
Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.
Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do
Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment
America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure
If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot


Menyatakan segala sifat dan kelakuan perempuan yang beruntung mendapat keredho’an Alloh Subhanahu Wata’ala, maka sesungguhnya tiada ada suatu keuntungan pada manusia yang seperti mendapat keredhoan Alloh kepadanya. Inilah nikmat yang paling besar dan hal yang paling mulya, maka inilah pangkat derajat yang paling tinggi.
Adapun sifat kelakuan perempuan paling beruntung dengan kemuliaan itu ialah ;
Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :
“Aqrobu maa takunul mar-atu min robbiha iza kanat fii qo’ri baytiha”.
Artinya :
Yang paling dekat seorang perempuan kepada keredho’an Tuhannya ialah apabila ia berada didalam rumahnya.
Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :
“Wainna sholataha fii shohni dariha afdholu min sholatiha fil masjidi washolatuha fii baitiha afdholu minsholatiha fii shohni dariha washolatuha fii mahdi’iha afdholu min sholatin fii baytiha”.
Artinya :
Sesungguhnya hanya sholat perempuan di latar rumahnya lebih afdhol dari sholatnya di masjid, dan sholatnya di dalam rumahnya lebih afdhol dari sholat di latar (halaman) rumahnya, dan sholat di kamar rumahnya lebih afdhol daripada sholat di dalam rumahnya.
Sebagai lagi telah bertanya Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam kepada anaknya Siti Fatimah Rodiallohu ’Anha, ”Betapakah hal yang baik pada perempuan ya Fatimah ?”, maka jawab Siti Fatimah ”Bahwa hal yang baik pada seorang perempuan yaitu yang ia tiada melihat pada lelaki lain, dan orang lelaki itu tiada dapat melihat kepadanya”,
maka Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam sangat bersuka cita hati mendengar perkataan ananda Siti Fatimah, ia lalu mencium kepalanya serta berkata :”Zurriyata ba’dhuha min ba’dhin”
Artinya :Inilah turunan yang mulia dari asal yang mulia.
Sabda Nabi Sallollohu ’Alaihi Wasallam :
Hakkudunia ada qodarnya pada Alloh Ta’ala sekalipun sekedar sayap nyamuk besarnya, niscaya tiada dikasih orang kafir akan minum seceguk airnya,dari karena dunia ini tiada qodarnya pada Alloh Ta’ala maka dijadikannya dunia sebagai surga bagi orang2 kafir.
Adapun bagi orang mu’min kesenangan yang sempurna dan kerajaan besar maka yaitu Insya Alloh Ta’ala di dalam syurganya dengan segala nikmatnya yang kekal selama-lamanya
Adapun yang sesungguhnya dunia ini adalah tempat beramal sholeh, maka bukan untuk tempat bersenang-senang, maka dari itu Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam suka meninggalkan keenakan dunia ini, demikian pula anak-istrinya dan sahabatnya, masing-masing suka memadai barang yang amat sedikit dari hal makanan atau hal pakaian atau perabot rumah tangganya.
Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :
“Maa syabi’a aa-lu muhammadin min hubzisy-sya’iri salasata ayyamin”
Artinya :
Pernah tiada merasa kenyang keluarga Nabi Muhammad Sallollohu ‘Alaihi Wasallam dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut.
Setengah riwayat mengatakan bahwa terkadang dua-tiga hari tiada kelihatannya Asfi, orang yang memasak di rumah Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, melainkan makan seadanya saja yang ada di rumah seperti kurma dan air.
Begitulah kelakuan Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam yang senantiasa, jika ia masuk kerumahnya kalau ada suatu makanan lalu dimakan, dan kalau tiada, ia tiada minta dari istrinya, lalu terus puasa di hari itu juga.
Kata Siti Aisyah Rodiallohu ‘Anha (Istri Nabi) :
“Kanat dhoja’u Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, Allazi yanamu ’alaihi wisadatun min adamin hasy-wuha lifan”
Artinya :
Adalah di tempat tidur Rosululloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam suatu bantal dibuat dari kulit yang isinya daripada sambuk korma.
Sebagai lagi ada pada suatu hari Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam datang ke rumah Siti Fatimah, didapati ia lagi menggiling gandum dengan memakai baju yang dibuat dari bulu onta, hati Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam menjadi sedih melihat kemiskinan Siti Fatimah itu, serta berkata : Hai anakku Fatimah, sabarlah engkau atas merasai sedikit pahit kehidupan dunia, karena sesungguhnya mendapat keenakan yang banyak adalah di akhirat yang kekal selama-lamanya,
maka di waktu itu turunlah Firman Alloh Ta’ala sbb :
“Walasaufa yu’thika robbuka fatardhoo”.
Artinya :
Bahwa sesungguhnya nanti akan diberikan kepadamu ya Muhammad oleh Tuhanmu segala kemuliaan di akhirat, niscaya engkau akan redho’ dan suka hati engkau dan anak buah engkau.
Sebagai lagi dimisalkan orang yang beriman pada hari kemudian dan ia sabar atas kemiskinan dunia serta beramal sholeh dengan mengharap supaya dapat keredho’an Tuhan, dapat kesenangan syurga dan segala nikmatnya, maka adalah ia seperti seorang perempuan yang lagi bikin kue dan membersihkan perabot rumah tangga karena menghadapi hari lebaran, maka engkau dapat lihat sebelum lebaran itu bagaimana ia cape’nya dengan memakai baju terburu-buru tiada meriaskan badan dan bajunya karena arang atau abu dapur.
Semua itu dengan sabar dilakukan karena sedikit hari lagi ia akan dapat merasakan kesenangan dihari raya lebaran dengan pakaian bagus dan makanan yang lezat.
Maka inilah misalnya orang yang beriman didalam sabarnya atas kemiskinan dunia, karena mengharap keredho’an Alloh Ta’ala dan kenikmatan syurga.
Translit Kitab “PERHIASAN BAGUS”
Karya : Syekh Usman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Alwi.
فرهياسن باڮوس
أونتق أنق فرمفوان


Malu ialah sifat yang menghiasi seluruh akhlak dengan sinar dan cahaya. Bagi lelaki, malu adalah sifat terpuji. Sedangkan bagi perempuan, malu adalah fitrah dan watak aslinya. Oleh karena itu, tidak masuk akal jika sampai ada seorang perempuan (apalagi muslimah) yang tidak memiliki rasa malu, kecuali jika ia ingin menjadi sumber kebencian dan kejengkelan orang.
Abu Qasim Al-Junaid menuturkan, “Malu adalah menyadari kesenangan-kesenangan (kenikmatan-kenikmatan) dan melihat kelalaian (kekurangan) yang pada akhirnya melahirkan sebuah keadaan yang disebut malu kepada Yang Memberi Nikmat.” Dan malu yang alami adalah perasaan malu seorang anak kecil jika ada yang melihatnya telanjang, memerahnya wajah orang yang bermoral saat mendengar perkataan jorok.
Malu karena iman adalah ekspresi malu sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Junaid di atas, yaitu suatu rasa yang membuat seorang mukmin urung melakukan maksiat karena perasaan serbasalah jika sampai dilihat oleh Allah Swt. Malu pada diri disebut juga dengan nurani dan inilah yang harusnya ada pada setiap diri muslimah. Inilah yang menjadi rahasia sejati kecantikan muslimah sebenarnya. Inilah yang seharusnya menjadi patokan nilai para juri Muslimah Beauty 2011.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, tuturnya, Rasulullah saw. bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh tigaan cabang, yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan, sedangkan malu adalah sebagian dari iman.”
Bangunan akhlak hanya bisa berdiri kokoh di atas pondasi iman yang telah mengeras dalam jiwa, memnuhi hati, dan menguasai rasa. Rasa malu adalah penghias dan ikon bangunan tersebut yang selalu disandingkan dengannya. Jika tidak ada rasa malu maka tidak ada pula iman dan akhlak. Malu disebut sebagai bagian dari iman karena keduanya sama-sama menganjurkan kebaikan dan menghindarkan keburukan.
Kebalikan dari malu adalah cabul. Cabul adalah kejorokan dan berangasan dalam berbicara atau berbuat. Muslimah tidak mungkin berbuat keji, berkata jorok, kasar, ataupun berangasan karena semua ini adalah sifat-sifat ahli neraka. Sementara itu, seorang muslimah adalah ahli surga, insya Allah, sehingga ia pun tidak akan bersifat cabul dan berangasan.
Salman Al-Farisi memahami dan memaknai rasa malu dengan ungkapan, “Sesungguhnya jika Allah Swt. ingin membinasakan seorang hamba maka akan dihilangkan-Nyalah rasa malu darinya. Jika telah dicabut rasa malu, dirinya akan terlihat memuakkan dan dibenci sehingga tercabutlah sifat amanah, lalu dirinya akan terlihat sebagai pengkhianat dan dicabutlah rahmat darinya, lalu dirinya menjadi orang terkutuk lagi terlaknat sehinggat dicabutlah simpul Islam darinya.”
Malu adalah akhlak terpuji yang disukai karena Rasulullah saw. sendiri adalah orang yang jauh lebih pemalu daripada gadis pingitan. Jika beliau membenci sesuatu maka akan terlihatlah dari ekspresi wajahnya (HR. Imam Muslim). Itulah hati lembut nan bening yang terpancar pada wajah untuk menjadi indikator bagi manusia sehingga hanya dari perubahan mimik Rasulullah saw., mereka bisa mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik dari perbuatan mereka.
Rasa malu bukanlah penghalang bagi wanita untuk menyuarakan kebenaran, mencari pengetahuan, atau untuk beramar makruf nahi munkar. Rasa malu bahkan tidak menghalangi Ummu Sulaim Al-Ansari untuk belajar agama. Rasa malu adalah mahkota kewibawaan yang membuat orang-orang di sekeliling seorang muslimah menundukkan pandangan, menghormati, menjaga omongannya dengan penuh kesantunan dan kesopanan, serta memperbagus perilakunya dengan penuh khidmat dan penghormatan.
Bagi seorang muslimah, rasa malu itu terealisasi pada empat hal, yaitu gerakan, pandangan, omongan, dan pakaian. Keempat hal inilah yang akan menjaga diri seorang muslimah dari sifat-sifat tercela orang lain yang ada di sekelilingnya. Satu pertanyaan yang patut direnungkan bagi semua muslimah adalah, “Apakah perempuan yang bergerak, memandang, dan berbicara dengan liar itu memiliki sedikit rasa malu? Apakah perempuan yang berpakaian terbuka memiliki rasa malu?”
Semoga kita semua, khususnya para muslimah, masih memiliki rasa malu. Malu bahwa dirinya selalu dipantau oleh Allah Swt. sehingga menjauhi segala maksiat. Rasa malu itulah yang menjadi ciri khas kecantikan muslimah yang sebenarnya.[]
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
ADAB MEMBACA AL-QURAN:
Allah SWT,mengungkapkan dalam Al-Qur’an tentang berbagai nasehat dan perumpamaan,adab,keutamaan dan hukum serta kabar-kabar yang diputuskan oleh manusia tentang orang-orang terdahulu dan kemudian.Di samping itu ,Allah SWT,menyuruh kita memperhatikan dan menjalankan adab-adabnya,Seruhan itu dimaksudkan agar dapat memenuhi hak Al-Quran sebagai kitab suci umat islam yang harus dihormati dan di jungjung tinggi.
Sudah sepatutnya pembaca Al-Quran memelihara etika atau adab disaat membaca Al-Qur’an diantaranya sebagai berikut:
1.Membacanya penuh dengan kekhusu’an dan perenungkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an sedang munajat kepada tuhanya.hal itu berdasarkan firman Allah SWT:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an”.(Q.S al-Nisa’ :82)
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu(Muhammad)yang penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya …. “(Q.S .Shad :29)
2.Mambacanya dalam keadaan berwudh,tempatnya bersih,dan menghadap kiblat.Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW:
‘Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”
3.membersihkan mulutnya dengan mencungkil sisa-sisa makanan disela gigi-giginya lalu bersiwak dengan bagian ujungnya,dimulai dari sebelah kanan mulut dangan niat mengikuti sunnah,dan ketika bersiwak disunah kan mambaca:
Ýa Allah,berkahi aku dalam bersiwak ini,wahai yang Maha Penyayang diantara para penyayang”(al-Tibyan Fi Adab Hamalat al-quran,hal.57)
4.Mambacanya dalam keadaan rendah diri dan berperagai yang lemah-lembut.Imam al-Ghazali dalam ihya Ulumuddin,mengatakan:
“Dan sepatutnya bagi pemangku al_Qur’an bahwa dia bersikap lemah-lembut,tidak sepatutnya bersikap kasar,berdebat,teriak,menjerit,dan judes.”
5.Pembaca al-Qur’an maupun pendengarnya menyedihkan hatinya dan menangis.hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw:
“Sesungguhnya al_quran itu diturunkan dengan kesedihan ,apabila kalian membacanya maka bersedih hatilah kalian”.
Dan sabda Nabi saw:
“Bacalah olehmu akan Al-Qur’an dan menangislah,maka jika tidak dapat menangis matamu,maka menagislah hatimu.”(H.R. Ibnu Majah).
6.Jika ingin memulai membacanya,haendaklah di awali dengan membaca isti’adzah(Ta’awud) yaitu;
ﹶﺃ ُﻮ ﹸ ﺑﹺﺎﷲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸْﻴﻄﹶﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟْﻴﻢ
“aku berlindung kepada Allah dari godaan setan terkutuk.”
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabilah kamu ingin mambaca Al-qur’an,maka minta perlindungan kepada Allah dari setan terkutu.”(Q.S.an-Nahl : 98).
7.disunahkannya berdoa sesudah khatam Al-Qur’an berdasarkan apa yang terdapat dalam kitab musnad Imam al-Darimi melalui Humaid al-A’raj r.a., yang mengatakan:
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an kemudian berdoa,maka doanya diamini oleh empat ribu malaikat.”
Diriwayatkan oleh al-hakim Abu abdillah al-Nasaburi,bahwa Abdullah ibn Mubarak r.a.,apabila mengkhatamkan Al_Quran,maka sebagian besar oanya untuk kaum muslimin,mukminin dan mukminat.
Dan di antara yang wajib memberikan perhatian dalam penghormatan kepada Al-Qur’an dari perkara-perkara yang telah manganggap remeh oleh sebagian pembaca Al-Quran yang lalai,seprti tertawa,menghisap rokok,dan selain dari pada itu.
“Ya Allah,jadikanlah kami daripada orang yang mendengarkan perkataan yang baik,lalu kami mengiguti perkataan yang baik itu.Ya Allah,baikilah hati kami hilangkanlah kejelekan kami,bimbinglah kami dengan jalan terbaik,hiasilah kami dengan ketakwaan,kumpulkan bagi kami kebaikan akhirat dan dunia dan karuniailah kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau menghidipkan kami Semoga rahmat Allah tercurahkan atas junjungan kami nabi Muhammad,Keluarganya,dan para Sahabatnya.Segala puji bagi allah Tuhan Semesta alam.’
KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN:
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
۞“لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sembahyang dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terangterangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Al-Bukhari)
“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)
“Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
“Barangsiapa membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.” (Riwayat At-Tirmidzi)
Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:
“Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi)
“Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (Riwayat Tirmidzi)
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I)
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)
Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Imam An-Nawawi
…….
Para fuqoha telah bersepakat bahwa membaca Al Qur’an lebih utama daripada dzikir-dzikir maupun wirid-wirid lain yang dikhususkan pada suatu masa atau tempat tertentu, sebagaimana ditunjukkan oleh al qur’an maupun sunnah.
Diantaranya firman Allah swt :
إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya : “Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra : 82)
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : “Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr : 21)
Adapun diantara dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah saw :
Sabda Rasulullah saw,“Orang yang mahir dalam Al Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci. Dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Sabda Rasulullah saw,“Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Sabda Rasulullah saw,“Dikatakan kepada para pembawa al Qur’an : baca dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau telah mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad)
Namun para ulama berbeda pandapat tentang perbedaan keutamaan diantara ayat-ayat Al Qur’an :
Jumhur ulama berpendapat bahwa sebagian surat dan ayat didalam Al Qur’an lebih utama dari sebagian yang lain berdasarkan nash-nash yang ada, diantaranya sabda Rasulullah saw,”Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan pada waktu malam hari dan tidak satupun seperti ayat-ayat itu? Qul A’udzu birobbil falaq dan Qul A’udzu birobbin naas.” (HR. Muslim)
Sabdanya saw, ”Sesungguhnya satu surat didalam Al Qur’an yang terdapat didalamnya 30 ayat dapat memberikan syafaat bagi sseseorang sehingga dia diampuni (dosa-dosanya), yaitu surat Tabarokalladzi biyadihil mulk’ (Al Mulk).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Sementara Malik, Abul Hasan al Asy’ariy, Ibnu Hibban, Yahya bin Yahya dan al Qodhi Abu Bakar al Baqilani berpendapat bahwa tidak ada didalam Al Qur’an satu (ayat atau surat) yang lebih utama dari yang lainnya karena seluruhnya adalah perkataan Allah swt lalu bagaimana sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lainnya? Bagaimana bisa sebagiannya lebih mulia dari sebagian lainnya? Dan agar tidak membuat bingung adanya yang dilebihkan berarti mengurangi kelebihan yang lainnya, untuk itu Imam Malik memakruhkan mengulang-ulang bacaan suatu surat sementara tidak pada surat yang lainnya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 11634)
Banyak sekali kitab-kitab yang mengulas tentang keutamaan membaca Al Qur’an ini dikarenakan banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut baik dalil-dalil yang bersumber dari Kitabullah maupun hadits-hadits Nabi saw.
Diantara keutamaan-keutamaan lainnya yang disebutkan oleh asy Syeikh al Imam Abul Fadhl Abdurrahman bin Ahmad bin al Hasan ar Roziy al Muqri’ didalam kitabnya “Fadho’ilul Qur’an” adalah :
1. Keutamaan Al Qur’an dibandingkan perkataan-perkataan lainnya :
Sabda Rasulullah saw,”Keutamaan firman Allah azza wa jalla dibandingkan seluruh perkataan bagaikan keutamaan Allah dengan selain-Nya (makhluk-Nya.” (HR. Ad Darimi)
2. Al Qur’an lebih dicintai Allah swt daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya.
Sabda Rasulullah saw,”Al Qur’an lebih dicintai Allah daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya.” (HR. Ad Darimi)
3. Al Qur’an adalah cahaya ditengah kegelapan
Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi)
4. Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah swt
Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
5. Mereka adalah sebaik-baik umat.
Sabda Rasulullah saw,”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori, Abu Daud dan tirmidzi)
6. Mereka diberikan apa-apa yang diberikan kepada para nabi kecuali wahyu
“Pada hari kiamat didatangkan para pembawa Al Qur’an lalu Allah azza jalla berkata,’kalianlah wadah perkaan-Ku (Al Qur’an) maka aku berikan kepada kalian apa-apa yang Aku berikan kepada para nabi kecuali wahyu.” …… (Fadhoilul Qur’an hal 9 – 11)
Wallahu A’lam
Pentingnya Tholabul Ilmi……..!!!
Untuk melaksanakan sesuatu amal ibadat dengan baik, sempurna dan yakin benarnya, Ilmu adalah tersangat penting dan menjadi keutamaannya seperti Firman Allah Taala yang bermaksud;.
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan juga supaya orang-orang yang beroleh ilmu mengetahui bahawa ayat-ayat keterangan itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya, sehingga tunduk taatlah hati mereka mematuhinya; dan sesungguhnya Allah sentiasa memimpin orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus. (Al-Haj : 54)
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, mengetahui (dengan yakin, bahawa keterangan-keterangan) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (mengenai hari kiamat dan lain-lainnya) itulah yang benar serta yang memimpin ke jalan Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Terpuji. (Saba-6)
Mu’adz bin Jabal r.a berkata ;
Belajarlah ilmu kerana ;
belajar itu hasanat (kebaikan) dan
mencari ilmu itu ibadat, dan
mengingatinya sama dengan tasbih, dan
menyelidikinya sama dengan jihad, dan
mengajar kepada yang tidak mengetahui itu sedekah, dan
memberikannya kepada yang berhak (ahli) itu taqqarub (mendekatkan diri dengan Allah),
sebab ilmu itu jalan untuk mencapai tingkat-tingkat ke syurga. Dan
ia yang menjinakkan (menghibur) sewaktu bersendirian dan
kawan dalam pengasingan, dan
kawan dalam kesepian, dan
penunjuk jalan kesenangan,
penolong menghadapi kesukaran, dan
keindahan di tengah-tengah kawan, dan
senjata untuk menghadapi musuh.
Allah meninggikan derajat beberapa golongan dengan ilmu itu sehingga dijadikanya pimpinan yang dapat diikuti jejak mereka, ditiru perbuatan mereka,
Malaikat suka berkawan dengan mereka, dan mengusap-usap mereka dengan sayapnya dan didoakan oleh semua benda basah maupun yang kering, dan ikan-ikan di laut dan semua serangga, dan binatang-bintang buas di darat dan laut dan semua ternak.
Sebab ilmu itu dapat menghidupkan hati dan kebodohan dan
pelita dari kegelapan dan
kekuatan dari segala kelemahan dan
alat untuk mencapai derajat abrar dan yang baik-baik di dunia dan di akhirat.
Dan memperhatikan ilmu itu menyamai puasa, sedang
mengingat-ingatinya menyamai bangun malam dan
dengan ilmu tersambung hubungan kerabat,
dan dikenal halal dari haram, dan
ilmu itu penuntun amal, sedang amal tetap menjadi pengikutnya dan
ilmu itu diberikan Allah kepada orang-orang yang akan bahagia dan diharamkan dari orang-orang yang celaka dan rugi.
Untuk itu, menuntut ilmu adalah merupakan perkara yang menjadi kemestian bagi siapa saja, kerana dengan ilmu yang shohih sajalah syariat dapat ditegakkan, dan dengan ilmu yang benar sajalah thoriqat dapat diluruskan malahan dengan ilmu makrifat sajalah hakikat dapat didirikan.
Benarlah kata orang-orang Sufi;
Hakikat tidak akan muncul sewajarnya jika syariat dan thoriqat belum betul lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan betul jika pena tidak betul keadaannya.
My site is worth
$269.8
Your website value?
























Now You are invited to add your site link ! Get free link traffic without registering and sending form email.
best diet pills
