Senin, 14 November 2011

Pilih kaya atau bahagia

Ukuran bahagia memang bukan ada pada kaya atau miskin, bahagia adalah ada pada hati, hati yang ihlas dan sabar, akan membuat kita jadi bahagia, sementara rasa tamak dan serakah akan membuat hati jadi gelisah.

Miskin itu tidak enak, sudah tidak punya apa-apa, terkadang juga dianggap sebelah mata, boro-boro bisa ngebiayain anak sekolah, sekedar makan saja sungguh sangat susah. Apalagi jadi orang miskin di Indonesia lebih susah lagi, pemerintah hanya memperhatikannya saat pemilu atau pilkada.

Kaya itu sangat enak, semua yang di inginkan bisa di beli, di hormati orang, banyak teman, bisa menggaji orang untuk membantu dirinya menikmati kesenangan hidup.

Semua orang tentu saja punya keinginan untuk kaya, hanya saja tidak semua orang mampu mewujudkan keinginannya tersebut.

Beruntung orang yang bisa mewujudkan keinginanya untuk menjadi orang kaya, namun Keberuntungan jadi orang kaya belum tentu merupakan keberuntungan hidup,nah lho kok bisa?

Banyak orang yang mampu bertahan dalam kemiskinan, di sisi lain banyak orang yang mampu jadi orang kaya tapi belum tentu siap jadi orang kaya.

Jadi orang kaya itu memang enak bagi kita yang melihat, tapi belum tentu enak bagi si orang kaya tersebut, banyak cerita kita dengar bawha ketika dia masih miskin dia bisa tidur nyenyak, tapi ketika dia jadi orang kaya malah tak bisa tidur.

Ukuran bahagia memang bukan ada pada kayak atau miskin, bahagia adalah ada pada hati, hati yang ihlas dan sabar, akan membuat orang jadi bahagia, sementara rasa tamak dan serakah akan membuat hati jadi gelisah.

Orang kaya yang serakah, yang selalu merasa belum cukup, yang tidak bersyukur, hatinya akan selalu melihat ke atas dan ke atas lagi, dia selalu ingin ada diatas orang lain, bisa di pastikan dia tak akan merasakan bahagia. Boleh saja dia bisa menikmati kesenangan dan segala kenikmatan dunia, tapi belum tentu dia merasa bahagia, karena rasa bahagia adanya di hati, bukan ada di tangan di kaki ,di mulut atau pada anggota tubuh yang lainya.

Orang miskin yang sabar, yang ihlas, yang selalu giat berpikir dan bekerja, yang hatinya sadar bahwa Allah maha kaya, yang sadar bahwa kemungkinan dirinya sedang di uji, bisa di pastikan dia akan selalu bahagia.

Nah lalu apa yang kita cari? Kebahagian apa kenikmatan hidup? Kalau hanya kenikmatan hidup yang di cari, kita akan cenderung menghalalkan segala cara, dari sinilah timbulnya penipuan, manipulasi, korupsi,dan berbagai macam kecurangan demi untuk mendapatkan harta untuk membeli kenikmatan.

Sedangkan kalu kebahagian hidup yang kita inginkan kita pasti akan berpikir juga tentang kebahagian hidup di ahirat, tidak semata kesenangan hidup di dunia.

Sekali lagi apa yang kita cari? Kenikmatan ataukah kebahagiaan? hanya kita masing –masing yang bisa menjawabnya. Jika kita sudah tahu jawabanya, kitapun pasti tahu apa yang harus kita jalani dalam hidup ini.

Ps.

Hidup memang hanya satu kali, tapi ingat setelah mati ada kehidupan lagi, kehidupan yang abadi, dimana senang dan menderitanya kita di alam keabadian itu, tergantung perbuatan kita di dunia ini, Surga dan neraka bukan dongeng.


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)