. Kaya sebelum miskin – Waktu anda kaya berharta itulah anda boleh menolong orang yang lebih susah daripada anda kerana sedekah yang ikhlas akan jadi bekalan anda menghadapNYA.
4. Lapang sebelum sempit – Waktu anda masih ada kelapangan inilah waktu yang paling sesuai mendalami ilmu agama untuk pedoman anda.
5. Hidup sebelum mati – Sesungguhnya sewaktu hidup semua 4 perkara di atas boleh anda lakukan. Bila anda telah tiada hanya amal soleh, sedekah jariah dan doa anak yang soleh yang mengiringi anda.
Pedoman untuk kita semua fikirkan bersama.

Rabu, 09 November 2011

Lalai

Sungguh LUCU dan MEMALUKAN, Muslim yg seperti ini!? Termasuk kamu!?

Kali ini TS ingin menulis ttg keprihatinan TS melihat umat Muslim dewasa ini [TS juga Muslim ]. Kenapa memprihatinkan!? Sekarang ini banyak orang yang mengaku Islam tapi tidak Sholat, mengaku Islam tapi berbuat maksiat-mengumbar syahwat, mengaku Islam tapi berbuat anarkis, mengaku Islam tapi selalu menuruti hawa nafsu setan yg nyata-nyata MENYESATKAN! Lalu, Islam apakah yg seperti itu!? Islam KTP!? Islam bawaan lahir!? Atau ‘Islam-Islaman’!? Sungguh LUCU dan MEMALUKAN!!

Ini contoh sederhana yg mungkin sadar/tanpa disadari sering kita lakukan sehari-hari [termasuk TS jg ]

Terkadang kita akan dengan senang hati, tanpa terasa menghabiskan&meluangkan waktu kita u/:

5-8 jam (+/- 33% waktu kita dalam sehari) untuk tidur!!

2-4 jam (+/- 17% waktu kita dalam sehari) untuk maen game-internet, nonton TV, membaca koran&majalah!!

1-2 jam (+/- 8% waktu kita dalam sehari) untuk telp2an, SMSan ma pacar/gebetan!!

berjam2 didepan server

Dan apa yg terjadi dengan Sholat Wajib 5 waktu kita yg hanya +/- 50 Menit (hanya 4% waktu kita dlm sehari!!)

atau waktu kita u/ membaca Al-Qur’an yg hanya +/- 15 Menit (hanya 1% waktu kita dlm sehari!!),

tetapi mengapa kita berat sekali untuk menunaikannya!? sehingga kita tidak pernah bisa menjalankannya dgn ikhlas, rutin dan senang hati!?

Akhirnya kita menjadi suka melalaikan Sholat (bolong-bolong) dan tidak pernah sekalipun tergerak hati u/membaca Al-Qur’an.Sungguh LUCU dan MEMALUKAN bukan!? Termasuk kamu!?

Pada saat ada ‘panggilan’ dari HP kita [HP bergetar ada telp./SMS masuk], kita pasti akan SEGERA melihatnya, mengangkat telp tsb. [Apalagi klo tahu itu dari pacar, gebetan, atau sang selingkuhan! ]. Bahkan saat kita berkendara sekalipun, kita akan SEGERA, pada saat itu jg menepikan kendaraan untuk menerima telp. atau sekedar melihat SMS tsb, dan bahkan ada yg telp./sms sambil berkendara!

Tapi apa yg terjadi jika kita mendengar ‘panggilan’ Allah SWT, dari Adzan yg berkumandang sebagai pertanda waktu kita Sholat!? Terkadang kita menjawab: ‘Nanti ahh…!’ ‘Alahhh, masih jam segini..!” ‘Duhh, masih sibuk, bnyk kerjaan nie!” “Uahhmm..masih ngantuk, capek!” “Nanggung nie, acara TVnya masih asyik!”, tanggung nih masih banyak komplin.. cek stok dsb.

Akhirnya kita menjadi suka menunda2 waktu Sholat kita. Sungguh LUCU dan MEMALUKAN bukan!? Termasuk kamu!?

Kita Sholat Wajib, jumlahnya 17 rakaat dalam sehari. Pastinya kita WAJIB membaca Al-Fatihah sebanyak 17 kali. Apabila dihitung, dalam setahun kita membaca Al-Fatihah 6.120 kali! &jika kita selama ini sudah Sholat selama (katakanlah) 5 tahun, artinya kita telah membaca Al-Fatihah sebanyak 30.600 kali!! Tapi harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah selama ini kita tahu artinya!?

Tapi apa yg terjadi jika kita dihadapkan dengan lirik2 lagu2 cinta, puitis, romantis dari band kesayangan kita? Wooowww… Sehari, dua hari langsung hafal di luar kepala! Menghayati! Sampai-sampai menangis dgn syahdunya!

Akhirnya kita menjadi ‘jauh’ dari Al-Qur’an, karena kita hanya membacanya saja tanpa pernah mengetahui dan menghayati artinya [lebih parah lagi, yg menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai pajangan/pemanis ruangan! ]. Sungguh LUCU dan MEMALUKAN bukan!? Termasuk kamu!?

‘PERINTAH’ [bisikan] Setan: “Wahai Manusia, tak mengapa kamu bermaksiat, mengumbar syahwat, puaskan hawa nafsumu brg sesaat! Kesempatan tidak akan datang kedua kali, skrg ini adalah saat yg tepat! Percayalah! Kau akan sungguh2 merasakan NIKMAT!”

PERINTAH Allah SWT: “Wahai Manusia, Jangalah kau menuruti hawa nafsu Setan yg akan sllu menyesatkanmu dari jalanKu. Jagalah pandanganmu dan peliharalah kemaluanmu!”

Tapi apa yg terjadi??? PERINTAH siapakah yg kita jalankan? PERINTAH siapakah yg kita ikuti? PERINTAH siapakah yg kita amalkan dgn teguh? &Sebenarnya siapakah Tuhan kita? Allah atau Setan!?

Akhirnya terjadilah Free Sex, ML, bermesum ria dgn yg bukan muhrimnya, pelecehan seksual, aborsi, dsb. Sungguh LUCU dan MEMALUKAN bukan!? Termasuk kamu!?

BAHAN RENUNGAN

Betapa sulitnya untuk menunaikan Sholat selama 10 menit, namun betapa asyiknya menghabiskan 1 jam menonton film favorit kita!?

Betapa sulitnya untuk membaca 1 lembar Al Qur'an dan mempelajari arti yang terkandung di dalamnya, namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari buku/novel favorit kita!?

Betapa sulitnya untuk meluangkan waktu u/berdoa, berdzikir, mengingat Allah barang sejenak, namun betapa mudahnya untuk duduk berjam2 didepan server.. cek ini cek itu ngulik ini dan itu biar server lancar duit ngalir makin deres.....

Betapa BESARnya nilai uang Rp 100.000 apabila dibawa ke Fakir miskin untuk disedekahkan, tetapi betapa KECILnya saat dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!?

Betapa asyiknya apabila konser musik diperpanjang waktunya, namun mengapa kita mengeluh ketika khotbah di Masjid sedikit lebih lama daripada biasanya!?

Dan…

Betapa kita SERING MEMINTA ini-itu kepadaNya, terkadang dengan sedikit ‘memaksa’ harus dikabulkan sekarang juga, bahkan sampai kecewa kepadaNya ketika doa kita tidak juga dikabulkan, tetapi kita JARANG MEMBERI kepada ALLAH!

Sesungguhnya, Allah SWT yang butuh kita atau kita yang butuh Allah SWT!?

"Apabila kamu bersyukur pasti Aku (Tuhan) menambah nikmatmu dan apabila kamu kufur (mengingkari/tidak bersyukur) sesungguhnya balasanKU (balasan Tuhan) amatlah pedih (menyakitkan)" [QS:Ibrahim;7]


AKIBAT MENYIA-NYIAKAN WAKTU

Jika Anda bertanya, “Apakah akibat yang akan terjadi kalau menyia-nyiakan waktu?” Salah satu jawaban yang paling gamblang adalah ayat pertama dan kedua surat Al-’Ashr.

Allah Swt. memulai surat ini dengan bersumpah Wal ‘ashr (Demi masa),? untuk? membantah? anggapan? sebagian? orang yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada sesuatu yang? dinamai? masa? sial atau masa mujur, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Dan inilah yang berperan di dalam baik atau buruknya akhir suatu pekerjaan, karena masa selalu bersifat netral. Demikian Muhammad ‘Abduh menjelaskan sebab turunnya surat ini.

Allah bersumpah dengan ‘ashr, yang arti harfiahnya adalah “memeras sesuatu? sehingga? ditemukan? hal? yang? paling tersembunyi padanya,” untuk menyatakan bahwa, “Demi masa, saat manusia mencapai hasil setelah memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi apa pun hasil yang dicapainya itu, kecuali jika ia beriman dan beramal saleh” (dan? seterusnya? sebagaimana diutarakan pada ayat-ayat selanjutnya).

Kerugian tersebut baru disadari setelah berlalunya masa yang berkepanjangan, yakni paling tidak akan disadari pada waktu ‘ashr kehidupan menjelang hayat terbenam. Bukankah ‘ashr adalah waktu ketika matahari akan terbenam? itu agaknya yang menjadi sebab sehingga Allah mengaitkan kerugian manusia dengan kata ‘ashr untuk menunjuk “waktu? secara? umum”, sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian

selalu datang kemudian.

Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam khusr (kerugian).

Kata khusr mempunyai banyak arti, antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, dan sebagainya yang semuanya mengarah kepada makna-makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun. Kata khusr pada ayat di atas berbentuk indefinitif (nakirah), karena ia menggunakan tanwin, sehingga dibaca khusr(in), dan bunyi in itulah yang disebut tanwin. Bentuk indefinitif, atau bunyi in yang ada pada kata tersebut berarti “keragaman dan kebesaran”,? sehingga? kata khusr harus dipahami sebagai kerugian, kesesatan, atau kecelakaan besar.

Kata fi biasanya diterjemahkan dengan di? dalam? bahasa indonesia. Jika misalnya Anda berkata, “Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang Anda maksudkan adalah bahwa baju berada di dalam lemari dan uang berada di dalam saku. Yang tercerap dalam benak ketika itu adalah bahwa baju telah diliputi lemari, sehingga keseluruhan bagian-bagiannya telah berada di dalam lemari. Demikian juga uang ada di dalam saku sehingga tidak sedikit pun yang berada di luar.

Itulah juga yang dimaksud dengan ayat di atas, “manusia berada didalam kerugian”. Kerugian adalah wadah dan manusia berada di dalam wadah tersebut. Keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam kerugian total, tidak ada satu sisi pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam. Mengapa demikian?

Untuk menemukan jawabannya kita perlu menoleh kembali kepada ayat pertama, “Demi masa”, dan mencari kaitannya dengan ayat kedua, “Sesungguhnya manusia berada didalam kerugian”.

Masa adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu begitu. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah bersabda,

“Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.”

Jika demikian waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak diisi, yang bersangkutan sendiri yang akan merugi. Bahkan jika diisi dengan hal-hal yang negatif, manusia tetap diliputi oleh kerugian. Di sinilah terlihat kaitan antara ayat pertama dan kedua. Dari sini pula ditemukan sekian banyak hadis Nabi Saw. yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin, karena sebagaimana sabda Nabi Saw

Dua nikmat yang sering dan disia-siakan oleh banyak orang: kesehatan dan kesempatan (Diriwayatkan oleh Bukhari melalu Ibnu Abbas r.a.).

?

BAGAIMANA CARA MENGISI WAKTU?

Tidak pelak lagi bahwa waktu harus diisi dengan berbagai aktivitas positif. Dalam surat Al-’Ashr disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian dan kecelakaan besar dan beraneka ragam. Yaitu,

  1. yang beriman,
  2. yang beramal saleh,
  3. yang saling berwasiat dengan kebenaran, dan
  4. yang saling berwasiat dengan kesabaran.

Sebenarnya keempat hal ini telah dicakup oleh kata “amal”, namun? dirinci sedemikian rupa untuk memperjelas dan menekankan beberapa hal yang boleh jadi sepintas lalu tidak terjangkau oleh kalimat beramal saleh yang disebutkan pada butir (2).

Iman dari segi bahasa bisa diartikan dengan pembenaran. Ada sebagian pakar yang mengartikan iman sebagai pembenaran hati terhadap hal yang didengar oleh telinga. Pembenaran akal saja tidak cukup kata mereka karena yang penting adalah pembenaran hati.

Peringkat iman dan kekuatannya berbeda-beda antara seseorang dengan lainnya, bahkan dapat berbeda antara satu saat dengan saat lainnya pada diri seseorang. Al-iman yazidu wa yanqushu (Iman itu bertambah dan berkurang), demikian bunyi rumusannya. Nah,? upaya? untuk? mempertahankan dan meningkatkan iman merupakan hal yang amat ditekankan. Iman inilah yang amat berpengaruh pada hal diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah Swt.

Dalam surat Al-Furqan ayat 23 Allah menegaskan,

?

Kami menuju kepada amal-amal (baik) mereka (orang-orang tidak percaya), lalu kami menjadikan amal-amal itu (sia-sia bagai) debu yang beterbangan.

Ini disebahkan amal atau pekerjaan tersebut tidak dilandasi oleh iman. Demikianlah bunyi sebuah ayat yang merupakan “undang-undang Ilahi”

Di atas dikatakan bahwa tiga butir yang disebut dalam surat ini pada hakikatnya merupakan bagian dari amal saleh. Namun demikian ketiganya disebut secara eksplisit untuk menyampaikan suatu pesan tertentu. Pesan tersebut antara lain adalah bahwa amal saleh yang tanpa iman tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Dapat juga dinyatakan ada dua macam ajaran agama, yaitu pengetahuan dan pengamalan. Iman (akidah) merupakan sisi pengetahuan, sedangkan syariat merupakan sisi pengamalan. Atas dasar inilah ulama memahami makna alladzina amanu (orang yang beriman) dalam ayat ini sebagai “orang-orang yang memiliki pengetahuan? tentang? kebenaran”. Puncak kebenaran adalah pengetahuan tentang Allah dan ajaran-ajaran? agama? yang bersumber dari-Nya. Jika demikian, sifat pertama yang dapat menyelamathan seseorang dari kerugian adalah? iman? atau pengetahuan tentang kebenaran. Hanya saja harus diingat, bahwa dengan iman seseorang baru menyelamatkan seperempat dirinya, padahal ada empat hal yang disebutkan surat Al-’Ashr yang menghindarkan manusia dari kerugian total.

MACAM-MACAM KERJA DAN SYARAT-SYARATNYA

Hal kedua yang disebutkan dalam surat? Al-’Ashr? adalah ‘amilush-shalihat (yang melakukan amal-amal saleh). Kata ‘amal (pekerjaan) digunakan oleh Al-Quran? untuk? menggambarkan perbuatan yang disadari oleh manusia dan jin.

Kiranya menarik untuk mengemukakan pendapat beberapa pakar bahasa yang menyatakan bahwa kata ‘amal dalam Al-Quran tidak semuanya mengandung arti berwujudnya suatu pekerjaan di alam nyata. Niat untuk melakukan sesuatu yang baik kata mereka juga dinamai ‘amal. Rasul Saw. menilai bahwa niat baik seseorang memperoleh ganjaran di sisi Allah, dan inilah maksud surat Al-Zalzalah ayat 7:

Dan barang siapa yang mengamalkan kebajikan walaupun sebesar biji sawi niscaya ia akan mendapatkan (ganjaran)-nya.

Amal manusia yang beraneka ragam itu bersumber dan empat daya yang dimilikinya:

  1. Daya tubuh, yang memungkinkan manusia memiliki antara lain kemampuan dan keterampilan teknis.
  2. Daya akal, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu dan teknologi, serta memahami dan memanfaatkan sunnatullah.
  3. Daya kalbu, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan moral, estetika, etika, serta mampu berkhayal, beriman, dan merasakan kebesaran ilahi.
  4. Daya hidup yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempertahankan hidup, dan menghadapi tantangan.

Keempat daya ini apabila digunakan sesuai petunjuk Ilahi, akan menjadikan amal tersebut sebagai “amal saleh”.

Kata shalih terambil dari akar kata shaluha yang dalam kamus-kamus bahasa Al-Quran dijelaskan? maknanya? sebagai antonim (lawan) kata fasid (rusak). Dengan demikian kata “saleh” diartikan sebagai tiadanya atau terhentinya kerusakan.

Shalih juga diartikan sebagai bermanfaat dan sesuai. Amal saleh adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak menyebabkan dan mengakibatkan madharrat (kerusakan), atau bila pekerjaan tersebut dilakukan akan diperoleh manfaat dan kesesuaian.

Secara keseluruhan kata shaluha dalam berbagai bentuknya terulang dalam Al-Quran sebanyak 180 kali. Secara umum dapat dikatakan bahwa kata tersebut ada yang dibentuk sehingga membutuhkan objek (transitif), dan ada pula yang? tidak membutuhkan objek (intransitif). Bentuk pertama menyangkut aktivitas yang mengenai objek penderita. Bentuk ini memberi kesan? bahwa? objek? tersebut? mengandung? kerusakan dan ketidaksesuaian sehingga pekerjaan? yang? dilakukan? akan menjadikan objek tadi sesuai atau tidak rusak. Sedangkan bentuk kedua menunjukkan terpenuhinya nilai manfaat dan kesesuaian? pekerjaan yang dilakukan. Usaha menghindarkan

ketidaksesuaian pada sesuatu maupun menyingkirkan madharrat yang ada padanya dinamai ishlah; sedangkan usaha memelihara kesesuaian serta manfaat yang terdapat pada sesuatu dinamai shalah.

Apakah tolok ukur pemenuhan nilai-nilai atau keserasian dan ketidakrusakan itu? Al-Quran tidak menjelaskan, dan para ulama pun? berbeda pendapat. Syaikh Muhammad ‘Abduh, misalnya, mendefinisikan amal saleh sebagai, “segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan.”

Apabila seseorang telah mampu melakukan amal saleh yang disertai iman, ia telah memenuhi dua dari empat hal yang harus dipenuhinya untuk membebaskan dirinya dari kerugian total. Namun sekali lagi harus diingat, bahwa menghiasi diri dengan kedua hal di atas baru membebaskan manusia dari setengah kerugian karena ia masih harus melaksanakan dua hal lagi agar benar-benar selamat, beruntung, serta terjauh dari segala

kerugian.

Yang ketiga dan keempat adalah Tawashauw bil haq wa tawashauw bish-shabr (saling mewasiati tentang kebenaran dan kesabaran). Agaknya bukan di sini tempatnya kedua hal di atas diuraikan secara rinci. Yang dapat dikemukakan hanyalah bahwa al-haq diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh melalui pencarian ilmu dan ash-shabr adalah ketabahan menghadapi segala sesuatu, serta kemampuan menahan rayuan nafsu demi mencapai yang terbaik.

Surat Al-’Ashr secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengandalkan iman saja, melainkan juga amal salehnya. Bahkan amal saleh dengan iman pun belum cukup, karena masih membutuhkan ilmu. Demikian pula amal saleh dan ilmu saja masih belum memadai, kalau tidak ada iman. Memang ada orang yang merasa cukup puas dengan ketiganya, tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan dapat menjerumuskannya dan ada pula yang merasa jenuh. Karena itu, ia perlu selalu menerima nasihat agar tabah dan sabar, sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman, amal, dan pengetahuannya.

Demikian terlihat bahwa amal atau kerja dalam pandangan Al-Quran bukan sekadar upaya memenuhi kebutuhan makan, minum, atau rekreasi, tetapi kerja beraneka ragam sesuai dengan keragaman daya manusia. Dalam hal ini Rasulullah? Saw. mengingatkan:

Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya, ada juga untuk melakukan introspeksi. Kemudian ada juga untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan ada pula yang dikhususkan untuk diri (dan keluarganya) guna memenuhi kebutuhan makan dan minum (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim melalui Abu Dzar Al-Ghifari).

Demikian surat Al-’Ashr mengaitkan waktu dan kerja, serta sekaligus memberi petunjuk bagaimana seharusnya mengisi waktu. Sungguh tepat imam Syafi’i mengomentari surat ini:

Kalaulah manusia memikirkan kandungan surat ini, sesungguhnya cukuplah surat ini (menjadi petunjuk bagi kehidupan mereka).


Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)