Sabtu, 19 November 2011

Larangan Panjang Angan-Angan


Dari 'Abdullah bin 'Amr r.a, ia berkata, "Pada suatu hari ketika kami sedang memperbaiki rumah kami, mendadak Rasulullah saw. lewat dan bertanya, 'Apakah yang kamu kerjakan?' Kami berkata, 'Gubuk ini sudah tua dan kami sedang memperbaikinya.' Rasulullah saw. berkata, 'Saya kira ajal kita lebih cepat datangnya daripada runtuhnya gubuk ini

Kandungan Bab:

  1. Makruh hukumnya panjang angan-angan untuk membangun dunia yang fana ini karena kehancuran dunia begitu cepat. Namun, hendaklah meletakkan kematian di depan matanya karena kematian lebili cepat datang menghampirinya. Barangsiapa melakukan hal itu niscaya amalnya akan menjadi baik dan niatnya akan menjadi ikhlas. Akan tetapi, barangsiapa menyibukkan diri dengan dunia niscaya ia akan lupa tempat kembali yang pasti didatanginya.
  2. Hadits di atas bukan berarti anjuran meninggalkan apa-apa yang bermanfaat dan mengabaikan urusan dunia yang menjadi kebutuhan hidup manusia. Akan tetapi, hal itu merupakan anjuran agar kita tidak terlalu condong kepada urusan dunia sehingga menjadi keinginan kita yang paling besar dan menjadi kesudahan ilmu. Kita memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 1/601-602.

Oleh: Fani


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)