Seloka Menutup Aurat

Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2012

Sukses Dunia Bukan Ukuran Sukses Akhirat

Tidak selamanya Sukses secara Duniawi bisa dijadikan untuk ukuran Sukses kita kelak di Akhirat,tetapi seharusnya ketika kita telah sukses secara Duniawi akan dapat dengan mudah menempuh jalan-jalan kesuksesan hidup kita kelak di Akhirat, tapi ternyata tidak sedikit orang yang sukses Dunianya semakin terpuruk kehidupan Akhiratnya, semoga kita bukan termasuk orang yang demikian.

Ada dua orang laki-laki bersaudara. Mereka sudah yatim piatu sejakremaja. Keduanyabekerja pada sebuah pabrik/perusahaan.

Mereka hidup rukun, dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-harisemaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, Mereka acapkali harus berjalan kakiuntuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknyasekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejekiuntuk membeli sebuah mobil supaya dapatdipergunakan untuk sarana angkutan dia danadiknya, bila pergimengaji. Allah mengabulkannya,jabatannya naik dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuahmobil dapat diamiliki. Dia mendapatkanbonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istriyang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sangkakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turutsang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain.Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalammendekatkan dirikepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkansemua do'anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahansama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalanorang tuanya yang dulu dia tempati bersamadengan Kakaknya.Namun karena kakaknya sangat sibuk denganpekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya.Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a,menandakan adiknya tidak pernah hafalbacaan untuk berdo'a.

Lalu datanglah iakepada adiknya untuk menasehati adiknya supaya selalu berdo'akepada Allah danberupaya untuk membersihkan hatinya, "Dik, sesungguhnya ketidak mampuan kita menghafal quran, haditsdan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.."

Sang adik Mengangguk,hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukursekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknyaatas nasehat itu.

----

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sangkakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahanpada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggaldalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak kemudianmembereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai denganamanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid.

Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipatdalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranyaAl-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat dan adakalimah di akhirdo'anya:

"Ya, Allah. tiadasesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlahsegala do'a kakak ku, Jadikan Kakakku selaludalam lindungan dan cinta-Mu,Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakkudidunia dan akhirat.,"

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya. Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyanaternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Sahabat, kesuksesan yang kita raih harus kita sadari bahwa itu bukan hanya hasil dari jerihpayah dan doa kita sendiri , bisa jadi faktor dari doa orang-orangterdekat dengan kita yang kita sayangi dankita cintai merekaadalah orang tua kita, istri kita, anak-anak kita,tetangga-tetangga kita, karyawan-karyawan kita dan juga orang-orang yang pernah kita tolong.

Kekayaan, kemiskinan,kebaikan, keburukandan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan ataukehinaan seseorang.

Janganlah banggakarena kekayaan dan janganlah putus asakarena kemiskinan..

”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS, al-Hujurat[49]: 13)


Selasa, 06 Desember 2011

Jangan Biarkan Ada Waktu yang Terbuang Sia-Sia


"time is money" mungkin setiap dari kita pernah mendengar pepatah ini . . . waktu adalah uang, ya . . . orang barat biasa menganggapnya seperti itu . . ada juga dari kalangan masyarakat timur biasa menyebut istilah untuk waktu ialah "al-waktu atsmanu minna-d-dzahabi" yang artinya : waktu lebih berharga dari pada emas"


melihat fenomena saat ini hatiku bagai tersayat oleh keadaan . . . bagaimana tidak aku pribadi maupun kebanyakan orang seringkali meremehkan waktu, jika menggunakan rumus hitung-hitungan sejatinya apabila kita menganggap waktu adalah uang kita telah membuang 86400 setiap harinya, jumlah yang lumayan besar untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap kepala. dan apabila terhitung satu tahun maka mendapatkan 86400 x 365 = 31536000 wow . . . angka yang fantastis jika hanya untuk mendapatkan dari waktu. .

sayang berjuta sayang, berapa juta orang yang mengetahui hal ini namun lalai, tidak menyadari telah kehilangan uangnya setiap detik, mungkin ia menganggap "ah nanti juga bisa" secara tidak disadari kata-kata itulah yang menghambat kita untuk maju, untuk membuat inovasi baru dan untuk menciptakan sensasi yang dapat menjadikan orang lain terkagum-kagum, malahan jika menyia-nyiakannya yang ada hanya penyesalan yang mendalam dan membuat kita seperti orang yang tertinggal oleh peradaban modern.

tujuan penulis adalah agar kita bersama menyadari betapa pentingnya waktu yang diberikan oleh-Nya untuk kita, mencoba merancang kembali alur kehidupan agar teratur dan selalu berusaha istiqomah dalam menjalaninya serta tetap bekerja keras disegala suasana hati, karena perlu disadari juga bahwasannya suasana hati adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan kita, jika sedang dalam keadaan senang rasanya semangat itu tidak akan pernah pudar, namun jika sebaliknya akan terasa bahwa dunia hanya sebaga beban. oleh karenanya kita harus selalu memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan ketegaran dan kekuatan untuk tetap dapat beristiqomah menjalankan segala hal positif yang ada di depan kita . . .

bismillah . .

Selasa, 15 November 2011

Menjadi Orang yang Bersyukur

Sahabat Umar bin al-Khaththab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar hal itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur” (Saba’:13), makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.”
Dalam pandangan Sayid Quthb, ayat “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah SWT dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah SWT yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Allah berfirman, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”. Oleh karenanya, sungguh sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Ibnu Qudamah yang menyatakan bahwa “Makhluk ini tidak mau mensyukuri ni’mat karena dua hal pertama kejahilan dan kedua kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka untuk mengetahui nikmat. Karena tidak tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui adanya nikmat . Jika pun mereka mengetahui nikmat, mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dengan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur sesungguhnya adalah mempergunakan nikmat pada jalan ketaatan kepada Allah SWT.”

Kemudian Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan. Adapun bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh, seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.

Ibnul Qayyim menambahkan: “Syukur termasuk kedudukan yang paling tinggi dan lebih tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dalam syukur karena mustahil syukur ada tanpa ridha.” Hal ini bisa diteladani dari sebuah Hadits yang diriwayatkan Aisyah ra. Aisyah ra meriwayatkan, “Nabi SAW bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan yang demikian padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?’”

Terlepas dari pengertian dan pemahaman masalah syukur di atas, walau terasa sulit – sebab sudah di nash dalam KitabNya, walau terasa berat – sebab harus melewati tiga tahapan secara lahir dan batin, rasanya tak pantas jika kita menyerah dalam berjuang menjadi hamba yang penuh kesyukuran. Dan setidaknya ini bisa dimulai dengan sering memanjatkan doa meminta pertolongan kepada Allah agar menjadi hamba yang bersyukur. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra., Beliau bersabda“Hai Muadz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah


Peliharalah Rasa Malumu!

Bismillahi rahman ni rahim... (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)


Seorang teman, sedang memamerkan foto bersama sang kekasihnya di laman Facebook dan jejaring sosial. Foto-fotonya yang nampak mesra ditampilkan begitu sangat terbuka dan bisa dilihat atau diakses pihak lain. “Aku jika punya pacar selalu aku publish, “ ujarnya suatu ketika ditanya alasannya. Padahal, mereka belum terikat sebagai pasangan suami istri yang sah.

Suatu kali seorang pejabat tinggi di Jawa Timur pernah berangkat haji dengan rombongan besar. Bersama istri, anak, keluarga dan kerabatnya mengunjungi tanah suci, ia tanpa malu menggunakan fasilitas negara yang diambil dari pajak rakyatnya. Di TV masyarakat sering menyaksikan, di ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong. Sebagian sering menguap karena ngantuk, bahkan ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal digaji besar dari uang rakyatnya, namun ia tak merasa malu disaksikan jutaan orang.

Masih di TV, seorang terdakwa koruptor kelas kakap, yang telah menilap dan merugikan uang negara masih bisa tersenyum ketika para wartawan TV menyorot wajahnya.

Di akhir zaman seperti ini, istilah malu mungkin hanya slogan. Orang yang masih memiliki rasa malu mungkin sangat langka. Yang ada justru sebaliknya. Yang dapat kita jumpai di hampir semua lapisan sosial, baik, individu, keluarga, masyarakat atau institusi sosial atau dalam hidup bernegara.

Tiap hari, kita disuguhkan dengan cerita, pemandangan dan laporan yang seolah telah menguras habis naluri dan perasaan kita.

Karyawan yang sudah memiliki pasangan suami-istri tugas berdua dengan teman sekantor, kakek melecehkan cucunya, ayah menghamili anaknya, kakak berselingkuh dengan adik iparnya, Bupati atau mantan ketua organisasi besar melakukan korupsi, anak-anak para pejabat mabuk harta ketika orang tuanya sedang berkuasa, para penegak hukumnya mudah disuap, semua telah ada nyata di depan mata kita.

Boleh dikata, kejahatan moral berjalan secara sistematis dari kamar-kamar keluarga hingga ke ruang-ruang Istana.


***

Rasa malu (al haya’) dalam Islam adalah salah satu cabang iman.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Muhammad mengatakan,
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha illallah’ (tauhid), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” [HR. Bukhari, Muslim]

Dari sa’id bin Zaid ra bahwa seorang lelaki berkata:
“Wahai Rasulullah berilah aku wasiat. Rasulullah saw bersabda: “Aku berwasiat kepadamu agar kamu malu kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada seorang lelaki shaleh dari kaummu”. [Al-Zuhd, Imam Ahmad hal: 46 dan Al-Syu’ab karangan Al-Baihaqi : 6/145-146 no: 7738]

Al-haya’, sangat berbeda dengan pengertian malu dalam kamus umum atau kamus psikologi yang mengambil istilah dari Barat, di mana mengartikan malu sebagai sesuatu rasa bersalah.

Al-haya’ adalah malu yang didorong oleh rasa hormat dan segan terhadap sesuatu yang dipandang dapat membuat dirinya terhina atau melanggar prinsip syariat. Jika seseorang hendak melakukan sesuatu perbuatan tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena terdapat akibat jelek yang bisa menurunkan harkat dirinya dimata orang yang dihormati, maka dia telah memiliki sifat Al-haya’.

Dalam Islam, rasa malu termasuk dalam katagori akhlaq mahmudah (akhlaq terpuji). Karena itulah Nabi mengatakan, malu adalah sebagian dari iman. Rasulullah mengatakan, “Seseorang tidak akan mencuri bila ia beriman, tidak akan berzina bila ia beriman.” Bahkan Rasulullah juga menjelaskan qalilul haya’ (sedikit dan kurangnya malu), menyebabkan nilai ibadah menjadi hilang dan hapus.

Dalam kajian akidah-akhlaq malu itu dibagi tiga. Pertama, malu terhadap diri sendiri. Merasa malu bila tidak menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan Allah swt. Kedua, malu terhadap masyarakat. Merasa malu bila melakukan kemaksiatan atau kemungkaran. Ketiga, malu kepada Allah. Di manapun kita berada, kita malu tidak menaati-Nya. Sebab di manapun semua kita yakin Allah pasti melihat dan mengawasi hamba-Nya.

Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy dalam kitabnya “Al-Haya’ ” (Rasa Malu) mengatakan, di antara sifat terpuji yang diseru oleh syara’ adalah sifat malu.
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: “Dan akhlak malu ini termasuk akhlak yang paling baik mulia, agung., lebih banyak manfaatnya, sifat ini merupakan sifat khusus bagi kemanusiaan, maka orang yang tidak memiliki rasa malu berarti tidak ada bagi dirinya sifat kemanusiaan kecuali dagingnya, darahnya dan bentuk fisiknya. Selain itu, dia tidak memiliki kebaikan apapun, dan kalaulah bukan karena sifat ini, yaitu rasa malu maka tamu tidak akan dihormati, janji tidak ditepati, amanah tidak ditunaikan dan kebutuhan seseorang tidak akan pernah terpenuhi, serta seseorang tidak akan berusaha mencari sifat-sifat yang baik untuk dikerjakan dan sifat-sifat yang buruk untuk dijauhi, aurat tidak akan ditutup dan seseorang tidak akan tercegah dari perbuatan mesum, sebab faktor utama yang mendorong seseorang melakukan hal ini baik faktor agama, yaitu dengan mengharapkan balasan dan akibat yang baik (dari sifat yang mulia ini) atau faktor duniawi yaitu perasaan malu orang yang melakukan keburukan terhadap sesama makhluk. Sunnguh telah jelas bahwa kalaulah bukan karena rasa malu terhadap Allah, Al-Khalik dan sesama makhluk maka pelakunya maka kebaikan tidak akan pernah tersentuh dan keburukan tidak akan pernah dijauhi…..dan seterusnya.” [Dikutip dari kitab Al-Haya’ Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy, dari Darus sa’adah, Ibnul Qoyyim halaman: 277 di kitab: Nudhratun Na’im: 5/1802]

Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda:
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang menampakkan kemaksiatannya, termasuk menampakkan kemaksiatan adalah bahwa seseorang berbuat mesum pada waktu malamnya lalu pada waktu paginya padahal Allah telah menutupi kemaksiatannya, namun dia mengatakan: Wahai fulan tadi malam aku telah berbuat ini dan ini, kemaksiatannya telah ditutupi oleh Allah lalu pada waktu pagi dia menyingkap apa yang telah disembunyikan oleh Allah”. [Hadist Shahih Bukhari]

Mereka ini mendapatkan bagian dari apa yang disebutkan oleh firman Allah swt:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” [QS. Al-Nur: 19]

Jenis Malu
Dalam kitab “Madarijus Saalikin”, Ibnul Qayyim membagi malu menjadi 10 kriteria malu.
Pertama, malu karena berbuat salah, sebagaimana malunya Nabi Adam As yang melarikan diri dari surga, seraya ditegur oleh Allah SWT: “Mengapa engkau lari dari-Ku wahai Adam?” Adam kemudian menjawab: “Tidak wahai Rabbi, hanya aku malu terhadap Engkau.”

Kedua, malu karena keterbatasan diri seperti malunya para malaikat yang senantiasa bertasbih siang dan malam. Pada hari kiamat mereka berkata: “Maha suci Engkau, kami tidak menyembah kepeda-Mu sebenar-benarnya.”

Ketiga, malu karena ma’rifah yang mendalam kepada Allah SWT karena keagungan Allah SWT atas seorang hamba seperti malunya Nabi Nuh As ditegor Allah karena meminta keselamatan anaknya yang kafir.

Keempat, malu karena kehalusan budi, seperti malu Rasulullah Saw kepada para Sahabat dalam walimahnya dengan Zainab.

Kelima, malu karena kesopanan, seperti Ali bin Thalib malu bertanya kepada Rasulullah tentang hukum madzi.

Keenam, malu karena merasa hina kepada Allah SWT, seperti malunya para Rasul ulul azhmi untuk meminta syafaat kubra di padang mahsyar karena kebijakan / kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Ketujuh, malu karena cinta kepada Allah SWT, bahkan ketika sendirian tidak ada seorangpun, sehingga ia selalu melakukan muraqabah, seperti kisah Nabi Musa As untuk tidak mandi dalam keadaan telanjang.

Kedelapan, malu karena ‘ubudiyah yang bercampur antara cinta, harap, dan takut. Seorang hamba akan malu karena yang disembahnya terlalu Agung padahal dirinya terlalu hina, sehingga mendorongnya untuk selalu ibadah.

Kesembilan, malu karena kemulian seorang hamba yang wara’ dan muru’ah sehingga biarpun ia telah memberi dan berkorban dengan mengeluarkan sesuatu yang baik, toh ia masih marasa malu karena kemuliaan dirinya. Seperti malunya Umar bin Khattab melihat kedermawanan Abu Bakar.

Kesepuluh, malu terhadap diri sendiri karena keagungan jiwa seorang hamba atas keridhaan perbuatan baik dirinya dan merasa puas terhadap kekurangan orang lain. Seolah-olah mereka mempunyai dua jiwa, yang satu malu dengan yang lainnya.

Tip Menjaga Sifat Malu
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry r.a dia berkata, Rasulullah SAW bersabda;
“Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.” [HR Bukhori]

Hadits di atas mengisyaratkan bila rasa malu telah hilang dalam hati seseorang, maka dia telah terjerumus menjadi manusia yang hilang akalnya, sehingga berbuat sesuka hatinya tanpa mengindahkan lagi aturan Allah SWT maupun kehormatan dirinya.

Di bawah ini beberapa cara agar sifat malu masih tertanam dalam diri kita.
1. Berdoa tiap saat agar Allah terus memberi hidayah dan taufiq Nya. Serta berharap agar terus-menerus dalam pengawasan dan lindungan Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya.”

Mudah-mudahan diri dan keluarga kita terhindar dari tercabutnya rahmat Allah, sehingga Allah tidak mencabut rasa malu yang kita miliki.

2. Munculkanlah setiap saat perasaan malu jika ingin melakukan hal-hal yang dilarang Allah.
Rasa malu pada sesama akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang buruk dan akhlak yang hina. Sedangkan rasa malu kepada Allah akan mendorong untuk menjauhi semua larangan Allah dalam setiap kondisi dan keadaan, baik ketika bersama banyak orang ataupun saat sendiri tanpa siapa-siapa menyertai.

Hendaklah tertanam setiap saat perasaan malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, setidaknya malu kepada malaikat yang tiap saat mencatat amal pebuatan kita. Jika tidak malu kepada malaikat, malulah kepada manusia, atasan kita, teman-teman kita. Jika tidak malu kepada manusia, malulah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malulah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal meragukan. Namun malu yang benar, pamrihnya hanya kepada Allah, bukan pada yang lain.

3. Pupuklah iman dalam hati dan diri kita. Sebab antara iman dan rasa malu itu saling bergandengan
Nabi bersabda,
“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” [HR. Hakim]

4. Ingatlah kematian jika akan melakukan maksiat
Nabi menjelaskan bahwa tanda memiliki rasa malu kepada Allah adalah menjaga anggota badan agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Mengingat kematian, adalah cara tepat mencegah perbuatan maksiat.

“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu. Barangsiapa malu kepada Allah Azza wajalla dengan sebenar-benarnya malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sesungguhnya ia telah malu kepada Allah Azzawajalla dengan sebenar-benarnya malu.” [HR. at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim].

Semoga, kita termasuk diantara segelintir manusia yang masih memilih rasa malu.

Sumber : http://virouz007.wordpress.com/2010/04/28/peliharalah-rasa-malumu/


Allah berfirman,
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS.Al-Ashr: 1 – 3)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK dan BANTAHLAH mereka dengan CARA yang TERBAIK. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl ayat 125)

"Tidak ada kepada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar."(QS An-Nisa' [14] : 114)

"….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS az-zumar (39) ayat : 9)

"….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-mujadillah (58) ayat 11)

"….Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)…" (QS fathir (35) ayat 28)

Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan." (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

"Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah : Menuntutnya merupakan Ibadah, Mengulang-ngulangnya merupakan Tasbih, pembahasannya merupakan Jihad, Mengajarkannya kepada orang lain merupakan Shodaqoh, menyerahkan kepada ahlinya merupakan pendekatan diri kepada Allah. maka SEMPURNAKANLAH..." (HR. Ibn' Abdil Barr)

"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat." (HR. Al Baihaqi)

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga." (HR. Muslim)

"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun."(HR. Muslim)

"Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan dikalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barang siapa seperti itu, maka baginya neraka... neraka." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau (lebih baik) diam.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

"Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang banyak bertaubat." (HR. Tirmidzi)

"Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit." (HR. Bukhari)

“Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" (HR. Muslim)


"Demi Allah, sesungguhnya berteman dengan suatu kaum yang menakut-nakutimu hingga akhirnya kamu menemukan rasa aman itu lebih baik daripada kamu berteman dengan sekelompok orang yang membuatmu merasa aman, namun akhirnya kamu di kejar-kejar oleh perkara-perkara yang menakutkan." (Imam Ahmad, dalam Kitab Az Zuhd)


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya...
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Minggu, 13 November 2011

Tragedi Asmara

Di suatu negeri tersebutlah seorang pemuda yang tampan dan cakap,dan muslim yang sholeh. Kesehariannya dia sebagai tukang kunci dan tukang pembuat pintu rumah. Pemuda ini hanya hidup berdua dengan ibunya. Mereka sangat bahagia dengan kesederhanaannya.

Seperti hari-hari yang telah lalu, pemuda ini selalu mendapat order dari masyarakat setempat untuk membenahi pintu sekalian dengan memasang kuncinya..kali ini dia dapat job dari seorang bangsawan kaya,,

Dengan semangatnya pemuda ini mendatangi rumah bangsawan tersebut,
“ permisi tuan, tadi tuan memesan saya untuk memperbaiki pintu, mungkin pintu yang mana tuan? Apakah saya bisa kerjakan sekarang?” Tanya sang pemuda kepada pemilik rumah.

“ Oh pintu yang depan ya, silakan di kerjakan sekarang saja, yang penting beres,,saya tinggal dulu sebentar” terang si pemilik rumah.

“Baik tuan.” Jawab pemuda ini dengan sopannya dan dia bergegas mendatangi pintu yang di tunjuk si pemilik rumah dan dengan teliti dia berusaha sebaik mungkin memberi pelayanan yang memuaskan untuk pelanggannya.

“dog dog dog tak tak tak..” suara peralatan pemuda itu yang sedang memperbaiki pintu, dengan konsentrasi penuh agar pekerjaannya cepat selesai.

Tapi tiba-tiba ada sekilas bayangan yang tampak oleh matanya seorang wanita menawan hati. Wanita tersebut sedang mengawasi si pemuda dengan seksamanya. Tampak raut-raut kekaguman di antara ke duanya.

Sungguh hati pemuda begitu takjub melihat kecantikan putri sang pemilik rumah, laksana rembulan di padang ilalang. Sebagaimana kebiasaan bangsa arab bahwa wajah yang nampak dari seorang wanita adalah sebuah fitnah yang terbesar yang membuat hati akan merasa cenderung kepadanya.

Begitu juga wanita ini dia begitu terpesona dengan ketampanan sang pemuda..

Hati mereka seperti terbang bersama angan angan yang tiada hentinya…

Akhirnya pemuda tesebut menyelesaikan pekerjaannya membenahi pintu, setelah mendapatkan upah dari sang pemilik rumah dia segera bergegas pulang.

“ Ya Allah, aku melihat wanita yang bagus perawakannya dan bersih wajahnya, sepertinya aku akan merindukannya” bisik pemuda dalam hatinya ketika dalam perjalanan.

Begitu juga sang wanita, kini pekerjaannya hanya melamun saja di kamar memikirkan pemuda tersebut. “ ternyata hatiku terfitnah dengan pemuda tersebut, apakah dia juga merindukanku ya?.”

“ Duhai engkau hati kemana gerangan membawa cinta yang tiada berujung.

Aku merindukan seseorang tapi aku tak sanggup menerka isi hatinya”

Rindu mereka semakin menjadi-jadi, kekalutan hati yang tak menentu, dan berusaha untuk mengungkapkan isi hati bahwa mereka betul-betul saling mencintai.

“ aku akan menemuinya dan akan ku katakan pada rembulanku”.

Rasa-rasanya beban hati akan menimpa insan yang di rundung ‘isyq. Tapi lihatlah kini aku datang kepadamu dan akan ku katakan dengan keceriaan hati agar engkau tahu jiwa ini begitu memikirkanmu.”

Tapi apa yang terjadi, taqdir Allah berkehendak lain, sebelum pemuda ini mengungkapkan isi hati, sang bangsawan dan keluarganya telah pindah ke sebuah negeri lain.

Maka meranalah hati pemuda ini karena sang pujaan hati makin jauh dari pandangan. Kini ia hanya meratap tentang nasib cintanya. Hari- harinya kini begitu sempit, hanya tangisan rindu yang tak terpendam.

Semakin hari rasa rindu semakin mendalam, dia hanya berpikir bagaimana cara ia tahu kabar sang pujaan hati. Maka dia mendapatkan jawaban yang tepat yaitu dengan menitipkan surat dan kurir ke sahabatnya yang biasa safar ke negeri sang wanita tinggal.

“ Sampaikan surat ini ke fulanah saudaraku, tanyakan kabarnya dan mintalah jawaban dari isi surat ini” pesan sang pemuda kepada sahabatnya yang akan safar.

Akhirnya sahabat ini safar dan menyampaikan surat yang di titipkan kepadanya. Dan begitu sang wanita mengetahui bahwa yang datang adalah kabar dari sang pemuda, dia begitu senang nya. Dan di bukalah surat ini yang berisi tentang ungkapan isi hati sang pemuda. Gayungpun bersambut, wanita ini begitu bahagia dengan apa yang barusan ia baca. Lantas dengan bergegas ia membuat surat balasan tentang jawaban hatinya.

“ sampaikan surat ini dan katakan pada fulan jika kerinduan yang terpendam akan segera terungkap laksana matahari di siang hari”.

Lalu pemuda tersebut pulang dari safarnya dan tidak lupa menyampaikan pesan dan surat dari seseorang.

Sang pemuda kian hari kian rindu akan cintanya setelah dia tahu sambutan cinta dari sang kekasih. Kini dia hanya meratapi nasibnya yang jauh dari sang dambaan hati. Rindunya yang semakin dalam membuat dia tidak bergairah,dia lupa makan, hari-harinya hanya melamun dan melamun hingga diapun terjatuh sakit.. dan sakitnya kian hari kian memburuk.

Ibunya melihat kondisi putranya merasa iba, dia bingung penyakit apa yang menimpa putranya, dia sudah mendatangkan banyak tabib tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Seperti kebanyakan seorang ibu yang begitu sayangnya pada sang anak, dia mencari tahu apa penyebabnya. Lalu dia mencoba mengorek keterangan dari salah satu sahabat sang putra.” Duhai ummu fullan.putramu terkena penyakit aneh,dia tidak akan sembuh karena obatnya begitu susahnya, dia sedang jatuh cinta” itulah jawabam dari sahabat putranya itu.dan banyak hal ihwal lain yang dia ketahuai juga tentang kisah cinta putranya.

Sang ibu yang begitu sayang pada putranya, dan menginginkan kesembuhannya. Dia berusaha menghibur dan menceritakan tentang sang wanita yang di rindukan sang putra dengan tujuan agar sang anak cepat sembuh “ Putraku bagaimana keadaanmu? Ketahuilah si fulanah juga merindukanmu, bersegeralah temui dia…blab bla bla……..” hibur sang ibu dengan cerita yang di buat-buat agar anaknya tambah semangat dan di harapkan cepat sembuh.

Tapi apa yang terjadi, maka makin merindulah pemuda ini, rindunya makin menjadi-jadi bak ulat yang terkena panas matahari di siang hari, begitu rindunya menjadikan kondisi pemuda ini semakin parah sakitnya. Dan hampir-hampir ia sakaratul maut.

Mendengar sang pemuda sakit parah maka sahabatnya yang biasa mengantar surat ini bergegas datang menjenguknya. Sahabat ini merasa iba “ Sahabatku engkau sakit begitu parah, apa yang terjadi gerangan? mungkin aku membantuku?” hibur sahabat.

“ Aduhai cinta kini aku seperti terlilit olehnya, aku tak sanggup menahan perih sebab aku jauh dengan dia, setiap apa yang terpendam dalam beban yang membuat sakit parah tubuh ini tak membuatku jera akan mencintainya, aku akan mendapatkan dambaanku dan aku akan menemuinya.”

“ Bagaimana engkau akan melakukannya teman? Sementara engkau jauh dengannya dan keadaanmu seperti ini.” Tanya sang sahabat.

“ Meski di dunia aku tak bisa bersamanya, dan tidak bisa menemuinya tapi di akhirat aku akan menemaninya.”

“ Karena kami beda keyakinan aku takut akan terpisah dengannya maka Saksikanlah teman! aku akan keluar dari agama Muhammad dan aku akan bersaksi bahwa Isa putra maryam adalah tuhan” maka setelah ia berucap seperti itu, malaikat Izroil mencabut nyawanya. Na’udzubillah min dzalik.

Sahabat dan ibunya tersentak atas kematian putra tercintanya. Hanya tangisan-tangisan ratapan yang tiada henti-hentinya.

Beberapa hari kemudian setelah sepeninggal pemuda ini, maka sahabatnya berinisiatif mengabarkan perihal tentang kejadian pemuda tersebut kepada kekasihnya.

Setelah sampai di negeri tempat tinggal si wanita maka sahabat ini memasuki rumahnya. Tak di sangka ternyata wanita ini juga sedang sakit parah, dan mendekati sakaratul maut juga, akhirnya sahabat ini mengurungkan niat untuk mengabarkan perihal atas kematian sang pemuda. Dia takut jika mengabarkannya nanti hati si wanita bertambah sedih dan sakitnya bertambah parah.

Dengan di antar bapaknya akhirnya sahabat ini memasuki kamar si wanita. Mendekatlah ia, begitu pilunya melihat kondisi wajah wanita yang pucat pasi tak berdaya. “ Bagaimana keadaanmu saudariku? Apa yang menyebabkanmu sakit seperti ini?” Tanya sang sahabat.

“ Sebagaimana siang yang tak pernah ada tanpa mentari, kini setiapaku berhembus nafas wajahnya selalu mengikuti, pengorbanan yang perlu bukti tak semestinya rindu ini menjadikan tepisah dengan sang dambaan, rasa ini ingin selalu bersua dengannya, ingin selalu bersama, aku akan berusaha untuk bersama selamanya”.

“ Duhai saudariku bagaimana engkau akan melakukannya, sementara keadaanmu seperti ini.” hibur sang sahabat.

“ Rindu ini begitu hebatnya, aku tak sanggup berpisah dengannya, meski nyawa kami terjemput malaikat maut, hati kami akan terpaut dan aku yakin kan bersatu dengannya.”

“ Aku ingin bersamanya dan tak akan terpisah dengannya di kemudian hari. Maka saksikanlah !! bahwasanya Isa putra Maryam adalah nabiyullah dan aq bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad bin’Abdullah adalah utusan Allah.”

Maka terkejutlah bapaknya mendengar putrinya mengucapkan kalimat itu lalu dia teriak ke pemuda ini “ Anak kurang ajar ini sekarang menjadi golonganmu, sekarang ambil dan bawa dia!!!”

“ Tunggu bapakku !” si wanita berusaha teriak sambil melambaikan tangannya dengan lemah.

Tapi qodarulllah sepenggal kata itu menjadi ucapan terakhir dari bibir wanita tersebut. Dia meninggal dalam keadaan islam.

Sungguh maha Benar Engkau ya Allah, yang membolak balikkan hati ham-hambaNya. Maka tetapkanlah hati ini agar selalu istiqomah di jalanMu.

Copas dari Karim (Kajian Remaja Muslim di Facebook) By:Abu ‘Abdirrohman Yudha

Ibroh yang dapat kita ambil dari kisah di atas ialah agar kita selalu bertakwa kepada Allah dan menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah sehingga tidak terjerumus kepada ke murkaan Allah. Dan juga perlu kita kethui bahwa Allah memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki.


Rabu, 09 November 2011

POHON IMAN DAN CABANGNYA

Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, dkk:

Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh

Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala yang berlipat.

Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.

Syaikhul Islam menyatakan, “Pokok keimanan itu di dalam hati, dan Iman itu adalah ucapan hati dan amalannya yang ditetapkan dengan pembenaran, kecintaan dan ketundukan. Keimanan yang bersemayam di dalam hati harus menampakkan konsekuensi dan kebutuhannya terhadap anggota tubuh. Jika tidak melaksanakan konsekuensi dan kebutuhannya, menunjukkan ketiadaan atau kelemahan iman.

“Iman itu ada 70 cabang lebih, paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan sifat malu merupakan cabang dari iman”.

(terjemah Hadits Riwayat Imam Muslim no.35,58)

Asyrof (1998) menyatakan:

Sekelompok ulama memaksakan diri untuk menghitung cabang-cabang iman dengan cara ijtihad. Secara hukum hal ini adalah suatu kehendak yang sulit, maka tidak tercela orang yang tidak mengetahui secara rinci tentang berapa batasan cabang keimanan ini. Pun tidak ada kesepakatan para ulama sehubungan dengan rincian tersebut.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran tentang rincian keimanan dan cabang-cabangnya adalah sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Hibban, namun kami tidak mencukupkan dengan keterangan dari pendapat beliau, berikut kami ringkas apa yang mereka sebutkan:

Beliau menyatakan:

“Cabang-cabang iman terbagi menjadi 3 cabang inti:

1. amalan hati

2. amalan lisan

3. amalan badan/ anggota tubuh

Tiga cabang ini terbagi menjadi beberapa cabang lagi.

Cabang iman dari amalan-amalan yang berhubungan dengan hati: adalah berkaitan dengan keyakinan-keyakinan (aqidah-aqidah) dan niat, mencakup 24 macam.

Iman kepada Allah, termasuk: iman terhadap Dzat Allah, sifat-sifat Allah, tauhid/mengesakan Allah bahwa Dialah Dzat dimana tidak ada satupun yang menyerupai-Nya dan meyakini bahwa selain Allah adalah ciptaan-Nya.

Beriman kepada malaikat Allah

Beriman kepada kitab-kitab Allah

Beriman kepada rosul-rosul Allah

Beriman terhadap taqdir Allah yang baik maupun yang buruk

Beriman terhadap hari kiamat, termasuk: pertanyaan malaikat di dalam kubur, adanya hari kebangkitan, hari perhitungan/pembalasan, adanya timbangan amalan, jembatan di atas neraka, beriman terhadap adanya surga dan neraka.

Cinta kepada Allah

Cinta dan benci karena Allah

Cinta kepada Rosulullah disertai keyakinan untuk mengagungkan beliau sesuai kedudukan beliau, termasuk bersholawat atas beliau dan mengikuti sunnah beliau.

Ikhlash, termasuk: meninggalkan riya’ (beramal untuk dilihat orang) dan nifaq (sifat munafiq)

Taubat

Takut akan adzab Allah

Mengharap ridha dan pahala dari Allah

Syukur kepada Allah

Memenuhi janji untuk taat kepada Allah dan yang lainnya.

Sabar

Ridha terhadap ketentuan Allah / takdir Allah.

Tawakal kepada Allah

Kasih sayang

Tawadhu’ hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda.

Meninggalkan perangai sombong dan ujub (ingin dipuji)

Meninggalkan dengki

Meninggalkan perangai marah

Amalan lisan, mencakup 7 macam yaitu:

Melafadzkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah

Membaca Al-Quran

Menuntut ilmu

Mengajarkan ilmu

Berdoa

Berdzikir termasuk istighfar

Menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat/senda gurau.

Amalan badan/anggota tubuh, mencakup 38 macam:

Amalan badan yang berkaitan dengan individu/ pribadi:

Mensucikan diri secara lahir maupun hukum. Termasuk: menjauhi perkara-perkara najis.

Menutup aurat.

Sholat wajib dan sunnah

Zakat.

Berbuat baik terhadap karib/ keluarga dekat.

Derma, termasuk: memberi makan orang lain atau memuliakan tamu.

Puasa wajib dan sunnah

Haji dan umrah

Thawaf

I’tikaf

Berusaha/ mencari mendapatkan malam lilatul qadar.

Hijrah karena ajaran agama, termasuk hijrah dari kampung kesyirikan menuju kampung yang muslim.

Memenuhi nadzar.

Berupaya untuk meraih tingkatan-tingkatan iman.

Membayar kafarat/denda

Amalan badan yang berhubungan dengan ittiba’/mencontoh Rosulullah ada 6 macam:

Berupaya untuk menikah

Melaksanakan hak-hak keluarga (istri, anak dan lainnya)

Berbakti kepada orang tua termasuk: tidak boleh durhaka kepada orang tua

Mendidik anak-anak

Menyambung tali kekerabatan/silaturrahmi

Taat kepada pemimpin

Berlemah lembut kepada orang lain

Amalan badan yang berhubungan dengan kemasyarakatan, ada 17 macam:

Menegakkan kepemimpinan yang adil.

Mengikuti al-jama’ah/kebenaran.

Taat kepada pemerintah muslim.

Mendamaikan antara pihak yang bertikai atau sebagai mediator untuk perdamaian, termasuk: memerangi Khawarij dan para pemberontak.

Tolong-menolong dalam hal yang baik, termasuk: amar-ma’ruf nahi mungkar.

Menegakkan hudud atau hukum-hukum Allah.

Jihad, termasuk berjaga-jaga di perbatasan musuh.

Menyampaikan amanat yang dibebankan kepadanya, di antaranya: membagikan 1/5 dari harta rampasan perang.

Pinjam meminjami dengan orang lain.

Membantu memuliakan tetangga.

Berbuat baik dalam bermu’amalah, termasuk: mengumpulkan harta yang halal.

Menginfakkan harta kepada yang berhak menerima, termasuk: tidak boleh berlebih-lebihan dalam berinfak yang bukan karena Allah.

Menjawab salam.

Mendoakan orang bersin.

Menolak gangguan dari orang lain.

Menjauhi hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Menyingkirkan duri dari jalan.

Keseluruhan jumlahnya adalah 69 cabang iman, bisa juga dihitung menjadi 79 kalau bagian-bagiannya dimasukkan pula.” Wallahu a’lam. (Fathul Bari 1/ 52-53)

Daftar Pustaka:

Perkara Keimanan yang Global dari Pokok-Pokok Aqidah Salafiyyah. Penyusun: Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah, Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. Diperiksa dan Disepakati oleh: Sejumlah Ulama dan Penuntut Ilmu. Diterbitkan oleh: Markaz Imam Albany Divisi Pengajaran Manhaj dan Riset Ilmiah Amman – Yordania 1421 H./2000 M. Dialihbahasakan oleh: Abu Salma bin Burhan al-Atsary. Dikoreksi oleh: Ust. Abu ‘Athiyyah, Lc., M.Ag. Disebarkan oleh :Lajnah Da’wah dan Ta’lim FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya.

At-Taudhihu wa Al-Bayanu li Syajarati Al-Imani, Tafsiruhu…Ushuluhu wa mawaduhu min Ayyi Syai-in Yustamadu Fawa-iduhu wa Tsamaratuhu. Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penyusun: Abu Muhammad Asyrof bin Abdul Maqsud. Penerbit: Adhwa-us Salaf 1419 H/ 1998 M. Edisi Indonesia: Manisnya Buah Keimanan. Penerjemah: Ahmad Khodimul Hannan. Murajaah: Ustadz Usamah Faishal Mahri. Penerbit: Cahaya Tauhid Press, 2004.


Menjaga Kesucian Diri

Bersikap layaknya orang yang mampu menahan rasa marah dan kesal bukan hal yang mudah. Sebab, setiap orang memiliki amarah sehingga mudah sekali terjerat rasa kesal dan marah. Untuk dapat meraih kesucian diri, anda dapat memulainya dari menjaga hati. Sebab, hati adalah sumber untuk merasakan segala macam yang dipikirkan sehingga dapat mejadi pikiran negatif maupun positif.

Karena bisa saja ketika seseorang melihat keberhasilan orang lain wajahnya tampak turut bergembira, tapi di hatinya terbesit rasa dengki. Saat itu kita telah membukakan setan pintu hati untuk digoda agar lupa kewajiban sebagai hamba Allah. Seluruh pikiran terbelenggu untuk selalu melihat orang dengan segala nikmat dan bencana. Ketika orang lain mendapat nikmat, hatinya menjadi gelisah, dan ketika mendapat bencana hatinya gembira di atas penderitaan orang lain. Orang yang dapat menjaga hatinya dari hal-hal demikian, sesungguhnya adalah orang yang berintung. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri. Dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9 - 10).

Hati adalah bagian terpenting dalam tubuh manusia yang harus dijaga. Bila hati tak terjaga, maka akan menimbulkan penyakit. Bila hati telah terkena penyakit, maka kesucian hati akan hilang. Bila kesucian hati telah hilang, maka akan jauhlah manusia itu dari Rahmat Allah. Namun, bila hati terawat kesuciannya, maka manusia tersebut akan terus menerus menebarkan kebaikan kepada sesama. Tetapi, bila hati tak terawat bahkan berkarat, maka akan terlihatlah kelakuan orang itu seperti binatang yang hawa nafsunya lebih mendominasi hidupnya.

Kesucian hati sama artinya dengan terhindar dari segala macam penyakit hati, seperti malas, iri, dengki, keras kepala, dan egois. Mencapai kesucian hati, bukanlah hal yang mudah. Ya, terkadang beberapa orang, membicarakan kejelekan orang lain secara tidak sengaja karena kebiasaan.

Menilai kesucian hati memang dapat dilakukan diri sendiri dengan melatih diri untuk berbuat baik setiap harinya. Misalnya, dengan menyadari segala macam bentuk kesalahan yang dilakukan, dapat membuka pikiran untuk menilai diri sendiri sehingga dapat perlahan-lahan merubah sikap yang tidak baik.

Memang memperoleh kesucian hati bukanlah pekerjaan yang mudah. Hati manusia bagaikan gelombang. Selalu berubah-ubah sesuai kekuatan ketakwaan. Manusia harus melatih hati dengan amal yang mulia. Dalam istilah ilmu tasawuf dikenal dengan istilah mujahadah, dan dalam menjalaninya harus melakukan secara sungguh-sungguh. Dalam hal ini untuk menjaganya diperlukan keluhuruan budi dan akhlaqul karimah.

Sebenarnya ada cara mudah untuk merawat hati. Sering-seringlah berkumpul dengan orang-orang yang shaleh, orang-orang yang selalu menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Membaca Kitab suci al-Quran dan maknanya, rutin melaksanakan shalat malam atau tahajud, memperbanyak berpuasa, bersedekah kepada sesama yang memerlukannya, dan selalu berzikir kepada Allah, pemilik langit dan bumi.

Dalam tindak praktiknya, seperti saat berada di kantor, berkumpul dengan rekan kerja hindari pembicaraan yang tidak baik seperti membicarakan kejelekan orang lain, ataupun bersenda gurau yang menyakti hati lawan bicara. Menyadari hala-hal kecil sperti itu dapat melatih diri untuk melatih kesucian hati. Sebab, pelan-pelan anda akan belajar untuk menjaga mulut dan pikiran serta hati untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti orang-orang.

Demikian pula di rumah tetap menjaga kesucian hati. Rumah sebagai tempat berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, rumah tenteu memiliki peran yang penting. Oleh sebab itu, rumah selalu diisi dengan berbagai macam hal yang menyenangkan. Untuk menjaga hati agar tetap harmonis dan religius, biasanya banyak keluarga mengalunkan musik religi sebagai pengantar momen berbuka puasa. Alunan nada musik religi akan semakin mengena di hati jika keluar dari audio yang berkualitas.

Berikut ini kisah yang dapat dipetik tentang bagaimana peran hati dalam menentukan nasib manusia di akhirat kelak. Suatu hari Rasulullah berkata kepada sahabatnya, kalau kalian ingin tahu calon penghuni surga, lihatlah nanti seorang hamba Allah yang duduk di pojok masjid. Para sahabat dengan rasa penasaran ingin melihat sosok yang digambarkan Rasulullah. Setelah tiga hari diamati, ternyata orang tersebut hanya orang tua biasa tanpa memperlihatkan kelebihan khusus.

Karena penasaran, seorang sahabat sengaja bermalam di rumah Pak Tua itu untuk melihat langsung amalannya yang membuatnya menjadi calon penghuni surga. Setelah diamati, tidak ditemukan sebuah amalan pun yang melebihi amalan sahabat Rasulullah yang lain.

Akhirnya sahabat itu memberanikan diri bertanya, Amalan apa yang menyebabkan engkau dikatakan Rasulullah calon penghuni surga? Pak Tua itu menjawab, “Tidak ada wahai sahabatku, tapi mungkin ada dua hal yang selalu saya lakukan sebelum saya tidur: pertama, sebelum berbaring tidur saya membuang rasa dendam kepada manusia yang menyakiti saya di siang hari; kedua, saya akan memaafkan kesalahan orang lain kepada saya sebelum dia sempat meminta maaf.”

Akhirnya sahabat tersebut yakin bahwa inilah yang dimaksud Rasulullah dengan perbuatan yang membuat seorang manusia masuk surga. Hati yang bersih telah menjadikan diri Pak Tua itu mempunyai kesucian diri. Karena pada hakikatnya, seluruh ibadah dan kewajiban serta larangan Allah terhadap manusia tujuan akhirnya satu, yaitu menjadi manusia yang memiliki hati yang bersih. Dari hati yang bersihlah lahir sifat mulia dan terpuji yang sangat berguna untuk membentuk suatu masyarakat yang harmonis dan aman.


iNner bEauty MusLimAh

Perhiasan Dunia-Akhirat

♥-♥-♥ Wanita sholehah itu aurat di jaga

Pergaulan dipagari

Sifat malu pengikat diri

Seindah hiasan di dunia ini..

Keayuan wanita sholehah itu,

tidak terletak pada kecantikan wajahnya

Kemanisan wanita sholehah itu,

tidak terletak pada kemanjaanya

Bukan pada kemanisan bicaranya yang menggoncangkan iman para muslimin

Bukan dan tidak sama sekali..

Wanita hanya pada akhlaknya

Itupun seandainya hati itu bersih untuk menilai

Wahai wanita Sholehah..

Jangan dibangga dengan kecantikan luaran,

karena suatu hari nanti ia akan lapuk oleh zaman

Tetapi jaga dan peliharalah kecantikan dalam,

agar diri ini bersih dan senantiasa mendapat Rahmat Ilahi

Bersyukurlah diatas apa yang ada,

Serta berusaha demi keluarga, bangsa dan agama….

Malu karena Allah adalah perona pipinya

Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya

Zikir yang senantiasa membaasahi bibirnya adalah lipstiknya

Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat

Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat

Kaki indahnya sellau menghadiri majelis ilmu

Tanganya selalu berbuat baik pada sesama

Pendengaranya yang ma’ruf adalah anting muslimah

Gelangnya adalah tawadhu

Kalungnya adalah kesucian

♥-♥-♥.

Terkadang kita pernah melihat atau berbicara dengan seseorang yang sebenarnya dari penampilan fiziknya biasa-biasa saja, tapi ada aura yang terpancar dari dirinya yang membuat kita merasa tertarik padanya. Nah! Pesona inilah yang disebut dengan Inner Beauty. Menurut buku yang saya baca ini, Inner Beauty adalah suatu kekuatan yang tidak terlihat memancarkan keindahan, karisma seseorang. Tetapi pengaruhnya dapat dirasakan oleh orang lain yang berada disekitarnya dan juga memiliki ketaqwaan kepada Allah. Wanita yang senantiasa memelihara ketaqwaan akan dapat mengalahkan kecantikan yang hanya dimiliki lahiriah saja.

Ciri wanita bertaqwa adalah mencintai Allah dan Rasulnya. menutup auratnya, melakukan ibadah-ibadah sunnah, berdzikir kepada Allah, bergaul dengan orang-orang shaleh, merasa diawasi oleh Allah, mengendalikan hawa nafsu.

Seorang muslimah, dapat memancarkan aura keanggunan fiziknya dari kepribadianya sehingga dapat tampil mempesona. Agar aura kecantikan bisa terpancar, maka diperlukan adanya keseimbangan antara kecantikan fizik dan juga kecantikan batinnya.Bagaimana bisa menampilkan inner beauty? Kunci utamanya adalah harus tampil percaya diri, berfikiran positif, dan tidak menyesali keadaan. Manjaga hati supaya bisa terhindar dari rasa benci, dengki, iri, mencoba untuk menghargai orang lain. Dan yang tidak kalah penting adalah beribadah kepada Allah…sholat dan berdzikir…sholat dan dzikir dapat memberi ketenangan hati yang mampu membuat kita terlihat ceria…sehingga mampu menebar senyum sebagai ibadah…

Lalu bagaimana caranya mengasah inner beauty tersebut?

# Berfikiran Positif

Berfikir positif pada diri sendiri dan juga pada orang lain. Muslimah yang berfikiran positif diyakini dapat membuat wajah lebih bersinar karena yang ada di dalam hati dan pikiran terpancar melalui wajah dan mata. Jangan menyesali kekurangan diri, lebih baik berfikir bahwa manusia memiliki kekurangan dan juga kelebihan.

# Rasa Syukur

Rasa syukur juga membuat kita terhindar dari penyakit hati. Bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan karena pada dasarnya Allah sudah menciptakan fisik kita sedemikian sempurnanya. Rasa syukur akan membuat batin terasa lebih tentram. Biasakan juga untuk mengulurkan bantuan dengan ikhlas bagi orang yang membutuhkan.

# Mengasah Kemampuan Intelektual

Dengan wawasan serta pengetahuan yang luas akan membuat wanita muslimah memiliki nilai tambah tersendiri.

# Hal yang tidak kalah pentingnya adalah SENYUM (^_senyum_^)

Karena senyum yang tulus dapat meluluhkan ketegangan jiwa dan membuat wajah lebih bersinar. Hiks! Senyumnya asal jangan disalah artikan saja yaa…..

hmmm…kira-kira sudah ada belum y ciri-ciri ini di dalam diri kita…

smoga kita semua mampu menjadi wanita sholehah yang memiliki inner beauty.. ^_^


Cinta Muslim Sejati

Suatu saat seusai perang Uhud, Saydina Umar mengecek pasukan yang tertinggal diarena perang. Saat itu umar yang tengah melihat lihat korban perang menyaksikan mayat-mayat kaum mujahidin dan pejuang Islam yang menjadi korban keganasan musuh-musuh Allah.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesosok lelaki muda yang tergolek tiada daya yang meminta minuman, karena kehausan. "Haus- haus, berilah saya minum," pintanya. Ketika Sayidina Umar bergegas untuk memberikan minuman kepada pemuda tersebut, dari arah lain terdengar suara yang sama. Allahu akbar, haus-haus. Saat itu pemuda yang terkapar itu langsung menampik pemberian Umar, dan mempersilahkan Umar memberikannya pada orang lain yang juga minta minum. "Orang itu lebih membutuhkan daripada aku," kata pemuda tersebut.

Saat itu Umar bergegas untuk memberikan minuman kepada orang yang kedua yang minta minum tadi. Ketika Ujung tempat minuman itu akan diberikan pada orang kedua, dari arah lain muncul suara rintihan yang memilukan dan minta minum juga. Orang kedua itu lantas mempersilahkan Umar untuk memberikan pada orang ketiga. Umar melangkah keorang ketiga. namun sampai ditempat itu, orang itu sudah meninggal dunia. Umar sangat sedih lalu ia melangkah keorang pertama minta minum. Sampai disana Umar melihat pemuda itu sudah menghadap ilahi. Ia bergegas kepada orangkedua. Pemandangan sama ia temukan disana. Umar tercenung. Tapi begitulah sifat sejati pejuang muslim yang lebih cinta saudaranya ketimbang dirinya sendiri.


7 ayat cinta (muslim only)

Sabda Rasulullah S.a.w

barangsiapa yang hafal dan mengamalkan tujuh kalimah ini akan dimuliakan

oleh Allah dan malaikat dan akan diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih

di lautan..

1.bismillahhirrahmann irrahim: pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.

2.alhamdulliah:pada tiap-tiap habis melakukan sesuatu.

3. astagfirrullah:jika tersilap mengatakan sesuatu yang buruk.

4.insyaallah:jika ingin melakukan sesuatu pada masa akan datang.

5.lahaulawalaquataill ahbillah :bila tidak dapat melakukan sesuatu yang agak

berat atau melihat sesuatu yang buruk.

6.innalillah:jika menghadapi musibah atau melihat kematian.

7.laailaahaillallah :bacalah sepanjang siang dan malam sebanyak-banyaknya.

amalkanlah selalu moga-moga kita tergolong dikalangan orang yang terpilih

oleh Allah.


Selasa, 08 November 2011

Syeikh Nawawi Al Bantani..... Para Ulama Makkah pun berguru kepadanya..

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekkah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi'iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun beliau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu'. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga beliau tidak pernah mentawajuh/ membai'ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.

Guru-gurunya di Mekkah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain. Murid-muridnya Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab. Murid-muridnya yang berasal dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari Nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah.

Disadur kembali oleh Syaifullah Ami


Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)