Seloka Menutup Aurat

Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

Pengertian Tauhid

PENGERTIAN TAUHID DAN MACAM-MACAMNYA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama:
Tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua:
Tauhid Ar-Rububiyah, ialah rneng esakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai
dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga:
Tauhid Al-Asma’ was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata: “Qadar adalah kekuasaan Allah”. Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.

PENDAPAT-PENDAPAT TENTANG QADAR

Pembaca yang budiman.
Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah dalam tiga golongan.

Pertama:
Mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dan hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya. Tentu saja mereka ini keliru dan sesat, karena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

Kedua:
Mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah serta diciptakan olehNya. Menurut mereka, manusia memmiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga:
Mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar’i dan dalil ‘aqli Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam semesta ini terbagi atas dua macam:

[1]. Perbuatan yang dilakukan oleh Allah, terhadap makhlukNya Dalam hal ini tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti; turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah. Hal seperti ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

[2]. Perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya karena Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah:

“Artinya : Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” [At-Takwir: 28]

”Artinya : Di antara kamu ada orang yang- menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” [Ali Imran : 152]

“Artinya : Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir ” [Al-Kahfi : 29]

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya itu atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama atas dasar kemauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikianlah segala yang terjadi dari manusia, dia mengetahui perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak.

Akan tetapi, karena kasih sayang Allah, ada di antara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan Sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan dan orang yang sedang tidur.

Firman Allah dalam kisah Ashabul Kahfi.

“Artinya : … dan Kami mereka ke kanan dan ke kiri…” [Al-Kahfi :18]

Padahal merekalah sendiri yang berbalik ke kanan dan ke kiri, tetapi Allah menyatakan bahwa Dialah yang membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapat hukuman atas perbuatannya, maka perbuatan tersebut di-nisbat-kan kepada Allah.

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam

“Artinya : Barangsiapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaklah !a menyempurnakan puasanya, karena Allah yang memberinya makan dan memberinya minum. “

Dinyatakan dalam hadits ini bahwa yang memberinya makan dan minum adalah Allah karena perbuatannya tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan-akan terjadi tanpa kemauannya

Kita semua mengetahui perbedaan antara rasa sakit atau rasa senang yang kadangkala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak tahu sebabnya dan rasa sakit atau rasa senang yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dia sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.

[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi’ul Awwal 1420H/Juni 1999M]


Kemana mau berlari? Sebab segalanya adalah Tauhid!

Tiada Tuhan selain Allah

Kebutuhan manusia akan Ilahi adalah perkara yang tidak terbantahkan. Semua orang butuh beribadah kepada Allah, karena pada dasarnya ada kebutuhan hati makhluq kepada sang Khaliq. Telah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk beribadah melebihi urusan makan dan bernafas. Hal ini jelas di dalam Al Quran, Allah telah gambarkan: “tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku..”. Maknanya seolah-olah manusia itu adalah kreasi Allah yang telah di program khusus untuk beribadah kepadaNya. Ulama tafsirkan makna kata “ li ya’buduun (agar mereka beribadah)..” adalah mentauhidkan Allah.

Manusia di dunia bekerja dan beraktivitas, segala macam aktivitas dilakukan manusia itu sangat beragam. Maka konteks ibadah dalam kehidupan menurut ajaran islam adalah setiap gerak-gerak manusia itu haruslah berlandaskan Tauhid (peng-Esaan kepada Allah), disamping Allah juga perintahkan manusia dengan ibadah-ibadah yang bersifat khusus, seperti shalat, puasa, zakat, kurban, membaca qur’an dsb. Alangkah indahnya jika setiap aktivitas bernafaskan tauhid, ia akan memulai aktivitas dengan bismillah, semuanya dilakukan dengan profesional karena Allah maha melihat, perkara yang haram akan dijauhi, jika dalam perdagangan ia akan memudahkan dan niat saling menolong, dan jika dalam aktivitas mu’asyaroh ia akan berakhlak dengan baik karena Allah adalah Ar Rohim (Maha Penyayang)..”

Itulah mengapa kalimat Tauhid menjadi induk segala urusan. Segala aktivitas, bahkan sampai kepada lintasan hati/niat, merupakan urusan agama. Satu hadits yang ma’ruf berbunyi.” Sungguh tiada amal itu kecuali atas niatnya..”. Dalam hadits lain disebutkan..” niat seorang mukmin itu lebih baik daripada ‘amalnya”. Dalam hadits lain bahkan disebutkan niat kebaikan seorang sudah dihitung sebagai pahala walaupun ia belum mengerjakannya. Hadits pertama dalam banyak kitab para fuqoha adalah hadits niat, dan ulama sampaikan masalah niat ini mencakup 70 bab dalam ilmu fiqh.

Intinya, urusan agama itu bukanlah urusan ibadah ritual saja, namun mencakup seluruh gerak-gerak keseharian kita bahkan menyangkut masalah hati, yang mungkin tidak ada yang tahu isi hati kita selain kita dan Allah saja. Mungkin itulah ma’na kalimatullah yang artinya : ..Masuklah ke dalam Islam secara sempurna..” karena “ siapa yang berbuat walaupun sebesar atom (misqola dzarrotin) maka akan dibalas..” Bahkan lebih khusus lagi, dalam urusan hati dan amal ini, Allah jadikan keduanya menjadi standar penilaian Allah terhadap diri kita, dalilnya: “..sungguh Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tapi Dia memandang (tertuju hanya) kepada hati-hati dan segala amal perbuatanmu..” (hadits). Dalam hadits rasulullah kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda..”ya Muadz, ikhlaskanlah niat. Karena amal yang sedikit namun ikhlas itu mencukupi…”

Makanya, sangat mengherankan bila segala permasalahan yang terjadi pada saat ini,dikembalikan kepada selain urusan agama. Bahkan dalam sains dan jenjang pendidikan tinggi, seolah tidak ada celah sedikitpun ma’na tauhid yang sesungguhnya, dan seolah agama dipisahkan jauh-jauh daripada urusan dunia. Jika kita menilik lebih detail, siapakan pelaku kehidupan ini? Jikalau ada semiliyar teori tentang ekonomi/pertanian/hukum/seni/politik/dsb, yang akan mengamalkan itu adalah manusia itu juga. Tapi kenapa seringkali kita berlari dari fitrah dalam mentauhidkan Allah?? dalam sebuah hadits dikatakan: ..”jika di dunia ini tidak ada lagi yang menyebut asma Allah, maka dunia akan kiamat..”. maknanya, jika aktivitas manusia tidak ada lagi pemahaman Tauhid yang benar (sekuler, meniadakan Allah), maka sehebat apapun aktivitas manusia dalam kajian A hingga Z-nya, maka itu semua adalah bentuk kesia-siaan dan kehancuran. Sebaliknya, walaupun umat islam ‘terlihat’ lamban, namun karena ada keikhlasan dan imaniyah yang benar, maka Allah pandang urusan itu sebagai sesuatu yang mencukupi. Allah tidak pandang usaha kita (sebab-akibat) tetapi Allah pandang keyakinan kita kepadaNya. Inilah makna Tauhidullah.

Untuk memahami dan mendapatkan tauhid yang sempurna ini, tidak bisa dengan hanya membaca tulisan mengenai tauhid atau ikut kajian membahas kitab tauhid. Tauhid adalah bukti keimanan dan yakin, sedang iman adalah sifat yang hanya didapatkan dengan mujahadah dan riyadhoh (latihan hati) yang kontinyu. Satu kisah seorang pemuda bertanya kepada Al Imam Ghazaly “Apa itu iman..?” maka Imam Al Ghazaly tidak menjawab dan langsung mengajak sang pemuda ke sebuah danau besar. Mereka berdua berjalan dan naik perahu yang kemudian membawa mereka ke tengah-tengah danau yang dalam itu. Di tengah danau yang sepi itu, Imam Ghazaly lantas melemparkan sang pemuda ke tengah danau sendirian. Sang pemuda kaget dan berteriak ketakutan karena ia tidak bisa berenang. Sang imam pergi begitu saja. Sang pemuda berteriak-teriak..” imam….imam….tolong aku..tolong…”. namun imam Ghazaly tidak menolong malah makin menjauh. Akhirnya dalam keadaan demikian, sang pemuda berteriak lagi..namun dengan nada dan keyakinan yang berbeda, ”Ya Allah, tolonglah aku..”. Sesaat kemudian, datang pertolongan Allah dan menyelamatkan pemuda itu. Setelah pemuda itu selamat, dan kembali menemui sang Imam, maka sang imam menjawab: “Itulah iman. Iman adalah kau lepaskan semua keyakinanmu selain kepada Allah..”.

Itulah sebabnya orang kafir (mengingkari Allah) itu tidak ada harganya sedikitpun di mata Allah. dan itulah sebabnya mereka mendapatkan adzab yang kekal di neraka. Ia telah melawan fitrahnya, mengikuti hawa nafsu, memusuhi orang mukmin, mengejar dunia, dan tidak belajar mengenai kebesaran illahi. Dalam sebuah hadits disebutkan kunci syurga adalah kalimat Laa ilaha illa Allah. Bagaimana mungkin seorang masuk ke rumah tanpa kunci?

Umat islam saat ini telah mengucapkan kalimat ini, namun sangat jarang yang mengupayakan keyakinan yang sempurna atas kalimat ini dan mengaplikasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Adapun yang mengupayakan kalimat iman ini dan belajar mengamalkan maka akan dikatakan orang asing (ghuroba). Dalam sebuah hadits dikatakan: “ Islam muncul dalam keadaan asing dan kembali nya dalam keadaan asing. Maka, sungguh beruntung orang-orang yang yang asing itu..”

Asingnya konsep islam di mata umum boleh jadi disebabkan karena kuatnya pengaruh media, tv, film, musik, dsb yang telah memerangi pola fikir (mind set), dan terus menanamkan konsep yang meletakkan kebahagiaan melalui kehidupan yang materialistik dan hiburan, bahkan seringkali menfitnah islam adalah teroris dengan menelurkan konsep islamophobia. Intinya, media massa telah dikontrol dan diprogram agar menjauhkan umat islam dari islam walau ia masih berstatus muslim, dan makin menjauhkan umat non islam kepada islam. Sebuah penelitian mengatakan, 90% opini masyarakat dikontrol oleh media. Lihat pola fikir dan keyakinan kita hari ini, jika kita merasa susah memahami konsep islam yang mulia, boleh jadi hati dan fikiran kita telah di-brain-washed oleh musuh-musuh Allah. Karena kebenaran itu mahal, yang dengki dan berusaha menghambat kita ke jalan ini sungguh banyak sementara yang menghibau ke jalan kebenaran itu sedikit. Karena kebenaran itu syurga dan mengikuti hawa nafsu itu neraka. Sebuah hadits berma’na..”Syurga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, neraka itu diliputi oleh hal-hal yang disukai hawa nafsu…”. Wallahu a’lam

azansite.wordpress.com/2011/04/13/kemana-mau-berlari-sebab-segalanya-adalah-tauhid/


Tauhid: Pentingnya Akidah Dalam Kehidupan Seorang Insan


Akidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah akidah artinya keyakinan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Dalam pengertian agama maka pengertian akidah adalah kandungan rukun iman, yaitu:

  1. Beriman dengan Allah
  2. Beriman dengan para malaikat
  3. Beriman dengan kitab-kitab-Nya
  4. Beriman dengan para Rasul-Nya
  5. Beriman dengan hari akhir
  6. Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk

Sehingga akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang (lihat At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5)

Kedudukan Akidah yang Benar

Akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan akidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)’” (QS. An Nahl: 36)

Bahkan setiap Rasul mengajak kepada kaumnya dengan seruan yang serupa yaitu, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang benar) bagi kalian selain Dia.” (lihat QS. Al A’raaf: 59, 65, 73 dan 85). Inilah seruan yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh Nabi-Nabi kepada kaum mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekkah sesudah beliau diutus sebagai Rasul selama 13 tahun mengajak orang-orang supaya mau bertauhid (mengesakan Allah dalam beribadah) dan demi memperbaiki akidah. Hal itu dikarenakan akidah adalah fondasi tegaknya bangunan agama. Para dai penyeru kebaikan telah menempuh jalan sebagaimana jalannya para nabi dan Rasul dari jaman ke jaman. Mereka selalu memulai dakwah dengan ajaran tauhid dan perbaikan akidah kemudian sesudah itu mereka menyampaikan berbagai permasalahan agama yang lainnya (lihat At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 9-10).

Sebab-Sebab Penyimpangan dari Akidah yang Benar

Penyimpangan dari akidah yang benar adalah sumber petaka dan bencana. Seseorang yang tidak mempunyai akidah yang benar maka sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran, sampai-sampai apabila mereka telah berputus asa maka mereka pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan yaitu dengan bunuh diri. Sebagaimana pernah kita dengar ada remaja atau pemuda yang gantung diri gara-gara diputus pacarnya.

Begitu pula sebuah masyarakat yang tidak dibangun di atas fondasi akidah yang benar akan sangat rawan terbius berbagai kotoran pemikiran materialisme (segala-galanya diukur dengan materi), sehingga apabila mereka diajak untuk menghadiri pengajian-pengajian yang membahas ilmu agama mereka pun malas karena menurut mereka hal itu tidak bisa menghasilkan keuntungan materi. Jadilah mereka budak-budak dunia, shalat pun mereka tinggalkan, masjid-masjid pun sepi seolah-olah kampung di mana masjid itu berada bukan kampungnya umat Islam. Alangkah memprihatinkan, wallaahul musta’aan (disadur dari At Tauhid Li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12)

Oleh karena peranannya yang sangat penting ini maka kita juga harus mengetahui sebab-sebab penyimpangan dari akidah yang benar. Di antara penyebab itu adalah:

  1. Bodoh terhadap prinsip-prinsip akidah yang benar. Hal ini bisa terjadi karena sikap tidak mau mempelajarinya, tidak mau mengajarkannya, atau karena begitu sedikitnya perhatian yang dicurahkan untuknya. Ini mengakibatkan tumbuhnya sebuah generasi yang tidak memahami akidah yang benar dan tidak mengerti perkara-perkara yang bertentangan dengannya, sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil pun dianggap benar. Hal ini sebagaimana pernah disinggung oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jalinan agama Islam itu akan terurai satu persatu, apabila di kalangan umat Islam tumbuh sebuah generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah.”
  2. Ta’ashshub (fanatik) kepada nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun hal itu termasuk kebatilan, dan meninggalkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang walaupun hal itu termasuk kebenaran. Keadaan ini seperti keadaan orang-orang kafir yang dikisahkan Allah di dalam ayat-Nya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian!’ Mereka justru mengatakan, ‘Tidak, tetapi kami tetap akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek-nenek moyang kami’ (Allah katakan) Apakah mereka akan tetap mengikutinya meskipun nenek moyang mereka itu tidak memiliki pemahaman sedikit pun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah: 170)
  3. Taklid buta (mengikuti tanpa landasan dalil). Hal ini terjadi dengan mengambil pendapat-pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil dan kebenarannya. Inilah kenyataan yang menimpa sekian banyak kelompok-kelompok sempalan seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah dan lain sebagainya. Mereka mengikuti saja perkataan tokoh-tokoh sebelum mereka padahal mereka itu sesat. Maka mereka juga ikut-ikutan menjadi tersesat, jauh dari pemahaman akidah yang benar.
  4. Berlebih-lebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh. Mereka mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia. Hal ini benar-benar terjadi hingga ada di antara mereka yang meyakini bahwa tokoh yang dikaguminya bisa mengetahui perkara gaib, padahal ilmu gaib hanya Allah yang mengetahuinya. Ada juga di antara mereka yang berkeyakinan bahwa wali yang sudah mati bisa mendatangkan manfaat, melancarkan rezeki dan bisa juga menolak bala dan musibah. Jadilah kubur-kubur wali ramai dikunjungi orang untuk meminta-minta berbagai hajat mereka. Mereka beralasan hal itu mereka lakukan karena mereka merasa sebagai orang-orang yang banyak dosanya, sehingga tidak pantas menghadap Allah sendirian. Karena itulah mereka menjadikan wali-wali yang telah mati itu sebagai perantara. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari). Beliau memperingatkan umat agar tidak melakukan sebagaimana apa yang mereka lakukan Kalau kubur nabi-nabi saja tidak boleh lalu bagaimana lagi dengan kubur orang selain Nabi ?
  5. Lalai dari merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun qur’aniyah. Ini terjadi karena terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistik yang digembar-gemborkan orang barat. Sampai-sampai masyarakat mengira bahwa kemajuan itu diukur dengan sejauh mana kita bisa meniru gaya hidup mereka. Mereka menyangka kecanggihan dan kekayaan materi adalah ukuran kehebatan, sampai-sampai mereka terheran-heran atas kecerdasan mereka. Mereka lupa akan kekuasaan dan keluasan ilmu Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan berbagai perkara untuk mencapai kemajuan fisik semacam itu. Ini sebagaimana perkataan Qarun yang menyombongkan dirinya di hadapan manusia, “Sesungguhnya aku mendapatkan hartaku ini hanya karena pengetahuan yang kumiliki.” (QS. Al Qashash: 78). Padahal apa yang bisa dicapai oleh manusia itu tidaklah seberapa apabila dibandingkan kebesaran alam semesta yang diciptakan Allah Ta’ala. Allah berfirman yang artinya, “Allah lah yang menciptakan kamu dan perbuatanmu.” (QS. Ash Shaffaat: 96)
  6. Kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Hal ini sebagaimana telah digariskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari). Kita dapatkan anak-anak telah besar di bawah asuhan sebuah mesin yang disebut televisi. Mereka tiru busana artis idola, padahal busana sebagian mereka itu ketat, tipis dan menonjolkan aurat yang harusnya ditutupi. Setelah itu mereka pun lalai dari membaca Al Qur’an, merenungkan makna-maknanya dan malas menuntut ilmu agama.
  7. Kebanyakan media informasi dan penyiaran melalaikan tugas penting yang mereka emban. Sebagian besar siaran dan acara yang mereka tampilkan tidak memperhatikan aturan agama. Ini menimbulkan fasilitas-fasilitas itu berubah menjadi sarana perusak dan penghancur generasi umat Islam. Acara dan rubrik yang mereka suguhkan sedikit sekali menyuguhkan bimbingan akhlak mulia dan ajaran untuk menanamkan akidah yang benar. Hal itu muncul dalam bentuk siaran, bacaan maupun tayangan yang merusak. Sehingga hal ini menghasilkan tumbuhnya generasi penerus yang sangat asing dari ajaran Islam dan justru menjadi antek kebudayaan musuh-musuh Islam. Mereka berpikir dengan cara pikir aneh, mereka agungkan akalnya yang cupet, dan mereka jadikan dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits menuruti kemauan berpikir mereka. Mereka mengaku Islam akan tetapi menghancurkan Islam dari dalam. (disadur dengan penambahan dari At Tauhid li Shaffil Awwal Al ‘Aali, hal. 12-13).

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi


Aqidah Ahlussunah dalam Ilmu Ushuluddin

bis2

AQIDAH AHLUSSUNNAH DALAM ILMU USHULUDDIN

A. Latar Belakang Sejarah Ahlussunah

Kemunculan I’tiqad Ahlussunah merupakan jawaban terhadap gejolak yang tumbuh dari berbagai paham keagamaan, antara lain paham Mu’tazilah yang mendapat dukungan dari tiga khalifah Abbasiyah pada abad ke-3 H. yaitu al-Makmun bin Harun al-Rasyid (198-218 H/813-833 M). Al-Muktashim (218-227 H/833-842 M). dan Al-Watsiq (227-232 H/842-847 M). Pada pemerintahan al-Makmun paham ini dijadikan paham resmi negara. Karena paham Mu’tazilah telah menjadi paham resmi negara, maka kaum Mu’tazilah mulai menyebarkan ajarannya dengan cara paksa, hal ini sampai berlanjut pada pemaksaan paham aliran melalui jalur kekuasaan.

Setelah Al-Makmun meninggal dunia pada tahun 833 M. Paham aliran Mu’tazilah ini menjadi surut, kemudian pemerintahan Abasyiah dipimpin oleh al-Mutawakil. Pada pemerintahan al-Mutawakil paham Mu’tazilah mulai tidak berlaku.

Orang-orang Mu’tazilah ini pada mulanya adalah kaum Syiah yang patah semangat, karena menyerahnya khalifah Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada khalifah Muawiyah dari Bani Umayah pada tahun 40 H.

Paham Mu’tazilah yang biasa dikenal sebagai paham rasional dan liberal ini (lebih mengedepankan akal dan kebebasan) biasanya dalam melahirkan fatwa, lebih memilih jalur mendahulukan akal dari pada al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam arti lain, paham ini tidak menjadikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber utama secara mutlak.

Sebagian orang Mu’tazilah menolak kebenaran al-Qur’an dan al-Hadits. Jika tidak dapat diterima oleh akal sehat. Misalnya, mereka tidak menerima bahwa Rasulullah SAW. Melakukan Isra’ Mi’raj dengan jasadnya. Paham ini juga dikenal sebagai penganut paham Qodariyah atau paham yang mengajarkan ajaran free will, free act (bebas berkehendak dan berbuat).

Gerakan Mu’tazilah muncul di Basyrah (Irak) yang dipimpin oleh Wasil bin Atho’ (80-131 H) dan Umar bin Ubaid (w. 144 H). Pada permulaan abad ke-3 Mu’tazilah muncul di Baghdad (Irak) yang dipelopori oleh Basyar bin Muktamar. Basyar merupakan salah satu pimpinan Mu’tazilah di Basyrah yang pindah ke Baghdad.

Seperti disebutkan di atas Mu’tazilah pernah memaksakan paham alirannya. Kasus ini terjadi pada penyiksaan ulama penganut Madzab Syafi’i diantarnya, penyiksaan Syaikh Buathi, Pemenggalan leher Imam Ahmad bin Nashir al-Khuza’I; penyiksaan Imam Ahmad bin Hanbal (Pendiri Mazhab Hanbali) dipenjarakan dan dicambuk, Isa bin Dinar dipenjarakan selama 20 tahun; Imam Bukhari lari karena menghindari fitnah dan kejaran penguasa Mu’tazilah. Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah sebagai “Tragedi Qur’an Mahluk”.

Menghadapi tantangan yang sangat menggoncangkan sendi-sendi I’tiqad Islam, maka lahirlah dua ulama dalam bidang Ushuluddin bernama Syaih Abu Hasan Al Asy-ari (260 H/935 M) di Basyrah (Irak) dan Syaih Abu Mansur al-Maturidi (238 H/852 M.) lahir di Maturid, dekat Samarkand (Asia Tengah).

Kemudian dua tokoh inilah yang dikenal sebagai pembangun Paham Ahlussunah. Dengan ajarannya yang lebih mengedepankan dalil naqli daripada dalil aqli. Paham inilah yang kemudian merespon (mencoba meluruskan) bentuk pemahaman aliran-aliran pada waktu itu.


DASAR-DASAR AKIDAH AHLUSSUNAH

1. Ilmu Ushuluddin

a. Pengertian Ilmu Ushuluddin

Ilmu Ushuluddin atau biasa disebut sebagai Ilmu Kalam, Ilmu Tauhid, Ilmu ‘Aqaid, Ilmu Sifat Dua Puluh, Theologi. Apapun istilah yang dipakai untuk ilmu ini, maksud dan tujuannya tetap sama yaitu, ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar keyakinan agama Islam (iman), dan segala hal yang berhubungan dengan iman, diantaranya sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah, dan sifat wajib jaiz, mustahil bagi para Rasul dan lain-lain.

b. Menfaat Mempelajari Ilmu Ushuluddin

Sesuai hukum akal sehat, mendalami segala sesuatu yang berupa ilmu, pasti akan menimbulkan hukum manfaat. Demikian juga dengan ilmu Ushuluddin, mempelajari ilmu ini, akan memberi manfaat kepada kita berupa:
Pertama, akan membuahkan keyakinan yang mendalam terhadap Allah SWT, sehingga dapat membebaskan manusia dari belenggu materi yang melalaikan, misalnya penyembahan terhadap kekuasaan, uang dan lain-lain. Membebaskan belenggu praktek kepercayaan yang menyesatkan. Seperti praktek sesajen yang diperuntukkan kepada ruh-ruh yang diyakininya.

Kedua, dengan keyakinan yang mendalam, akan mendorong kita melakukan kebaikan dan menjauhi larangan. Misalnya, mengerjakan amal ibadah, karena kita yakin akan adanya hari pembalasan.

2. Iman

a. Pengertian Iman

Iman secara bahasa (lughat) berasal dari bahasa Arab dari kata dasar (Madly) aamana, yang mengambil bentuk masdar iimaanan yang berarti, membenarkan dan mempercayakan. Iman secara Istilah berarti, percaya sepenuh hati kepada semua yang telah disampaikan oleh para Rasulullah, yang berupa hukum, perintah, larangan, khabar dan janji.

b. Kategori Iman

Iman sebagai bentuk keyakinan yang tulus tidak hanya terbatas kepada keyakinan kepada Tuhan semata, tetapi iman merupakan bentuk keyakinan yang meliputi sebagai berikut:

1. Keyakinan terhadap Tuhan yang Esa dengan beberapa kesempurnaan sifat-Nya, keyakinan ini biasa disebut sebagai I’tiqad Ilahiyyat (I’tiqad Uluhiyyat).

2. Keyakinan yang berhubungan dengan kenabian biasanya disebut sebagai I’tiqad Nubuwwiyat (I’tiqad Nubuwwat).

3. Keyakinan yang berhubungan dengan Alam Ghaib (metaphysic) disebut sebagai I’tiqad Ghaibaat.

c. Syarat Sahnya Iman

Adapun syarat sahnya iman dalam ajaran Ahlussunah, dikenal sebagai penyerahan dengan ketulusan hati terhadap segala ketentuan hukum Allah SWT.

d. Batalnya Iman

Pertama, akan membebaskan manusia dari belenggu materi yang melalaikan dan Membebaskan belenggu praktek kepercayaan yang menyesatkan. Seperti kepercayaan animisme, dinamisme, totemisme dan lain-lain.

Kedua, dengan keyakinan yang mendalam, akan mendorong kita melakukan kebaikan dan menjauhi larangan, Misalnya, mengerjakan amal ibadah, karena keyakinan akan adanya hari pembalasan.

e. Rukun Iman

Di antara ajaran akidah Ahlussunah yang berhubungan dengan keyakinan (iman) digariskan dalam 6 rukun diantaranya:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Malaikat-malaikat Allah

3. Iman kepada Kitab-kitab Allah

4. Iman kepada Utusan-utusan Allah

5. Iman kepada Hari Kiamat

6. Iman Kepada Qadla dan Qadar Allah.

Beberapa Rukun Iman di atas didasarkan kepada Hadis Nabi Muhammad SAW:

“Maka beritahulah kami (ya Rasulullah) mengenai iman. Nabi menjawab: engkau mesti percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir (Qiamat) dan Qadar (nasib baik dan buruk dari Allah)”. (HR. Imam Muslim).

1. Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah, merupakan dasar keyakinan absolut (mutlak) bagi kehidupan setiap muslim. Dengan percaya dan yakin kepada Allah swt. Kita akan selalu percaya diri dalam berpijak, karena kita merasa dinangi dalam limpahan kasih-sayang-Nya. Serta kita tidak merasa sombong dengan hasil-hasil yang kita usahakan, karena semuanya tidak terlepas dari limpahan Rahmat-Nya. Adapun bentuk iman kepada Allah kita mesti:

a. Mengakui Adanya Allah

b. Mengakui ke-Esaan Allah

c. Mengakui ke-Sempurnaan Allah

Menyakini adanya Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, dapat kita buktikan dengan melihat alam seisinya. Tak mungkin keberagaman alam terwujud dengan sendirinya tanpa ada yang mewujud-kan, dan satu-satunya yang mewujudkan adalah Allah. Jadi keberadaan alam semesta ini menunjukkan kepada keberadaan alam semesta ini menunjukan kepada keberadaan Allah. (Ri’ayatul Himmat: Kor. 5).

Sumber: H. Ahmad Syadzirin, Ilmu Ushuluddin, Yayasan Badan Wakaf Rifaiyah.

Sumber:tanbihun.com/usulidin/aqidah-ahlussunah-dalam-ilmu-ushuluddin/


Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)