Minggu, 13 November 2011

Menjadi Kaya Tak Bahagia

Banyak orang yang bercita-cita menjadi orang kaya. Hidup berkecukupan, begitu nikmat. Namun, setelah mereka mencapai di titik itu apakah mereka bahagia? Jawabannya tentu tergantung dari tiap individu.

Sekedar berbagi sedikit, pada beberapa acara reality show di televisi, serta fenomena di sekitar kita, kita dapat merenungkan dan berpikir bahwa tak selamanya harta yang melimpah itu membawa faedah yang berujung pada kebahagiaan. Tak percaya?

Coba diingat lagi! Dari acara reality show dan fenomena di sekitar kita tersebut, berapa banyak di istana orang kaya ini terjadi linangan airmata?Bingung maksudnya?

Begini, coba ditelisik kembali ingatan kita!Sudah ingat?O.k. Banyak terjadi perselingkuhan,penggunaa narkoba dan beberapa tindakan amoral yang dilakukan oleh mereka dari kalangan orang kaya tersebut. Lalu, pertanyaannya mengapa hal ini dapat terjadi?

Kalau menurut saya, ini disebabkan karena mereka tak bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki. Kekayaan yang dititipkan kepada mereka, justru dijadikan celah untuk berbuat maksiat. Padahal, seharusnya mereka menyadari bahwa harta yang dibawa pada hal-hal yang menyimpang, mudharat, takkan bertahan lama. Kalaupun harta itu masih bertahan, akan tetapi harta yang sesungguhnya, yaitu “kebahagiaan” tak pernah mereka dapatkan. Yang mereka alami justru masalah demi masalah yang bertambah pelik, pertengkaran demi pertengkaran yang menyesatkan pikiran dan mengganggu ketenangan hati. Kalau sudah begitu apakah kebahagiaan akan didapatkan??



Kaya Isteri :D

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)