Seloka Menutup Aurat

Tutup aurat satu tuntutan,Dalam keluarga wajib tekankan,Kalau tak ikut gunalah rotan,Demi melaksanakan perintah Tuhan. Aurat ditutup mestilah lengkap,Tudung litup termasuk serkap,.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Mei 2013

5 Perkara Sebelum 5 Perkara

Kawan-kawan, Ingatlah 5 Perkara Sebelum Datang 5 Perkara:
1. Sihat sebelum sakit
2. Muda sebelum tua
3. Kaya sebelum miskin
4. Lapang sebelum sempit
5. Hidup sebelum mati.
Penjelasan:
1. Sihat sebelum sakit – Lakukan sesuatu yang berfaedah dan mendatangkan kebaikan kepada diri anda dan orang-orang disekeliling anda semasa anda masih sihat.
2. Muda sebelum tua – Waktu anda muda inilah saatnya anda berusaha mencari kemewahan disamping tidak lupa kewajiban anda kepada Maha Pencipta, kelak bila anda tua anda tidak lagi memikirkan hal duniawi.
3. Kaya sebelum miskin – Waktu anda kaya berharta itulah anda boleh menolong orang yang lebih susah daripada anda kerana sedekah yang ikhlas akan jadi bekalan anda menghadapNYA.
4. Lapang sebelum sempit – Waktu anda masih ada kelapangan inilah waktu yang paling sesuai mendalami ilmu agama untuk pedoman anda.
5. Hidup sebelum mati – Sesungguhnya sewaktu hidup semua 4 perkara di atas boleh anda lakukan. Bila anda telah tiada hanya amal soleh, sedekah jariah dan doa anak yang soleh yang mengiringi anda.
Pedoman untuk kita semua fikirkan bersama.

Senin, 17 September 2012

Bayangkan Saat Maut Menjemput



Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur'an dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun. 
Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat. 


Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat. 
Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah. 
Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat. 
Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su'ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na'udzubillaahi min dzaalik 
Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah-tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, "Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk". Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, "Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman" Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan. 
Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu? (Bayu Gautama)


sepercikhikmah.blogspot.com/2012/07/bayangkan-saat-maut-menjemput.html


Minggu, 09 September 2012

ALLAH PUNYA RENCANA YANG LEBIH INDAH UNTUKMU

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaykum Wr. Wb.
“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.
Bagi seorang manusia, keberhasilan adalah suatu kondisi yang selalu ingin dicapai. Tidak ada satupun manusia yang ingin terpuruk dalam kegagalan terus-menerus. Bagi mereka yang mau dan mampu untuk meraihnya, keberhasilan itu akan dapat diraih atas izin Allah SWT.
Seorang mahasiswa pasti mengharapkan sebuah prestasi akademik yang baik. Seorang pengusaha pasti selalu mengharapkan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Seorang pilot pasti mengharapkan agar dapat take off dan landing dengan selamat. Seorang penulis buku pasti mengharapkan agar bukunya dapat diminati oleh banyak orang. Begitupun dengan kita, kita pasti mengharapkan keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.
Sebuah keberhasilan merupakan hasil dari suatu usaha yang kita lakukan. Orang yang meraih keberhasilan dalam suatu aktivitas akan disebut sebagai orang yang hebat karena telah berhasil meraih apa yang ia inginkan, sebaliknya, orang yang gagal meraih keberhasilan itu, maka ia akan dikatakan sebagai orang yang gagal. Hal inilah yang terbentuk dalam pola pikir sebagian orang.
Satu hal yang perlu kita ingat, tidak selamanya kegagalan itu menandakan ketidakmampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Sebab kegagalan itu adalah proses atau sebuah jalan panjang menuju titik kejayaan. Kita mungkin sering mendengar kata-kata mutiara Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Ternyata hal ini memang terbukti. Seorang Thomas Alfa Edisson mengalami ratusan kegagalan sebelum akhirnya mampu menemukan lampu. Seorang Bill Gates harus rela dikeluarkan dari kampusnya sebelum akhirnya ia membangun kerajaan IT dunia, Microsoft.
Pada hakikatnya, manusia pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, hanya saja mereka yang mampu bangkit dari kegagalan itu, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Islam mengajarkan ummatnya bagaimana meraih sebuah keberhasilan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu kita pahami bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan kuasa dari Allah semata. Artinya, segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah milik Dia yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Sebagai seorang pemilik, Allah berhak berbuat apa saja terhadap ciptaanNya.
Keberhasilan hanya dapat diraih melalui dua cara, yaitu ikhtiar dan tawakkal. Segala upaya dan kerja keras kita dalam mewujudkan tujuan dan mimpi yang ingin kita raih merupakan ikhtiar. Namun bagaimanapun juga, manusia tetap saja seorang makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk itulah, selain melakukan ikhtiar, kita harus tawakkal kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan do’a agar setiap ikhtiar yang kita lakukan mendapat berkah dan dimudahkan oleh Allah.
Banyak orang yang telah bekerja keras siang dan malam, bahkan sampai menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, bahkan hartanya hanya untuk meraih impiannya, pada akhirnya harus mengalami kegagalan yang pahit. Inilah akibatnya jika kita melupakan Allah dalam setiap ikhtiar/ usaha kita. Kita terkadang merasa pede dengan kemampuan kita sendiri, bahkan sampai menganggap bahwa keberhasilan yang selama ini diraih adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia lupa bahwa yang memberikan segala kenikmatan itu adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kaya.
Ikhtiar dan tawakkal hanyalah sebuah washilah (sarana) kita untuk mencapai tujuan kita. Segala sesuatunya hanya berhak ditentukan oleh Allah saja. Artinya, tujuan atau mimpi yang ingin kita capai belum tentu akan kita raih, sekalipun telah melakukan ikhtiar dan tawakkal yang banyak. Kenapa demikian? Apakah Allah murka pada kita?
Ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Allah itu Maha Mengetahui segalanya. Termasuk segala sesuatu yang kita butuhkan, Allah lebih tahu daripada kita sendiri. Karena, segala sesuatu yang kita inginkan, segala sesuatu yang menurut kita baik, ternyata belum tentu baik menurut Allah. Misalnya, si Fulan ingin hidup kaya dan tentram. Dia setiap hari berikhtiar dan bertawakkal agar Allah memberikannya kekayaan kepadanya. Namun pada akhirnya dia tetap saja hidup miskin. Bukan berarti Allah murka kepadanya, lantas tidak memberikan kekayaan pada si Fulan. Tapi Allah tahu, jika ia menjadi orang kaya yang bergelimangan harta, dia akan menjadi kufur dan jauh dari Allah. Oleh karena itulah, Allah tidak mengubah nasibnya agar ia lebih dekat lagi kepada Allah.
Ketika usaha dan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, itu berarti Allah mempunya rencana lain yang jauh lebih indah daripada rencana yang kita buat.

 fachrie230389.wordpress.com/2010/02/19/allah-punya-rencana-yang-lebih-indah-untukmu/

Senin, 13 Agustus 2012

Secuil Cintamu



 

Ya Rabb. . . .
Pantaskah aku meminta yang baik padamu?
Setelah banyaknya keburukan dan kemaksiatan yang kulakukan?
Ya Rabb. . .
Pantaskah aku meminta cintamu?
Setelah kucampakkan rasa cintaku padamu?
Ya Rabb. . .
Aku tertatih mencintaimu
Namun dalam ketertatihanku, ku harap kau masih mau menerimaku
Terkadang aku mencintaimu dengan isak tangis air mata
Yang kukeluarkan dari mataku
Terkadang aku mencintaimu dengan banyaknya keluhanku padamu
Aku mungkin tak sebaik orang yang lainya
Aku mungkin tak sealim orang yang lainya
Aku mungkin tak semukmin orang muslim yang lainnya
Bahkan aku sering terperosok, jatuh dan terkulai
Namun meskipun aku seperti itu
Aku mohon padamu
Ditengah kehinaanku, ditengah kenistaanku, ditengah keburukanku
Aku mohon Ya Rabb. . .
Sisakan secuil cintamu untukku.

Minggu, 12 Agustus 2012

AZAB BUAT WANITA YANG...........

Andai Semua Wanita Tau,,,,,????


AZAB BUAT WANITA YANG...........

Renungan khususnya untuk para kaum hawa.....

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis.

Beliau menjawab,

"Pada malam aku diisra'kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya."

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.

"Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

"Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

"Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

"Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

"Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka," kata Nabi s.a.w.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah S.A.W menjawab,

"Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang digantung susunya adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya.


*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa solat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

*Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.

Pesanan buat akhawat2 yang disayangi(serta untuk diri ini juga):

Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud: "Dan katakan kepada perempuan-perempuan yang beriman, supaya mereka menahan sebahagian penglihatan, memelihara kehormatannya dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya) selain dari yang nyata (mesti terbuka terdiri dari bahagian badannya yang sangat perlu dalam pekerjaan sehari-hari, seperti mukanya dan tapak tangan). Dan hendaklah mereka sampaikan kudungnya ke leher (tutup kepalanya sampai ke leher dan dadanya), dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya), kecuali kepada suaminya, bapanya, bapa suaminya, anak-anaknya, anak-anak suaminya, saudara-saudaranya, anak-anak saudara lelaki, anak-anak saudara perempuannya, sesama perempuan Islam, hamba sahaya kepunyaannya, laki-laki yang menjalankan kewajubannya tetapi tidak mempunyai keinginan
(terhadap perempuan - umpanya pelayan-pelayan lelaki yang sudah tua dan tiada lagi mempunyai keinginan kepada perempuan) dan kanak-kanak yang belum mempunyai pengertian kepada aurat perempuan. Dan janganlah mereka pukulkan kakinya, supaya diketahui orang perhiasannya yang tersembunyi (misalannya melangkah dengan cara yang menyebabkan betisnya terbuka atau perhiasan seperti gelang/rantai kakinya nampak). Dan taubatlah kamu semuanya kepada Allah s. w. t, Hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.(surah An-Nur ayat 31)

Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud:

"Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk (taat) hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran (suruhan dan larangan) Allah serta (taat) mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang lalai, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut (jauh dari zaman nabi mereka) maka hati mereka menjadi keras
(dari mengikuti perintah/ajaran nabi mereka) dan banyak di antaranya orang-orang fasik. (surah Al-Hadid ayat 16)

Bila ayat menutup aurat turun sahaja semua wanita ketika itu tidak kira dari golongan Ansar mahupun Muhajirin dengan segera menutup aurat masing-masing. Yang ada di pasar, yang ada di rumah, yang sedang dalam perjalanan capai apa sahaja untuk menutup aurat masing-masing dengan SEGERA dan bukannya NANTI DULU. Yang tidak mendapat apa-apa mereka segera memalingkan muka menghadap dinding supaya tiada lelaki terpandang wajah mereka. Itulah kekuatan iman yang ada pada wanita-wanita ketika itu. Tetapi kini segala- galanya telah berubah makin jauh kita dari zaman Rasulullah s. a. w. makin kita jauh dari amalan agama. Dalam ayat yang sama juga Allah s. w. t. menegur kita supaya tidak menjadi seperti ahli kitab sebelum kita (Yahudi dan Nasrani) di mana semakin mereka jauh dari zaman nabi mereka maka semakin kurang mengamalkan agama. Itulah keadaan kita ketika ini. Saudari-saudari seagama dengan kita bukan tidak tahu kewajiban menutup aurat, tetapi oleh kerana kelemahan iman serta sikap acuh tak acuh membuatkan mereka lalai. Perkataan yang biasa kita dengar dari saudari-saudari kita ialah "belum sampai seruan". Seruan apa yang ditunggunya atau seruan dari siapa yang sedang mereka tunggu? Bukankah Allah s. w. t. telah seru untuk menutup aurat sejak 14 abad dahulu lagi. Tetapi kenapa masih tak tutup-tutup lagi?

Lihat lagi ayat di atas Allah s. w. t. berfirman "Katakan kepada orang-orang perempuan yang beriman" Allah s. w. t. dengan khusus gunakan perkataan "beriman" dan bukannya "wahai manusia" kerana segala perintah hanya boleh didukung oleh orang-orang yang beriman sahaja.

Dalam ayat kedua pun sama yang ditujukan ayat-ayat ini adalah kepada orang-orang yang beriman. Kita kata kami beriman dengan Allah s. w. t, Rasul-rasulNya dan, Kitab-kitabNya tetapi apa yang kita ucapkan dan buat adalah sungguh bertentangan. Allah s. w. t. telah menggariskan peraturan dan rasul telah mengajarkannya dan peraturan itu telah termaktub di dalam kalamNya.

Tetapi kenapa masih leka? Kita bimbang kalau-kalau kita dibungkus dengan kain putih sebelum kita sempat menutup aurat.

Maka wahai saudari-saudari seagamaku (YANG BERIMAN), sebelum terlewat rebutlah peluang yang ada jangan tunggu esok amalkan sekarang juga. Bimbang "Esok tiada bagi mu". SENTIASALAH MENGINGATI MATI.Gembirakanlah Allah s. w. t. dan rasulNya dengan mengikut perintah mereka supaya dikala kamu dirundung malang Allah s. w. t. dan rasulNya dapat menggembirakan kamu.

BIAR KAMU TIDAK CANTIK DI MATA PENDUDUK BUMI TETAPI NAMAMU MENJADI PERBUALAN PENDUDUK LANGIT.
Foto: Andai Semua Wanita Tau,,,,,???? AZAB BUAT WANITA YANG........... Renungan khususnya untuk para kaum hawa..... Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis. Beliau menjawab, "Pada malam aku diisra'kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya." Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. "Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking. "Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri. "Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta. "Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka," kata Nabi s.a.w. Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu? Rasulullah S.A.W menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. *Perempuan yang digantung susunya adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya. *Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas. *Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain. *Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya. *Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa solat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub. *Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami." Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Pesanan buat akhawat2 yang disayangi(serta untuk diri ini juga): Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud: "Dan katakan kepada perempuan-perempuan yang beriman, supaya mereka menahan sebahagian penglihatan, memelihara kehormatannya dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya) selain dari yang nyata (mesti terbuka terdiri dari bahagian badannya yang sangat perlu dalam pekerjaan sehari-hari, seperti mukanya dan tapak tangan). Dan hendaklah mereka sampaikan kudungnya ke leher (tutup kepalanya sampai ke leher dan dadanya), dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya), kecuali kepada suaminya, bapanya, bapa suaminya, anak-anaknya, anak-anak suaminya, saudara-saudaranya, anak-anak saudara lelaki, anak-anak saudara perempuannya, sesama perempuan Islam, hamba sahaya kepunyaannya, laki-laki yang menjalankan kewajubannya tetapi tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan - umpanya pelayan-pelayan lelaki yang sudah tua dan tiada lagi mempunyai keinginan kepada perempuan) dan kanak-kanak yang belum mempunyai pengertian kepada aurat perempuan. Dan janganlah mereka pukulkan kakinya, supaya diketahui orang perhiasannya yang tersembunyi (misalannya melangkah dengan cara yang menyebabkan betisnya terbuka atau perhiasan seperti gelang/rantai kakinya nampak). Dan taubatlah kamu semuanya kepada Allah s. w. t, Hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.(surah An-Nur ayat 31) Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud: "Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk (taat) hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran (suruhan dan larangan) Allah serta (taat) mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang lalai, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut (jauh dari zaman nabi mereka) maka hati mereka menjadi keras (dari mengikuti perintah/ajaran nabi mereka) dan banyak di antaranya orang-orang fasik. (surah Al-Hadid ayat 16) Bila ayat menutup aurat turun sahaja semua wanita ketika itu tidak kira dari golongan Ansar mahupun Muhajirin dengan segera menutup aurat masing-masing. Yang ada di pasar, yang ada di rumah, yang sedang dalam perjalanan capai apa sahaja untuk menutup aurat masing-masing dengan SEGERA dan bukannya NANTI DULU. Yang tidak mendapat apa-apa mereka segera memalingkan muka menghadap dinding supaya tiada lelaki terpandang wajah mereka. Itulah kekuatan iman yang ada pada wanita-wanita ketika itu. Tetapi kini segala- galanya telah berubah makin jauh kita dari zaman Rasulullah s. a. w. makin kita jauh dari amalan agama. Dalam ayat yang sama juga Allah s. w. t. menegur kita supaya tidak menjadi seperti ahli kitab sebelum kita (Yahudi dan Nasrani) di mana semakin mereka jauh dari zaman nabi mereka maka semakin kurang mengamalkan agama. Itulah keadaan kita ketika ini. Saudari-saudari seagama dengan kita bukan tidak tahu kewajiban menutup aurat, tetapi oleh kerana kelemahan iman serta sikap acuh tak acuh membuatkan mereka lalai. Perkataan yang biasa kita dengar dari saudari-saudari kita ialah "belum sampai seruan". Seruan apa yang ditunggunya atau seruan dari siapa yang sedang mereka tunggu? Bukankah Allah s. w. t. telah seru untuk menutup aurat sejak 14 abad dahulu lagi. Tetapi kenapa masih tak tutup-tutup lagi? Lihat lagi ayat di atas Allah s. w. t. berfirman "Katakan kepada orang-orang perempuan yang beriman" Allah s. w. t. dengan khusus gunakan perkataan "beriman" dan bukannya "wahai manusia" kerana segala perintah hanya boleh didukung oleh orang-orang yang beriman sahaja. Dalam ayat kedua pun sama yang ditujukan ayat-ayat ini adalah kepada orang-orang yang beriman. Kita kata kami beriman dengan Allah s. w. t, Rasul-rasulNya dan, Kitab-kitabNya tetapi apa yang kita ucapkan dan buat adalah sungguh bertentangan. Allah s. w. t. telah menggariskan peraturan dan rasul telah mengajarkannya dan peraturan itu telah termaktub di dalam kalamNya. Tetapi kenapa masih leka? Kita bimbang kalau-kalau kita dibungkus dengan kain putih sebelum kita sempat menutup aurat. Maka wahai saudari-saudari seagamaku (YANG BERIMAN), sebelum terlewat rebutlah peluang yang ada jangan tunggu esok amalkan sekarang juga. Bimbang "Esok tiada bagi mu". SENTIASALAH MENGINGATI MATI.Gembirakanlah Allah s. w. t. dan rasulNya dengan mengikut perintah mereka supaya dikala kamu dirundung malang Allah s. w. t. dan rasulNya dapat menggembirakan kamu. BIAR KAMU TIDAK CANTIK DI MATA PENDUDUK BUMI TETAPI NAMAMU MENJADI PERBUALAN PENDUDUK LANGIT.


Foto: Andai Semua Wanita Tau,,,,,????   AZAB BUAT WANITA YANG...........  Renungan khususnya untuk para kaum hawa.....  Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis.  Beliau menjawab,  "Pada malam aku diisra'kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya."  Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.  "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.  "Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.  "Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.  "Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.  "Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka," kata Nabi s.a.w.  Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?  Rasulullah S.A.W menjawab,  "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.  *Perempuan yang digantung susunya adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya.   *Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.  *Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.  *Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.  *Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa solat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.  *Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."  Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.  Pesanan buat akhawat2 yang disayangi(serta untuk diri ini juga):  Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud: "Dan katakan kepada perempuan-perempuan yang beriman, supaya mereka menahan sebahagian penglihatan, memelihara kehormatannya dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya) selain dari yang nyata (mesti terbuka terdiri dari bahagian badannya yang sangat perlu dalam pekerjaan sehari-hari, seperti mukanya dan tapak tangan). Dan hendaklah mereka sampaikan kudungnya ke leher (tutup kepalanya sampai ke leher dan dadanya), dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya), kecuali kepada suaminya, bapanya, bapa suaminya, anak-anaknya, anak-anak suaminya, saudara-saudaranya, anak-anak saudara lelaki, anak-anak saudara perempuannya, sesama perempuan Islam, hamba sahaya kepunyaannya, laki-laki yang menjalankan kewajubannya tetapi tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan - umpanya pelayan-pelayan lelaki yang sudah tua dan tiada lagi mempunyai keinginan kepada perempuan) dan kanak-kanak yang belum mempunyai pengertian kepada aurat perempuan. Dan janganlah mereka pukulkan kakinya, supaya diketahui orang perhiasannya yang tersembunyi (misalannya melangkah dengan cara yang menyebabkan betisnya terbuka atau perhiasan seperti gelang/rantai kakinya nampak). Dan taubatlah kamu semuanya kepada Allah s. w. t, Hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.(surah An-Nur ayat 31)  Allah s. w. t. berfirman yang bermaksud:  "Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk (taat) hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran (suruhan dan larangan) Allah serta (taat) mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang lalai, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut (jauh dari zaman nabi mereka) maka hati mereka menjadi keras (dari mengikuti perintah/ajaran nabi mereka) dan banyak di antaranya orang-orang fasik. (surah Al-Hadid ayat 16)  Bila ayat menutup aurat turun sahaja semua wanita ketika itu tidak kira dari golongan Ansar mahupun Muhajirin dengan segera menutup aurat masing-masing. Yang ada di pasar, yang ada di rumah, yang sedang dalam perjalanan capai apa sahaja untuk menutup aurat masing-masing dengan SEGERA dan bukannya NANTI DULU. Yang tidak mendapat apa-apa mereka segera memalingkan muka menghadap dinding supaya tiada lelaki terpandang wajah mereka. Itulah kekuatan iman yang ada pada wanita-wanita ketika itu. Tetapi kini segala- galanya telah berubah makin jauh kita dari zaman Rasulullah s. a. w. makin kita jauh dari amalan agama. Dalam ayat yang sama juga Allah s. w. t. menegur kita supaya tidak menjadi seperti ahli kitab sebelum kita (Yahudi dan Nasrani) di mana semakin mereka jauh dari zaman nabi mereka maka semakin kurang mengamalkan agama. Itulah keadaan kita ketika ini. Saudari-saudari seagama dengan kita bukan tidak tahu kewajiban menutup aurat, tetapi oleh kerana kelemahan iman serta sikap acuh tak acuh membuatkan mereka lalai. Perkataan yang biasa kita dengar dari saudari-saudari kita ialah "belum sampai seruan". Seruan apa yang ditunggunya atau seruan dari siapa yang sedang mereka tunggu? Bukankah Allah s. w. t. telah seru untuk menutup aurat sejak 14 abad dahulu lagi. Tetapi kenapa masih tak tutup-tutup lagi?  Lihat lagi ayat di atas Allah s. w. t. berfirman "Katakan kepada orang-orang perempuan yang beriman" Allah s. w. t. dengan khusus gunakan perkataan "beriman" dan bukannya "wahai manusia" kerana segala perintah hanya boleh didukung oleh orang-orang yang beriman sahaja.  Dalam ayat kedua pun sama yang ditujukan ayat-ayat ini adalah kepada orang-orang yang beriman. Kita kata kami beriman dengan Allah s. w. t, Rasul-rasulNya dan, Kitab-kitabNya tetapi apa yang kita ucapkan dan buat adalah sungguh bertentangan. Allah s. w. t. telah menggariskan peraturan dan rasul telah mengajarkannya dan peraturan itu telah termaktub di dalam kalamNya.  Tetapi kenapa masih leka? Kita bimbang kalau-kalau kita dibungkus dengan kain putih sebelum kita sempat menutup aurat.  Maka wahai saudari-saudari seagamaku (YANG BERIMAN), sebelum terlewat rebutlah peluang yang ada jangan tunggu esok amalkan sekarang juga. Bimbang "Esok tiada bagi mu". SENTIASALAH MENGINGATI MATI.Gembirakanlah Allah s. w. t. dan rasulNya dengan mengikut perintah mereka supaya dikala kamu dirundung malang Allah s. w. t. dan rasulNya dapat menggembirakan kamu.  BIAR KAMU TIDAK CANTIK DI MATA PENDUDUK BUMI TETAPI NAMAMU MENJADI PERBUALAN PENDUDUK LANGIT.

Sifat dan Kelakuan Perempuan Yang Beruntung

Menyatakan segala sifat dan kelakuan perempuan yang beruntung mendapat keredho’an Alloh Subhanahu Wata’ala, maka sesungguhnya tiada ada suatu keuntungan pada manusia yang seperti mendapat keredhoan Alloh kepadanya. Inilah nikmat yang paling besar dan hal yang paling mulya, maka inilah pangkat derajat yang paling tinggi.

Adapun sifat kelakuan perempuan paling beruntung dengan kemuliaan itu ialah ;

  1. Perempuan yang senang duduk di rumah dan tiada suka pergi melangcong kesana-sini hanya jikalau ada perlu, maka beginilah sifatnya dan kelakuan anak-istri para ulama dan para sholihin.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Aqrobu maa takunul mar-atu min robbiha iza kanat fii qo’ri baytiha”.

Artinya :

Yang paling dekat seorang perempuan kepada keredho’an Tuhannya ialah apabila ia berada didalam rumahnya.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Wainna sholataha fii shohni dariha afdholu min sholatiha fil masjidi washolatuha fii baitiha afdholu minsholatiha fii shohni dariha washolatuha fii mahdi’iha afdholu min sholatin fii baytiha”.

Artinya :

Sesungguhnya hanya sholat perempuan di latar rumahnya lebih afdhol dari sholatnya di masjid, dan sholatnya di dalam rumahnya lebih afdhol dari sholat di latar (halaman) rumahnya, dan sholat di kamar rumahnya lebih afdhol daripada sholat di dalam rumahnya.

Sebagai lagi telah bertanya Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam kepada anaknya Siti Fatimah Rodiallohu ’Anha, ”Betapakah hal yang baik pada perempuan ya Fatimah ?”, maka jawab Siti Fatimah ”Bahwa hal yang baik pada seorang perempuan yaitu yang ia tiada melihat pada lelaki lain, dan orang lelaki itu tiada dapat melihat kepadanya”,

maka Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam sangat bersuka cita hati mendengar perkataan ananda Siti Fatimah, ia lalu mencium kepalanya serta berkata :”Zurriyata ba’dhuha min ba’dhin”

Artinya :Inilah turunan yang mulia dari asal yang mulia.

  1. Sifat kebajikan bagi seorang perempuan yang mendapat keredho’an Tuhan ‘Azza Wajalla yaitu perempuan yang tiada suka banyak permintaan dari perhiasan dunia, daripada pakaian, dan perabot rumah tangga yang berlebih-lebihan, maka sebagaimana yang ada padanya ia bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wata’ala, sebab bahwasanya kebesaran dunia dan perhiasannya itu telah dibenci oleh Alloh Subhanahu Wata’ala halalnya, apalagi haramnya.

Sabda Nabi Sallollohu ’Alaihi Wasallam :

Hakkudunia ada qodarnya pada Alloh Ta’ala sekalipun sekedar sayap nyamuk besarnya, niscaya tiada dikasih orang kafir akan minum seceguk airnya,dari karena dunia ini tiada qodarnya pada Alloh Ta’ala maka dijadikannya dunia sebagai surga bagi orang2 kafir.

Adapun bagi orang mu’min kesenangan yang sempurna dan kerajaan besar maka yaitu Insya Alloh Ta’ala di dalam syurganya dengan segala nikmatnya yang kekal selama-lamanya

Adapun yang sesungguhnya dunia ini adalah tempat beramal sholeh, maka bukan untuk tempat bersenang-senang, maka dari itu Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam suka meninggalkan keenakan dunia ini, demikian pula anak-istrinya dan sahabatnya, masing-masing suka memadai barang yang amat sedikit dari hal makanan atau hal pakaian atau perabot rumah tangganya.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Maa syabi’a aa-lu muhammadin min hubzisy-sya’iri salasata ayyamin”

Artinya :

Pernah tiada merasa kenyang keluarga Nabi Muhammad Sallollohu ‘Alaihi Wasallam dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut.

Setengah riwayat mengatakan bahwa terkadang dua-tiga hari tiada kelihatannya Asfi, orang yang memasak di rumah Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, melainkan makan seadanya saja yang ada di rumah seperti kurma dan air.

Begitulah kelakuan Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam yang senantiasa, jika ia masuk kerumahnya kalau ada suatu makanan lalu dimakan, dan kalau tiada, ia tiada minta dari istrinya, lalu terus puasa di hari itu juga.

Kata Siti Aisyah Rodiallohu ‘Anha (Istri Nabi) :

“Kanat dhoja’u Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, Allazi yanamu ’alaihi wisadatun min adamin hasy-wuha lifan”

Artinya :

Adalah di tempat tidur Rosululloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam suatu bantal dibuat dari kulit yang isinya daripada sambuk korma.

Sebagai lagi ada pada suatu hari Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam datang ke rumah Siti Fatimah, didapati ia lagi menggiling gandum dengan memakai baju yang dibuat dari bulu onta, hati Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam menjadi sedih melihat kemiskinan Siti Fatimah itu, serta berkata : Hai anakku Fatimah, sabarlah engkau atas merasai sedikit pahit kehidupan dunia, karena sesungguhnya mendapat keenakan yang banyak adalah di akhirat yang kekal selama-lamanya,

maka di waktu itu turunlah Firman Alloh Ta’ala sbb :

“Walasaufa yu’thika robbuka fatardhoo”.

Artinya :

Bahwa sesungguhnya nanti akan diberikan kepadamu ya Muhammad oleh Tuhanmu segala kemuliaan di akhirat, niscaya engkau akan redho’ dan suka hati engkau dan anak buah engkau.

Sebagai lagi dimisalkan orang yang beriman pada hari kemudian dan ia sabar atas kemiskinan dunia serta beramal sholeh dengan mengharap supaya dapat keredho’an Tuhan, dapat kesenangan syurga dan segala nikmatnya, maka adalah ia seperti seorang perempuan yang lagi bikin kue dan membersihkan perabot rumah tangga karena menghadapi hari lebaran, maka engkau dapat lihat sebelum lebaran itu bagaimana ia cape’nya dengan memakai baju terburu-buru tiada meriaskan badan dan bajunya karena arang atau abu dapur.

Semua itu dengan sabar dilakukan karena sedikit hari lagi ia akan dapat merasakan kesenangan dihari raya lebaran dengan pakaian bagus dan makanan yang lezat.

Maka inilah misalnya orang yang beriman didalam sabarnya atas kemiskinan dunia, karena mengharap keredho’an Alloh Ta’ala dan kenikmatan syurga.

Translit Kitab “PERHIASAN BAGUS”

Karya : Syekh Usman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Alwi.

فرهياسن باڮوس

أونتق أنق فرمفوان


Sukses Dunia Bukan Ukuran Sukses Akhirat

Tidak selamanya Sukses secara Duniawi bisa dijadikan untuk ukuran Sukses kita kelak di Akhirat,tetapi seharusnya ketika kita telah sukses secara Duniawi akan dapat dengan mudah menempuh jalan-jalan kesuksesan hidup kita kelak di Akhirat, tapi ternyata tidak sedikit orang yang sukses Dunianya semakin terpuruk kehidupan Akhiratnya, semoga kita bukan termasuk orang yang demikian.

Ada dua orang laki-laki bersaudara. Mereka sudah yatim piatu sejakremaja. Keduanyabekerja pada sebuah pabrik/perusahaan.

Mereka hidup rukun, dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-harisemaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, Mereka acapkali harus berjalan kakiuntuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknyasekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejekiuntuk membeli sebuah mobil supaya dapatdipergunakan untuk sarana angkutan dia danadiknya, bila pergimengaji. Allah mengabulkannya,jabatannya naik dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuahmobil dapat diamiliki. Dia mendapatkanbonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istriyang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sangkakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turutsang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain.Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalammendekatkan dirikepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkansemua do'anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahansama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalanorang tuanya yang dulu dia tempati bersamadengan Kakaknya.Namun karena kakaknya sangat sibuk denganpekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya.Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a,menandakan adiknya tidak pernah hafalbacaan untuk berdo'a.

Lalu datanglah iakepada adiknya untuk menasehati adiknya supaya selalu berdo'akepada Allah danberupaya untuk membersihkan hatinya, "Dik, sesungguhnya ketidak mampuan kita menghafal quran, haditsdan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.."

Sang adik Mengangguk,hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukursekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknyaatas nasehat itu.

----

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sangkakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahanpada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggaldalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak kemudianmembereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai denganamanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid.

Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipatdalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranyaAl-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat dan adakalimah di akhirdo'anya:

"Ya, Allah. tiadasesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlahsegala do'a kakak ku, Jadikan Kakakku selaludalam lindungan dan cinta-Mu,Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakkudidunia dan akhirat.,"

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya. Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyanaternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Sahabat, kesuksesan yang kita raih harus kita sadari bahwa itu bukan hanya hasil dari jerihpayah dan doa kita sendiri , bisa jadi faktor dari doa orang-orangterdekat dengan kita yang kita sayangi dankita cintai merekaadalah orang tua kita, istri kita, anak-anak kita,tetangga-tetangga kita, karyawan-karyawan kita dan juga orang-orang yang pernah kita tolong.

Kekayaan, kemiskinan,kebaikan, keburukandan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan ataukehinaan seseorang.

Janganlah banggakarena kekayaan dan janganlah putus asakarena kemiskinan..

”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS, al-Hujurat[49]: 13)


Selasa, 06 Desember 2011

Jangan Biarkan Ada Waktu yang Terbuang Sia-Sia


"time is money" mungkin setiap dari kita pernah mendengar pepatah ini . . . waktu adalah uang, ya . . . orang barat biasa menganggapnya seperti itu . . ada juga dari kalangan masyarakat timur biasa menyebut istilah untuk waktu ialah "al-waktu atsmanu minna-d-dzahabi" yang artinya : waktu lebih berharga dari pada emas"


melihat fenomena saat ini hatiku bagai tersayat oleh keadaan . . . bagaimana tidak aku pribadi maupun kebanyakan orang seringkali meremehkan waktu, jika menggunakan rumus hitung-hitungan sejatinya apabila kita menganggap waktu adalah uang kita telah membuang 86400 setiap harinya, jumlah yang lumayan besar untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap kepala. dan apabila terhitung satu tahun maka mendapatkan 86400 x 365 = 31536000 wow . . . angka yang fantastis jika hanya untuk mendapatkan dari waktu. .

sayang berjuta sayang, berapa juta orang yang mengetahui hal ini namun lalai, tidak menyadari telah kehilangan uangnya setiap detik, mungkin ia menganggap "ah nanti juga bisa" secara tidak disadari kata-kata itulah yang menghambat kita untuk maju, untuk membuat inovasi baru dan untuk menciptakan sensasi yang dapat menjadikan orang lain terkagum-kagum, malahan jika menyia-nyiakannya yang ada hanya penyesalan yang mendalam dan membuat kita seperti orang yang tertinggal oleh peradaban modern.

tujuan penulis adalah agar kita bersama menyadari betapa pentingnya waktu yang diberikan oleh-Nya untuk kita, mencoba merancang kembali alur kehidupan agar teratur dan selalu berusaha istiqomah dalam menjalaninya serta tetap bekerja keras disegala suasana hati, karena perlu disadari juga bahwasannya suasana hati adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan kita, jika sedang dalam keadaan senang rasanya semangat itu tidak akan pernah pudar, namun jika sebaliknya akan terasa bahwa dunia hanya sebaga beban. oleh karenanya kita harus selalu memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan ketegaran dan kekuatan untuk tetap dapat beristiqomah menjalankan segala hal positif yang ada di depan kita . . .

bismillah . .

Senin, 28 November 2011

Jangan Berlebihan Mencintai Harta

a-man-counting-money2

Allah Swt berfirman, “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang teramat sangat.” (QS Al-Fajr [89] :20)

Nabi Isa as berkata, “Janganlah kalian melihat harta kekayan ahli dunia, karena sesungguhnya gerlap kemilau harta mereka itu dapat melenyapkan cahaya iman kalian.” (Mahajjah al-Baidla’ 7 :228)

Imam Ali as berkata, “Apabila Allah mencintai seorang hamba maka dijadikan-Nya sang hamba benci kepada harta dan dipendekkan-Nya angan-angannya. Namun apabila Allah menginginkan kejelekkan bagi sang hamba maka dijadikanlah kecintaannya kepada harta dan dipanjangkannya angan-angan-Nya.” (Mizan al-Hikmah 9 : 281)

Imam Ali al-Ridha as berkata : “Tidaklah seseorang itu menumpuk harta melainkan akan tumbuh di dalam dirinya lima hal :

1. Kekikiran yang sangat,

2. Angan-angan yang panjang.

3. Ditaklukkan oleh sifat rakus (tamak),

4. Suka memutuskan shilaturrahim,

5. Lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.” (Misykat al-Anwar hal 271)

Rasulullah saww bersabda : “Tidaklah seorang hamba semakin dekat kepada Penguasa (Sulthan yang zalim) melainkan semakin jauh ia dari Allah Ta’ala dan apabila semakin banyak hartanya semakin bertambah pula hisabnya (di akhirat) dan semakin banyak juga kesusahannya dan semakin banyak juga setan-setannya.” (Bihar al-Anwar 72 : 67 / MH 9 : 279 )

Rasulullah saww bersabda : “Empat tanda kemalangan (kesialan — kecelakaan) :

1. Kering air mata (dumu’ al-‘ain),

2. Hati yang kesat (keras),

3. Tamak di dalam mencari rizki,

4. Terus menerus melakukan dosa. (sering berbuat dosa).” (Bihar al-Anwar 73 : 349 / Mizan 91-Hikmah 3.463)


qitori.wordpress.com/2008/11/13/jangan-berlebihan-mencintai-harta/



Jumat, 25 November 2011

Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka?

Sebuah pernyataan yang cukup lazim terdengar di telinga kita bahwa kebanyakan penduduk neraka dihuni oleh para wanita.


Berdasarkan Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Aku melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.”


Muncul pertanyaan di benak kita, apa yang menyebabkan kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka? Dalam sebuah kisah ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.


Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)


Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda, “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)


Bagi para muslimah atau umumnya wanita ketika membaca atau mendengar hadist-hadist di atas sontak naik darah dan tidak bisa menerima sepenuhnya. Minimal akan berhujjah bahwasanya wanita bisa berbuat demikian karena ada penyebabnya, bukan tiba-tiba ingin berlaku demikian. Siapapun kalau ditanya tentu saja tidak ada yang ingin masuk neraka apalagi diklaim akan masuk neraka. Naudzubillah mindzalik!


Memang, berlayar mengarungi bahterah rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Seorang muslimah tepatnya seorang istri, tidak saja harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup tapi juga mutlak dibutuhkan mental baja dan manajemen yang baik dalam mengelola gelombang kehidupan beserta segala pernak pernik yang menyertainya. Ketika urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya, anak-anak rewel dan kondisi fisik sedang tidak fit, kemudian suami pulang kerja minta dilayani tanpa mau perduli dengan kondisi kita, biasanya, dalam kondisi seperti ini tidak banyak wanita yang tetap mampu mengendalikan kesabarannya. Manusiawi bukan? Belum tentu!Justru dalam situasi seperti inilah keimanan dan kesabaran kita akan teruji. Apakah kita masih bisa mengeluarkan kata-kata manis sekaligus rona muka penuh dengan senyum ketulusan? Sulit memang! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa!


Jika kita cermati hadist diatas secara seksama, maka akan kita dapati beberapa sebab mengapa wanita bisa menjadi penduduk minoritas di surga, di antaranya :


Pertama, kufur terhadap kebaikan-kebaikan suami. Sebuah fenomena yang sering kita saksikan, seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya dalam waktu yang panjang hanya karena satu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal seharusnya seorang istri selalu bersyukur terhadap apa-apa yang diberikan suaminya, karena Allah SWT tidak akan melihat istri yang seperti ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr).


Kedua, durhaka terhadap suami. Durhaka yang sering dilakukan seorang istri adalah durhaka dalam ucapan dan perbuatan. Wujud durhaka dalam ucapan di antaranya ketika seorang istri membicarakan keburukan-keburukan suaminya kepada teman-teman atau keluarganya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syar’i. Sedangkan durhaka dalam perbuatan diantaranya bersikap kasar atau menampakkan muka yang masam ketika memenuhi panggilan suami, tidak mau melayani suami dengan alasan yang tidak syar’i, pergi atau ke luar rumah tanpa izin suami, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, atau sebaliknya enggan berdandan dan mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu.


Jika demikian keadaannya maka sungguh merugi wanita-wanita yang kufur dan durhaka terhadap suaminya. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada surga karena mengikuti hawa nafsu belaka.


Jalan ke surga memang tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan melalui rintangan-rintangan yang berat dan terjal. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar menempuhnya.


Sementara, jalan menuju ke neraka penuh dengan keindahan yang menggoda dan setiap manusia sangat tertarik untuk melaluinya. Tetapi, sadarlah bahwa di ujung jalan ini, neraka telah menyambut dengan beragam siksa-Nya.


Lalu, bagaimana caranya agar para wanita atau para istri tidak terperosok ke dalam neraka?


Jangan pesimis, masih banyak cara dan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri jika kita ingin menjadi penduduk minoritas di surga.


Masih ingat kan, ketika rasulullah bersabda dalam sebuah hadist shahih jami’, “Perempuan apabila shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.”


Mengacu dari hadist di atas, mari kita berlomba menegakkan sholat dengan lebih khusu’, memperbayak sholat-sholat sunah karena sholat yang benar dan khusu’ bisa membentengi diri kita dari perbuatan yang munkar. Selain puasa/shaum wajib di bulan romadhon, latihlah diri untuk terbiasa melakukan shaum sunah. Hiasilah diri dengan sabar dalam ketaatan dengan suami dan banyak-banyaklah beristigfar karena istigfar bisa meruntuhkan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari.


Dan juga ada sebuah amalan yang sepele tapi sering terlupakan adalah bershodaqoh (sedekah). Bershodaqohlah dalam keadaan lapang dan sempit karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka.


Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda, “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)


Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin. Wallahu’alam.


Jilbab - kewajiban jangan diremehkan

Assalaamu'alaikum wr. wb. Mari benar2 kita perhatikan kisah Adam AS dan Hawa AS dalam ayat-ayat Al Qur’an : QS. 020 TAAHAA ( 120 – 121 ) فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى FA WASWASA ILAIHI SYAIITHAANU QAALA YAA AADAMU HAL ADULLUKA ALAA SYAJARATIL KHULDI WA MULKIL LAA YABLAA FA AKALAA MINHAA FABADAT LAHUMAA SAU AATUHUMAA WA THAFIQAA YAKHSHIFAANI ALAIHIMAA MIW WARAQIL JANNAH WA ‘ASHAA AADAMU RABBAHUU FAGHAWAA Kemudian Syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya ( Adam ) dengan berkata : “ wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa ? Maka keduanya ( Adam dan Hawa ) memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun Surga dan durhakalah Adam kepada Tuhan-nya dan sesatlah dia. ( makan buah quldi adalah pelanggaran syari'at dan hakikatnya dosa membuka aurat ) Sejak diciptakan Hawa as, dari rusuk Adam as, mereka ijab qabul nikah resmi dengan mas kawin salawat Nabi Muhammad saw. 230 kali tanpa boleh bernafas ...disaksikan Jibril as. sekaligus walinya ... Jilbab dan pakaian muslim adalah pakaian Surga / pakaian taqea, yang diberikan Allah swt. seterusnya menjadi kewajiban penutupan aurat laki-laki ( topi dan gamis ) dan perempuan ( jilbab ), kemudian ditegaskan lagi didalam salah satu ayat Al Qur'an surat An Nuur. Oleh karena itu jangan main2 dengan penutupan aurat terutama wanita. karena rambutnua saja sudah aurat yang harus ditutup rapat. Banyak yang melanggar. Laki-laki batas auratnya seputar pusar sampai lutut, sehingga jarang yang melanggar. Semoga tercerah adanya ... wallahu a'laam bish shawab / Ismail

Rabu, 23 November 2011

Tuntunan Syari’at Islam Dalam Berusaha/Bekerja

I. Pendahuluan

Syariat Islam merupakan ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT atas hamba-hamba-Nya yang diturunkan melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya.

Islam menuntut setiap manusia bekerja, berusaha mencari rezeki untuk dirinya, keluarganya dan juga untuk kedua orang tuanya yang tidak mampu lagi untuk bekerja. Di samping itu Islam juga menyatakan bahwa sesuatu kerja, usaha, ataupun bisnis yang halal itu adalah merupakan tugas yang diamanahkan oleh Allah kepada seseorang manusia. Maka apabila seseorang itu menjalankan tugasnya ataupun bekerja, dengan sendirinya berarti, bahwa seseorang tersebut sedang menunaikan amanah Allah. Dengan kata-kata lain hamba Allah itu beribadat. Karena tujuan hidup manusia di muka bumi ini tidak lain hanyalah semata mata untuk beribadah pada Allah SWT saja. Sebagaimana Allah SWT sudah memberi aba-aba dengan jelas pada manusia dalam firmanNya:

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56)

Maka menurut Islam setiap kerja yang diredhai oleh Allah dan disertai dengan niat adalah ibadat. Oleh sebab itu setiap insan hendaklah menyadari dan menghayati bahwa setiap kegiatannya menjalankan kerja yang halal adalah wajib baginya dan kegiatannya itu sekiranya dimulai dengan niat, hendaklah dianggap sebagai ibadat. Bahkan Nabi Muhammad S.A.W bersabda:

“Barangsiapa bekerja untuk anak isterinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (Riwayat Al- Bukhari)

Selain dari itu Rasulullah S.A.W. juga bersabda:

“Mencari kerja yang halal itu adalah fardhu selepas fardhu”. (Riwayat Al- Baihaqi)

Dorongan Islam kepada ummatnya untuk berusaha mencari rezeki supaya kehidupan mereka menjadi baik dan menyenangkan. Allah SWT menjadikan langit, bumi, laut dan apa saja untuk kepentingan dan manfaat manusia. Manusia hendaklah mencari rezeki yang halal. Firman Allah dalam surah An-Naba ,78 :10-11 :

“dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian”, (QS. 78:10)

Di samping itu kita juga harus mengetahui bahwa setiap tugas atau kerja yang diberi oleh Allah kepada seseorang itu adalah menurut kemampuan orang tsb. Allah SW telah menyebutkan:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang terdaya olehnya”. (Al-Baqarah : 286)

Ini berarti bahwa tidak ada alasan bagi seseorang pekerja itu untuk mengeluh dan mengatakan bahwa tugasnya terlalu berat dan sukar. Karena si pekerja itu sendirilah yang menginginkan pekerjaan tsb. Disamping itu setiap manusia hendaklah insaf bahwa menurut ajaran Islam setiap kegiatan kita di dunia ini akan diperhitungkan di akhirat nanti sebagaimana firman Allah:

“Tiap-tiap diri bertanggungjawab terhadap apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al-Muddaththir : 38)
Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa mencari rezki dianjurkan dalam Islam dalam rangka untuk mendapatkan kehidupan yang baik dan layak, sepanjang usaha yang dilakukan orientasinya adalah untuk ibadah pada Allah SWt. Dengan arti kata bahwa apa saja bentuk usaha yang kita lakukan jangan sampai melanggar nilai-nilai Islam, karena kalau terlanggar nilai nilai Islam tsb, dan jangan sampai terlupakan hal hal yang bersifat fardhu, maka ibadah kepada Allah SWT tak akan terpenuhi, sehingga usaha kita itu menjadi sia-sia belaka. Sehingga refleksi akhir dari sebuah ibadah adalah menjadi manusia yang bertakwa hanya kepada Allah SWT.

Dalam keadaan ekonomi semakin sulit manusia berupaya untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan hidup dengan berbagai cara. Beraneka ragam usaha, pekerjaan ataupun bisnis, yang dilakukan manusia pada saat ini dalam upaya untuk mencari rezki, untuk meningkatkan pola hidup, dan bermacam lapangan pekerjaan lainnya. Kita bisa lihat secara nyata dilingkungan kita sendiri, perkembangan bisnis, kerja atau usaha apa saja dilakukan oleh manusia yang penting ada tambahan income keluarga.

Dalam tulisan ini Insha Allah akan dibahas juga secara umum tentang Ibadah menurut Islam, kemudian tentang Fiqh dan syari’at, karena antara usaha, bisnis ataupun pekerjaan yang dilakukan manusia, (yang disebut dengan mu’malah), dengan Fiqh ada satu hubungan yang sangat erat dengan ibadah itu sendiri. Sebagaimana yang sudah tergambar dalam pendahuluan diatas.

II. Ibadah Dalam Islam

Sebelum kita masuk dalam ruang lingkup bisnis, berusaha, bekerja untuk mencari rezki, perlu sedikit kita bahas tentang ibadah, karena setiap usaha atau mu’amalah apapun yang dilakukan oleh manusia tujuan akhirnya adalah untuk ibadah pada Allah SWT. Disamping itu ibadah juga merupakan tugas utama bagi setiap manusia yang merupakan fitrah baginya. Ibadah inilah yang nantinya akan menentukan tempat yang paling tepat bagi manusia di akhirat kelak, karena manusialah yang berperan utama menentukan hasil akhir dari ibadahnya itu kepada Allah SWT.

Ibadah menurut defenisi Ibnu Taimiyyah RA: “Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT baik berbentuk ucapan atau perbuatan yang nampak ataupun tidak nampak.”
Dalam urusan mu’amalah baik berupa bisnis, usaha ataupun pekerjaan lainnya terdapat unsur ta’awun (tolong-menolong) syar’i dalam upaya melepaskan saudara kita dari belenggu yang memberatkan dirinya. Dalil-dalil yang menunjukkan berusaha, bekerja, ataupun berbisnis, sebagai salah satu bentuk ibadah anatara lain: “Tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketaqwaan dan jangan kalian tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 3)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa melepaskan saudaranya dari kesulitan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan bagi saudaranya yang mendapatkan kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Serta barangsiapa menyembunyikan aib saudaranya, maka Allah akan menyembunyikan aibnya di dunia dan akhirat. Pertolongan Allah selalu menyertai seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”

Manusia juga harus ingat bahwa bahwa sesungguhnya ibadah yang diwajibkan sebagai tugas yang paling utama kepada umat manusia bukanlah semata untuk kepentingan Allah SWT melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Semakin bagus kualitas dan kuantitas ibadah seseorang, maka semakin bagus pula tempat yang disediakan baginya di akhirat kelak. Sebaliknya, semakin buruk kualitas maupun kuantitas ibadah seorang manusia, maka semakin buruk pulalah tempat kediamannya di akhirat kelak. Ayat berikut menunjukkan bahwa ibadah adalah kepentingan dan kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Allah SWT.

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Ad Dzaariyat,51: 57)

Ini berarti bahwa Allah lah yang telah mencukupkan segala sesuatunya. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi ini dengan pedoman, yaitu Al-Qur’an dan sunnah utusan-Nya Muhammad SAW. Manusia juga diberi akal untuk mempertahankan hidupnya. Semua itu menunjukkan bahwa manusia tidak berdaya, bukanlah apa-apa dan sangat bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

Hai manusia kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji” (Q.S. Fathir,35: 15)

A. Kategori Ibadah

Di dalam Islam Ibadah memiliki ruang lingkup yang yang sangat luas, yang dikategorikan kedalam dua bentuk:.

1. Ibadah Maghdhoh (khusus)

Ibadah maghdhoh yaitu merupakan perintah-perintah yang wajib dilakukan sebagaimana yang terkandung di dalam Rukun Islam seperti solat, puasa, zakat, haji dan beberapa amalan khusus seperti tilawah Al-Quran, zikir dan seumpamanya. Ibadah inibersifat taufiqiyyah, yaitu dilaksanakan menurut garis-garis yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW tanpa boleh ditambah ataupun dikurangkan. Sabda Rasulullah SAW:

Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku sembahyang. (HR. Sahih Bukhari)

Dalam ibadah maghdhoh ini, segala sesuatu yang baru diluar Al -Quran dan Al Hadits dipandang sebagai bid’ah.

2. Ibadah Ghoiru Maghdhoh (Umum/Muamalah)

Segala perkara atau amalan selain daripada bidang ibadah khusus di atas yang dilakukan semata-mata untuk mencari keredhaan Allah, yang meliputi seluruh perbuatan manusia dalam kehidupan sehariannya (mua’malah). Dengan arti kata segala bentuk hubungan dengan sesama dan lingkungan.

Sebagai contoh, ibadah dalam arti umum misalnya: mencari nafkah, berdagang, berusaha, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dll. Insha Allah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah ibadah umum yang berkaitan dengan mu’amalah, salah satunya yaitu bagaimana kode etik berusaha, berbisnis, mencari nafkah yang benar menurut tatanan syari’at Islam.

B. Syarat-syarat Ibadah
Persyaratan persyaratan yang harus dijalani setiap Muslim agar setiap aktivitas (baik yang umum maupun yang khusus) bernilai ibadah disis Allah SWT.

1. Tauhid yang benar
Karena setiap usaha, kerja itu merupakan sebuah ibadah, sudah barang tentu akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT jika dibangun di atas aqidah tauhid yang benar, sebagaimana Firman Allah SWT dalam firmanNya surat Az-Zaariyat,51:56

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56)

Abdullah bin ‘Abbas RA mengatakan illaa liya’buduuni artinya: “Agar mereka mengakui peribadatan adalah milik-Ku, baik dalam keadaan suka ataupun terpaksa.”
Al-Imam Al-Qurthubi RA mengatakan: “(Maknanya adalah) tidaklah Aku menciptakan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dari kalangan jin dan manusia, melainkan (karena) mereka mentauhidkan-Ku.”

Muhammad bin Abdul Wahab RA mengatakan: “Ibadah adalah tauhid.” Kemudian dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin RA: “Ibadah itu dibangun di atas tauhid. Dan setiap ibadah yang tidak (didasari) tauhid bukanlah sebuah ibadah. Terlebih lagi, sebagian ulama salaf menafsirkan firman Allah SWT ‘kecuali agar mereka menyembah-Ku’ yaitu kecuali agar mereka mentauhidkan Aku. Dan ini sangat sesuai dengan apa yang disimpulkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bahwa ibadah itu adalah tauhid, dan setiap ibadah yang tidak dibangun di atas tauhid adalah (ibadah) batil. Rasulullah SAW bersabda: ‘Allah SWT berfirman: Aku tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku (pada amalan tersebut), Aku akan membiarkannya dengan amalan syiriknya tersebut.”

Oleh sebab itu realisasi tauhid dalam peribadatan adalah “Tidak bertujuan melainkan mengharapkan wajah Allah SWT dan tidak memberikannya kepada selain-Nya. Yaitu ibadah yang tidak dikotori oleh noda-noda riya`, mengharapkan pujian dari orang lain, atau agar memiliki tempat dalam hati manusia.” Disamping itu setiap amal soleh orang-orang beriman kepada Allah dan hari kemudian (hari akhir) akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT. Sebagaimana janji Allah dalam firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah : 62)

2. Niat yang ikhlas (murni) karena Allah SWT ( tanpa meminta, menuntut imbalan apapun baik dunia maupun akhirat ).:

Ikhlas artinya mengharapkan ridha Allah SWT semata dan tidak menginginkan selainnya. Keikhlasan ini merupakan implementasi dari syahadat,” Laa ilaaha illallaahu”

Abu Qashim Al-Qusyairi menjelaskan: “Ikhlas adalah mengesakan Allah SWT dalam ketaatan yang hanya bertujuan untuk-Nya. Yakni dengan ketaatan yang dilakukannya itu, dia ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bukan kepada selain-Nya, seperti berbuat karena makhluk, mencari pujian orang, senang mendapatkan pujian, atau segala makna yang tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang keihklasan ini adalah firman Allah SWT:

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan agama untuk Allah yaitu agama yang lurus, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Barang siapa yang beribadah dengan ikhlas karena Allah SWT maka ia pun akan mendapatkan pahala Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Imam Muslim)

3. Sesuai dengan Tuntunan Rasulullah SAW

Syarat ini merupakan implementasi dari syahadat , Muhammadurrasulullah Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa melakukan sebuah ibadah yang tidak ada perintahnya dariku maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari Muslim)

Niat yang Jelek adalah Perusak ibadah. Di antara bentuk gambaran niat yang jelek adalah:
a. Riya`

Riya` yaitu memamerkan sebuah amalan dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dan sanjungan, ingin mendapatkan pengagungan atau pengakuan dari manusia. Riya` termasuk syirik kecil bila sedikit, dan akan menjadi syirik besar bila banyak. Allah berfirman:

“Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku padanya (dalam amalan tersebut) dengan selain-Ku, Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya.”

b. Sum’ah

Sum’ah adalah memperdengarkan amal kebajikan agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau kedudukan di hati manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa memperdengarkan kebaikannya, Allah akan memperdengarkan keburukannya (di dunia dan akhirat) dan barangsiapa yang memamerkan amalannya, Allah akan memamerkan keburukannya (di dunia dan akhirat).”

c. Berbuat untuk dunia


Hal ini telah ditegaskan oleh Ibnul Qayyim RA: “Adapun kesyirikan di dalam keinginan dan niat, bagaikan laut yang tidak bertepi. Sedikit orang yang selamat darinya. Barangsiapa yang beramal namun menginginkan selain wajah Allah WT meniatkan sesuatu yang bukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan bukan karena meminta ganjaran dari Allah SWT, sungguh dia telah melakukan kesyirikan di dalam keinginan dan niatan.

Ikhlas adalah seseorang memurnikan ucapan dan perbuatannya untuk Allah SWT, keinginan serta niatnya. Inilah agama Nabi Ibrahim AS, yang Allah SWT telah memerintahkan seluruh hamba dengannya, dan tidak akan diterima dari siapapun selain agama ini. Dan ini merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Beramal karena dunia dan dalam rangka mendapatkan harta benda, maka:

1. Jika keinginan seorang hamba seluruhnya demi tujuan ini dan tidak ada keinginan untuk mendapat ridha Allah SWT dan akhirat, maka dia tidak akan mendapatkan bagian apapun di akhirat. Amal semacam ini tidak mungkin muncul dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin meskipun lemah imannya, pasti memiliki niat untuk beramal karena Allah SWT dan dalam rangka mendapatkan bagian diakhirat.

2. Jika seseorang beramal karena Allah dan karena dunia, dan kedua tujuan ini keadaannya sama atau mendekati sama, walaupun ia seorang mukmin, maka ia berada dalam keadaan kurang dalam keimanan, tauhid, dan keikhlasan. Begitu pula amalnya kurang karena kehilangan kesempuranaan ikhlash.

3. Seseorang yang beramal karena Allah SWT semata dan keikhlasannya sempurna, namun ia mengambil semacam gaji dari amalan yang ia kerjakan untuk digunakan membantu pekerjaan dan agamanya -seperti seorang mujahid yang mendapat harta rampasan perang- maka tidak ada efek negatif bagi iman dan tauhidnya jika ia mengambilnya. Karena ia beramal bukan untuk tujuan dunia, namun ia beramal dalam rangka menegakkan agama. Dan ia bertujuan dengan apa yang dia dapatkan itu untuk membantu tegaknya agama.

Dari uraian diatas tentang bagaimana satu usaha untuk mencari rezki yang halal yang bernilai ibadah dimata Allah jelaslah bahwa, tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara. Berusaha, bekerja untuk mencari rezki adalah sebuah ibadah, tidak boleh dijadikan jembatan alternatif mencari nama atau popularitas.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa ibadah itu memiliki aspek yang sangat luas. Segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir atau batin, semua merupakan ibadah. Lawan ibadah adalah ma’syiat.

III. Kaidah-Kaidah atau Prinsip prinsip Berusaha/Bekerja Dalam Islam

Dalam Islam, bidang yang membahas masalah jual beli, perdagangan, usaha, bisnis, termasuk kedalam fiqh ekonomi (fiqih iqtishady) yang mencakup tentang aturan-aturan atau rambu-rambu yang diperoleh dari hasil ijtihad manusia yang didasarkan pada wahyu Ilahi (Al-Qur’an dan Al-Hadist), berkenaan dengan bagaimana manusia (individu-individu dan masyarakat) dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dengan membuat pilihan-pilihan dalam menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia. Islam telam memberikan guide lines (buku panduan) dalam melakukan setiap usaha yang dilakukan oleh manusia, supaya manusia tidak berlaku semaunya saja dalam mencari nafkah. Diantara prinsip-prinsip yang telah diatur dalm Syariat Islam itu adalah sbb:

1. Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, semua bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kita lain aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta an perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.

Allah telah menegaskan bahwa hakekatnya tujuan manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya ” Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepaKu”(QS Adz Dzariyat ayat 56), maka tentunya semua aktivitas kita di dunia tidak lepas dari tujuan itu pula. Rasulullah SAW bersabda ” Sesungguhnya amalan itu dengan tergantung dengan niatnya”

2. Akhlaq yang Mulia

Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT ke dunia ini adalah dalam rangka untuk menyempurnakan akhlaq manusisa. Oleh sebab itu menjaga sikap dan perilaku dalam berusaha, bekerja maupun berbisnis adalah prinsip penting bagi setiap muslim. Ini karena Islam sangat menekankan perilaku (akhlaq) yang baik dalam setiap kesempatan, termasuk dalam berbisnis, bekerja, maupun berusaha apaun juga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “


Lelaki yg ditarik ke neraka

* AyahApabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.* SuamiApabila seorang suami tidak memperdulikan tindak-tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram dan apabila suami mendiam diri. Walaupun dia seorang alim (solat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka dia akan ditarik oleh isterinya.* AbangApabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke pula kepada abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM…Tunggulah tarikan adiknya di akhirat.* Anak Lelaki

Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak…nantikan tarikan ibunya.Kepada golongan lelaki, cuba lah sebaik mungkin untuk melaksanakan tanggungjawab kalian.Kepada golongan wanita, sama-sama lah meringankan bebanan yang ditanggung oleh golongan lelaki.Bukankah kita diciptakan untuk sama-sama membantu dan nasihat-menasihati??


KISAH DUA ORANG MUSAFIR

Lepas ngaji

Man, kamu hafal ayat-ayat Al-Quran ini, kemudian ada tak yang kamu lupa?” tanya seorang kenalan.

Biasalah Mie, dah nama pun manusia, ada juga yang aku lupa. Kenapa Mie?” terang Man.

Aku ada dengar satu hadith nabi yang mana, siapa lupa ayat-ayat yang dia sudah hafal adalah berdosa besar, sebab itu aku takut nak hafal ayat Al-Quran banyak-banyak. Sikit cukuplah asalkan kekal,” kata Mie.

Ya, aku pun pernah dengar dahulu, tetapi persepsi aku sudah berubah setelah berdiskusi dengan seorang pakcik, dia ada memetik kata-kata Sheikh Yusuf al-Qardawi,” jelas Man.

Hadis yang menyatakan: Sebesar-besar dosa umatku ialah dosa orang yang hafal Quran kemudian lupa, adalah Dhaif dan menakutkan orang menghafal Quran – Yusuf Qardawi.

……………………………………………

Kisah Dua Orang Musafir.

Musafir

Kisah dua orang musafir adalah pemisalan antara orang yang menghafal Al-Quran dan orang yang tidak menghafalnya. Orang yang sentiasa menghafal Al-Quran dapat digambarkan sebagai seorang musafir jauh yang mana perlu tiba ke destinasinya dengan cepat. Maka dia akan membekali dirinya dengan makanan yang cukup dan tersedia masak. Sehingga bila musafir itu terasa lapar, lalu dicapainya bekalan yang tersedia masak itu tanpa perlu dia berhenti walau seketika. Maka dengan cara ini, dia dapat tiba ke destinasinya dengan cepat.

Adapun bagi orang yang tidak menghafal Al-Quran, digambarkan juga sebagai seorang musafir yang hala tujuannya adalah sama seperti musafir di atas. Namun, bekalan yang dibawa adalah bekalan mentah yang mana dia perlu mempersiapkan makanannya itu (dengan memasak dan sebagainya) sebelum boleh dimakan. Jadi, apabila dia lapar maka dia perlu berhenti untuk mempersiapkan makanannya itu. Dengan itu perjalanan dia akan lewat setiap kali dia lapar dan berhenti untuk makan.

Demikianlah analogi bagi orang-orang yang menghafal Al-Quran dengan yang tidak.

Orang-orang yang menghafal Al-Quran, dia boleh membacanya sepanjang hari tanpa mengganggu mahupun mencacatkan rutin kerja harian yang lain. Dengan itu, Allah mengizinkan para penghafal Al-Quran untuk membaca dan mengalunkan kalam-kalam agung di mana saja dia berada dan di setiap ketika. Dia boleh mengalunkannya ketika berkenderaan, berjalan, melakukan aktiviti harian seperti memasak, di dalam solat mahupun di luar solat.

Bagi orang yang kurang hafalannya pula, dia memerlukan masa untuk membersihkan diri, berwudhu’ dan kitab Al-Quran ketika dia ingin membacanya. Dan dia perlu mengambil waktu dengan duduk di hadapan mushaf Al-Quran untuk membacanya tanpa boleh membacanya sambil berkenderaan, berjalan mahupun ketika melakukan aktiviti seharian. Dengan itu ia akan membataskan segala kerja-kerja seharian yang lain sehingga lewatlah sebahagian waktunya yang lain.

Oleh kerana itu, para pembaca Al-Quran dan penuntut ilmu, marilah untuk kita sama-sama berusaha memperbaiki ilmu tajwid kita disamping memperbanyakkan koleksi hafalan kalam-kalam agung dari Allah. Kerana dapat dilihat, dengan menghafal Al-Quran ini dapat memberi banyak manfaat kepada diri sendiri dan juga ummat Islam yang lainnya memandangkan masa yang dikurniakan Illahi ini dapat digunakan seoptimum yang mungkin.

……………………………………………

recite quran

Aus : “Man, kenapa kau beriya-iya hafal Quran ni?

Man : “Persiapan untuk aku nikah nanti. Untuk aku bina baitul-muslim dan baitul-dakwah.

Aus : “Apa kaitan nikah dengan hafal Quran?

Hendaklah menjadi imam orang yang paling banyak menghafaz Al-Quran atau paling baik (tajwid) bacaannya di kalangan kamu. (Hadith riwayat Ahmad)

Man : “Bila sudah nikah nanti, ‘for sure’ aku akan jadi imam untuk rumah-muslim aku nanti. Jika tidak solat fardhu pun, aku pasti kena jadi imam untuk solat sunat. Bukankah sebaik-baik tempat untuk lelaki itu adalah dengan berjemaah di masjid.

Aus : “Dan yang pastinya kita menjadi imam untuk diri kita sendiri.

Man : “Benar.

……………………………………………

(Bacalah Al-Quran) dan jangan jadikan rumah kamu seperti kubur, tidak dimasuki syaitan rumah yang dibaca di dalamnya surah Al-Baqarah. (Hadith riwayat Tirmizi).

Seseorang yang tiada dalam dadanya suatu pun (apa yang dihafaz) dari Al-Quran samalah keadaannya seperti sebuah rumah yang buruk lagi usang. (Hadith riwayat Tirmizi).

Nabi S.A.W menasihati Abu Zhar: Bertaqwa kepada Allah kerana itulah modal kamu (bertemu Allah), bacalah Quran dan zikir kerana itulah cahaya bagimu di dunia. (Hadith riwayat Tobrani).

……………………………………………

Satu perkara yang menyedihkan kerana berapa ramai yang mengatakan bercita-cita menjadi penolong mahupun pejuang bagi agama Allah, tapi tidak bersungguh-sungguh mendalami ilmu tentang kalam Allah ini. Begitu juga bagi penuntut ilmu, yang mana di dalam dada mereka tidak mempunyai dan memiliki hafalan Quran yang kukuh bahkan ada antaranya tidak dapat membaca Al-Quran dengan baik. Ini merupakan suatu kecacatan yang besar bagi pandangan sesetengah ulama’ lebih-lebih lagi bagi mereka yang ingin memperjuangkan agama Allah.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (difahami dan hafaz), maka adakah orang yang mahu mengambil pelajaran (belajar/menghafaznya)? Al-Qamar:17.

Baca Quran

Sumber:mofas.wordpress.com/2009/04/12/kisah-dua-orang-musafir/


Selasa, 22 November 2011

Hukuman bagi orang yang berzina

hukum-zina2Dalil dari Al-Qur’an adalah: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’: 32)

Ketika disebut bahwa hukuman zina adalah 100 kali dera bagi yang belum menikah dan rejam bagi yang berkeluarga, banyak orang yang belum beriman merasa bahwa hukuman Islam itu kejam.

Padahal jika dipikir, Allah telah memberi banyak kelonggaran. Allah telah memperingatkan untuk tidak mendekati zina. Allah menghalalkan pernikahan. Jika tak cocok, Allah juga mengizinkan (meski Allah membenci perceraian) orang bercerai untuk kemudian menikahi orang yang dia inginkan. Allah bahkan mengizinkan seorang Lelaki untuk beristeri sampai dengan 4 asal dia adil dan memberi nafkah seluruh isterinya lahir dan batin.

Jadi kenapa harus berzina? Kalau tidak berzina, maka hukuman yang keras itu tidak akan diterapkan bukan?

Tapi kalau hukuman zina sangat ringan, maka perzinaan merajalela. Berbagai penyakit seperti GO, Rajasinga, bahkan AIDS yang mematikan bukan saja menimpa sang pelaku zina, tapi juga pasangan dan bayinya yang tidak berdosa.

Betapa banyak pembunuhan atau pertengkaran yang terjadi karena zina atau cemburu buta. Seorang wanita yang hamil 6 bulan dibunuh oleh “kekasihnya” setelah dia minta pertanggung-jawaban agar dinikahi. Berapa banyak lelaki yang memperkosa perempuan yang masih dibawah umur 5 tahun, bahkan memperkosa anak kandungnya sendiri.

Itulah keruntuhan moral yang terjadi karena manusia enggan melaksanakan hukum Allah karena lemahnya iman mereka.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” [An Nuur:2]

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Seorang lelaki dari kalangan orang Islam datang kepada Rasulullah s.a.w ketika baginda sedang berada dimasjid. Lelaki itu memanggil baginda s.a.w, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melakukan zina, Rasulullah s.a.w berpaling darinya dan menghadapkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu berkata lagi kepada baginda, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melakukan zina, sekali lagi Rasulullah s.a.w berpaling daripadanya. Perkara itu berlaku sebanyak empat kali. Apabila dia mengaku ke atas dirinya sampai empat kali, akhirnya Rasulullah s.a.w memanggilnya dan bersabda:
Adakah kamu gila? Lelaki itu menjawab: Tidak, Rasulullah s.a.w bertanya lagi: Apakah kamu sudah berkahwin atau berumahtangga? Lelaki itu menjawab: Ya. Maka Rasulullah s.a.w bersabda kepada para sahabatnya: Bawalah dia pergi dan laksanakanlah hukuman rejam ke atas dirinya” [Bukhori-Muslim]

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a katanya: Sesungguhnya Nabi s.a.w bertanya kepada Maiz bin Malik. Apakah benar berita yang sampai kepadaku mengenai dirimu itu? Beliau bertanya pula kepada Rasulullah s.a.w, berita apakah itu? Rasulullah s.a.w menjawab dengan bersabda: Aku mendengar bahawa kamu telah melakukan zina dengan seorang hamba perempuan sianu. Ma’iz bin Malik menjawab: Memang benar. Bahkan dia sendiri mengaku sampai empat kali, bahawa dia memang melakukan zina. Akhirnya Rasulullah s.a.w memerintahkan supaya dilaksanakan hukuman rejam ke atasnya” [Bukhori-Muslim]

MENJALANKAN HUKUM REJAM

(1) Hukuman rajam bagi lelaki yang salah hendaklah dijalankan hukuman itu dalam keadaan berdiri tanpa diikat dan tidak ditanam, sambil berdiri tanpa diikat dan tidak ditanam, adanya laporan saksi atau dengan iqrar (pengakuan), kerana Rasulullah saw tidak menanam Ma’iz bin Malik, dan dua orang Yahudi ketika dijalakan hukuman rajam ke atas mereka itu.

(2) Pezina-pezina perempuan yang dijatuhkan hukuman rajam hendaklah ditanam sebagian badannya, jika kesalahan itu disabitkan dengan saksi. Cara menjalankan hukuman rajam ke atas Pezina-pezina perempuan sebagaimana tersebut adalah merujuk hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan daripada Abi Bakrah daripada Bapanya katanya:-Bahawasanya Nabi saw telah merejam seorang perempuan, lalu digalikan lubang hingga ke paras susu perempuan itu untuk merejamnya. – Riwayat Abu Daud

(3) Pezina-pezina perempuan yang dijatuhkan hukuman rajam yang disabitkan kesalahan dengan iqrar (pengakuan perempuan itu) tidak perlu ditanam ketika dijalankan hukuman rejam, tetapi hendaklah diikat pakaian perempuan itu supaya tidak terbuka auratnya.

(4) Mereka yang mati disebabkan rajam, mayat mereka itu hendaklah dimandikan, dikapankan, disembhayangkan dan dikebumikan di perkuburan orang Islam sebagimana Hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan daripada Buraidah mengenai mayat Ma”iz b Malik yang mati dirajam sabdanya:

Laksanakanlah mayat Ma’iz itu sebagimana kamu laksanakan mayat-mayat kamu. – Riwayat Ibnu Abi Syaibah.


Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)