Seloka Menutup Aurat

Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label kisah-kisah pejuang islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah-kisah pejuang islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

Akankah kita kalah dari seorang pria tua nan buta..?


Suatu ketika aku teringat kembali Ayat 36 dari Surat Al-Isra' yang mengingatkan tentang tanggung jawab pribadi kita atas apa-apa yang telah kita terima dan kita gunakan, serta larangan untuk "hanya" ikut-ikutan dalam kehidupan ini..
"Dan jangnalh kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati urani, semua itu akan diminta pertanggungjawabanya"
Aku kemudian teringat bab amalan pertama yang akan dihisab kelak di hari perhitungan, Shalat..
Terkadang ketika hati tenang,akan terasa begitu nikmat desir-desir angin sejuk yang mengiringi keawajiban shalat berjamaah di surau kampung sekalipun.. tetapi ketika sibuk menggelayut jam-jam kita, masihkah ada rasa nikmat..? Atau yang ada kemudian hanya keterburu-buruan, atau bahkan mungkin keengganan untuk berangkat berjamaah..


Namun sebelum mencari lebih jauh pengetahuan tentang hukum shalat berjamaah di masjid, saya tiba-tiba teringat nama seorang sahabat, Rasul, Abdullah ibnu Umi Maktum..
Sahabat yang memiliki nama lengkap Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham. Seorang sahabat yang sungguh pemberani meskipun beliau tidak dapat melihat.
Beliau adalah termasuk orang yang mula-mula masuk islam, dan salah seorang dari 7 orang yang dengan berani menampakkan keislamanya di Mekkah pada masa-masa permulaan Islam..
Di awal sejarah islam, Abdullah ibnu Umi Maktum diberi hidayah Allah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah ber-islam. Ketika itu beliau masih muda, dan beliau merasa Islam telah membersihkan hatinya dan membuatnya lebih cerah menatap kehidupan meskipun kedua matanya tak dapat melihat..
Ya.. Beliau adalah seorang pemuda yang tak dapat melihat sama sekali.. Pun demikian beliau adalah seorang pemuda yang luar biasa berani karena secara terang-terangan menampakkan keislamanya pada masa-masa sulit di Mekkah..
Kawan, andai kita yang diberi amanah Allah menjaga kedua mata yang tak dapat menikmati bahkan sekedar cahaya pendar warna-warni, masihkah kita akan seberani beliau..? Saya bahkan dapat membayangkan betapa beratnya hal itu..dan itu menjadi bukti keteguhan dan keberanian yang luar biasa dari seorang pemuda buta.. Subhanallah..
Ini merupakan nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepadanya..

Pada tahap selanjutnya beliau hijrah ke Madinah pasca perang badar, beliau adalah muadzin kedua Rasulullah SAW setelah Bilal bin Rabbah, dan kemudian karena kejernihan mata hati dan kebaikan budi pekerti beserta ilmu agamanya Rasulullah menunjuk beliau menjadi imam shlalat umat islam di Madina ketika Rasulullah pergi ke medan perang..

Abdullah ibnu Umi Maktum r.a juga merupakan salah seorang sahabat yang membuat Rasulullah mendapat teguran dari Allah SWT.
Suatu ketika beliau medatangi Rasulullahuntuk belajar Al-Qur'an. Saat itu, Rasulullah  sedang berbicara dengan 3 pemuka Quraisy mengajak mereka memeluk islam, namun kemudian Rasulullah berpaling muka dan bermuka masam terhadap Ibnu Maktum, oleh sebab inilah turun kemudian firman Allah SWT dalam surat Abasa.
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau ia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendaatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikanya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan.."
(QS. Abasa: 1-11)
Demikianlah pada ketika itu Rasulullah ditegur oleh Allah SWt karena mengabaikan ketulusan, tekad, dan keberanian salah seorang sahabatnya yang datang untuk mendapatkan pengajaran dengan keterbatasan pengelihatanya tersebut..

Kebaikan lain yang semoga dapat menjadikan contoh bagi kita yang masih diberi amanah pengelihatan yang sempurna ini adalah kebiasaan beliau yang setiap menjelang fajar, dengan persaan jiwa yang segar ia keluar dari rumahnya, dengan bertopang pada tongkatnya atau lengan salah seorang muslimin untuk mengumandangkan adzan di masjid.
Beliau bergantian adzan dengan Bilal bin Rabah. Apabila Bilal yang mengumandangkan adzan maka beliau yang mengumadnangkan iqamah. Namun lain halnya di waktu fajar, Bilal mengumandangkan adzan untuk membangunkan kaum muslimin di sepertiga malamnya, sedangkan  Abdullah ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan di waktu subuh. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menajdikan adzan Abdullah ibnu Umi Maktum ini sebagai sandaran habisnya waktu makan sahur. Rasulullah bersabda: "Makan dan minumlah kalian hingga ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan.."

Waktu kemudian berjalan terus hingga suatu ketika disaat telah mulai menua Abdullah ibnu Umi Maksum bertanya kepada Rasulullah SAW apakah ada ruksah (keringanan) untuknya yang mulai mulai tua, tinggal cukup jauh dari masjid, dalam perjalanan ke masjid harus melewati semak-semak dan kebun-kebun kurma yang kala itu masih jamak adanya binatang buas..?
Rasulullah yang ditanay seperti itu menjawab dengan jawaban "iya".
Maka Ibnu Umi Maktum bermaksud pergi setelah mendapat keterangan keringanan dari Rasulullah, namun sejurus kemudian setelah Ibnu Umi Maktum berpaling Rasulullah SAW memanggil beliau dan bertanya, "apakah engkau mendengar suara adzan..?". Beliau menjawab, "iya". Maka Rasulullah bersabda, "Jika demikian, penuhilah panggilanya.."

Bisa kita bayangkan betapa beratnya hal yang harus dijalani Abdullah ibnu Umi Maktum ini..
Andai kita seperti beliau, bagaimanakah reaksi kita mendengar yang disampaiakn Rasulullah, "..Jika demikian, maka penuhilah panggilanya.."?
Entahlah..andai kita yang berdiri sebagai Abdullah ibnu Umi Maktum kala itu, karena jika begitu maka adalah sebagai orang yang telah renta, dengan jarak rumah cukup jauh dari masjid dan ditempuh dengan berjalan kaki tanpa ada lagi yang menuntun, dan harus melewati belanatar dan kebun-kebun yang masih jamak terlihat binatang buas dan berbisa..
Mungkin saya sendiri akan mundur dan berusaha mendapat keringanan lagi dari Rasul andai saya adalah Ibnu Umi Maktum kala itu..
Namun demikianlah Allah sungguh Maha Adil sehingga mengilhamkan kepada Ibnu Umi Maktum untuk tetap memenuhi apa yang disampaikan Rasulullah tersebut, ya.. beliau sama sekali tidak protes, memohn belas kasihan ataupun "ngambek" kepada Rasulullah.. Melainkan beliau hanya taat, dan tetap berjamaah di masjid dengan segala tntangan dan bahayanya..
Maha besar Allah yang telah menjaga Ibnu Umi Maktum dalam setiap perjalananya di msa tua untuk menghadiri jamaah shalat di masjid dengan selamat, sehingga darinya kita yang saat diberi amanah kesempurnaan indera dapat mengambil pelajaran ketegaran, keberanian dan ketaatn dari seorang pria buta, tua, namun mampu melibas semua bahaya yang mengancam..

Abdullah ibnu Umi Maktum mungkin kalah dari kita dalam hal kesempurnaan pengelihatan, dan keamanan dalam menuju masjid, namun apa iya kita harus kalah dari beliau dalam hal tekad ke masjid..?
Semoga kita semua dapat saling mengingatkan dan menguatkan tekad setelah ini..
Aamiin..

Selasa, 10 Maret 2009

Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid

MediaMuslim.Info - Suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang saleh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khusyu’, melakukan ruku’ dan sujud dengan hening dan tenang, tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya, ”Anak siapakah kamu ?”

”Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku”
”Maukah kamu menjadi anakku?”
Si anak berkata,”Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”
Si lelaki kaya menjawab,”Ya, InsyaAlloh”

”Apakah engkau akan memberi minum ketika aku haus?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?”
Takjublah lelaki itu seraya berkata,’ ”Ini tidak mungkin dilakukan!”

Anak kecil itu berkata, ”Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkanku kembali”
Lelaki itu berkata kepada si anak, ”Benar wahai anakku! Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya”.

(Dikutip dari: Asybaluna Al-‘Ulama, Oleh Muhammad Sulthon)
Sumber: www.mediamuslim.info

Kisah Seorang Wanita dengan Ubaid bin Umair

MediaMuslim.Info - Abul Faraj dan yang lainnya menceritakan bahwa, ada seorang wanita cantik tinggal di Mekkah. Ia sudah bersuami. Suatu hari ia bercermin dan menatap wajahnya sambil bertanya kepada suaminya: “apakah menurutmu ada seorang laki-laki yang setelah melihat wajahku, ia tidak akan tergoda ?” sang suami menjawab ” Ada !” si istri bertanya lagi, “siapakah dia?” sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair” si istri berkata kepada suaminya “ijinkan aku untuk menggodanya”. “silahkan” jawab sang suami, “aku telah mengijinkanmu”.

Maka wanita itu mendatangi Ubaid seperti layaknya orang yang sedang meminta fatwa. Kemudian si wanita membawanya ke ujung masjidil Haram dan menyingkapkan wajahnya yang bagai kilauan cahaya rembulan. Maka Ubeid berkata kepadanya, wahai hamba Alloh, tutuplah wajahmu. Si wanita menjawab, “aku sudah tergoda olehmu”. Beliau menanggapi, “baik, saya akan bertanya kepadamu tentang satu hal, apabila engkau menjawabnya dengan jujur, aku akan perhatikan keinginanmu.” Si wanita menjawab, “saya akan menjawab setiap pertanyaanmu dengan jujur” Beliau bertanya seandainya, “seandainya sekarang ini malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah engkau ingin aku memenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawab dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “seandainya engkau telah masuk kubur dan bersiap-siap untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila manusia sedang menerima catatan amal mereka, lalu engkau tidak mengetahui apakah akan menerima dengan tangan kanan atau dengan tangaan kiri, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila engkau sedang akan melewati Ash shirat (jembatan yang terhampar diatas neraka dan ujungnya adalah surga), sementara engkau tidak tahu apakah akan selamat atau tidak, apakah engkau suka bila sekarang aku penuhi keinginanmu?” siwanita menjawab, “tentu tidak” beliau berkata, “bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya, “apabila telah didatangkan neraca keadilan, sementara engkau tidak mengetahui apakah timbangan amal perbuatanmu akan ringan atau berat, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau bertanya lagi, “apabila engkau sedang bersiri dihadapan Alloh untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” si wanita menjawab, “tentu tidak” Beliau berkata, “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur”

Beliau lalu berkata, “bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh telah memberikan karuniaNya kepadamu dan telah berbuat baik kepadamu.” Ibnul Faraj berkata, “maka wanita itupun pulang kerumahnya menemui suaminya. Si suami bertanya, “apa yng telah engkau perbuat?” si istri menjawab, “sungguh engkau ini pengangguran (kurang ibadah) dan kita ini semua pengangguran.” Setelah itu si istri menjadi giat sekali menjalankan sholat, shaum dan ibadah-ibadah lain. Konon si suami sampai berkata, “apa yang terjadi antara aku dengan ubeid? Ia telah merubah istriku. Dahulu setiap malam bagi kami bagaikan malam pengantin, sekarang ia telah berubah menjadi ahli Ibadah.
Sumber: www.mediamuslim.info

Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)