Selasa, 20 Desember 2011

Renungan : Betapa Agungnya Seruan Allah

Bayangkanlah, jika kita berada di suatu tempat namun tidak terdengar suara adzan pada saat waktu shalat. Bagi orang yang suka menyia-nyiakan shalat mungkin hal itu biasa saja. Tetapi kalau hati kita terpaut dengan masjid pasti kita mungkin gundah gulana karena bertanya-tanya dalam hati apakah telah masuk shalat.

Saat adzan berkumandang, kita harus langsung menyambut seruan tersebut dengan gembira sambil menyerukan kembali apa yang muadzin kumandangkan. Karena orang yang menjawab adzan dengan keyakinan kepada Allah, dimudahkan Allah memasuki syurga.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Serta dalam hadistnya yang lain Beliau Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Masya Alloh, sungguh mulia sekali hanya dengan menjawab adzan dengan penuh keyakinan Rasul menjamin kita dengan Surga. Bukankah ini menjadi motivasi kita untuk menjawab adzan.

Apakah antum semua pernah berfikir tentang keagungan adzan yang berkumandang. Seruan adzan yang memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan shalat adalah seruan yang sangat agung dimana di seluruh penjuru dunia saat tiba waktu shalat bersama-sama menyerukan kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah serta menyerukan bahwa dengan shalat kita bisa meraih kemenangan.

Namun sungguh menyedihkan fenomena saat ini, masjid-masjid yang berdiri kokoh dan megah pada saat tiba waktu shalat wajib hanya diisi oleh satu sampai dua shaf. Padahal banyak sekali dari kita yang seharusnya bisa melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, ada seorang muadzin yang mengumandangkan adzan. Namun ia pula yang menjadi imamnya serta makmumnya (ia shalat sendirian di masjid tersebut)

Lantas, apakah alasan kita untuk tidak shalat berjamaah di masjid ? Apakah kita sibuk dengan mengejar dunia yang fana ini. Apakah kita malas untuk melaksanakan panggilan Allah. Apakah kita tidak mengetahui bahwa pahala shalat berjamaah lebih baik daripada 27 derajat. Kita semua mengetahui hal itu, namun apakah yang menghalangi kita untuk shalat berjamaah di masjid. Seakan kaki ini amat berat untuk melangkahkan ke tempat yang amat mulia tersebut.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam kembali memotivasi kita dengan hadistnya,

“Maukah kalian aku tunjukkan apa-apa yang menyebabkan Allah menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian”. Mereka berkata: “Ya, wahai Rasul”, kemudian Rasul menyebutkan salah satunya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. (HR. Muslim)

Melalui hal seperti ini kita dapat belajar dan merenungkan bahwa betapa agungnya Islam. Dan betapa hinanya jika kita menyepelekan hal yang agung tersebut. Kita seakan-akan menutup hati kita untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah, padahal pasti kita telah hafal betul apa keutamaan dari shalat berjamaah.

Wallahu alam.


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)