Selasa, 01 November 2011

Penggunaan Tanda Titik (Nuqat) dan tanda baca dalam Mushaf Al-Qur’an Zaman Dulu

Setelah kita mendiskusikan ejaan (ortografi) sekarang kita beralih pada masalah tulisan (palaeografi).23 Seperti dalam bab sebelumnya kita menelusuri palaeografi Arab dalam perspektif sejarah, sekarang kita hendak telusuri dalam konteks AI-Qur’an dan meneliti perkembangannya. Sebagian besar dari diskusi ini akan berputar di sekitar permasalahan nuqat ( : titik ) yang mempunyai dua makna pada zaman awal Islam:

Kita akan diskusikan kedua-duanya dengan panjang lebar.

i. Tulisan Arab Kuno dan Kerangka Tanda Titik

Rasm al-Khat (lit. gambar skrip) Al-Qur’an dalam Mushaf ‘Uthmani tidak memuat tanda titik untuk membedakan karakter seperti b ( ), t ( ), dan seterusnya, dan juga tidak ada baris diakritikal (bawah, atas) seperti fathah, dammah, dan kasrah. Sebenarnya ada bukti kukuh yang menunjukkan bahwa konsep tanda titik ini bukan sesuatu yang baru untuk orang Arab, sudah diketahui sebelum Islam datang. Walaupun bagaimana tanda titik ini tidak ada pada Mushaf-Mushaf klasik. Apa pun juga alasan filosofisnya di kejadian ini,26 saya akan mengemukakan beberapa contoh untuk membuktikan bahwa palaeo­grafi (tulisan) Arab klasik mempunyai tanda titik untuk menemani kerangka sifat (huruf).

  1. Batu nisan Raqush, Inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua, tahun 267 M., mencatat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin.27
  2. Sebuah inskripsi, kemungkinan sebelum Islam, di Sakaka (Arab Utara), ditulis dalam skrip yang rada aneh:


    _
    _


_

ii. Penemuan Tanda Diakritikal

Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tashkil yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaika melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar Al­Qur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.36

Ad-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mesti­nya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanween (dua dammah), Fathah tanween, atau kasrah tanween sebagaimana mestinya37 (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H. / 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah Mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M.


Gambar 10.6: Contoh Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi, memuat kerangka tanda titik ad­ Du’ali. Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.

Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari ad-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laithi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu.38 Beberapa abad kemudian skim kerangka al­ Fraheedi menggantikan sistem sebelumnya.

Setiap pusat (kota) kelihatannya pada awalnya mempraktikkan kaidah yang berlainan. Ibn Ushta melaporkan bahwa Mushaf Isma’il al-Qust, Imam Mekah (100-170 H. / 718-186 M.) memakai sistem tanda titik yang tidak sama dengan Mushaf yang digunakan oleh orang Irak,39 sedangkan ad-Dani men­catat bahwa ilmuwan San’a’ mengikuti kerangka lain.40 Sama juga, bentuk atau contoh yang digunakan orang Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh orang Basra; pada ujung abad pertama hijrah bagaimanapun, kaidah orang Basra semakin meluas sehingga orang-orang Madinah pun mengadopsinya.41 Perkembangan berikutnya mulai memperkenalkan tanda titik warna-warni, setiap tanda diakritikal telah diberi warna yang berbeda.

Gambar 10.7: Contoh Mushaf dalam skrip Kufi. Titik diakritikal warna-warni (merah, Hijau, kuning, dan Biru muda). Per1u dicatat juga pemisah ayat dan tanda kesepuluh ayat, sebagaimana telah disinggung dalam bab 6. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.

iii. Penggunaan Secara Paralel dari Dua Skema Tanda Diakritikal yang Berbeda

Skim diakritikal Khalil bin Ahmad al-Fraheedi menyebar dengan cepat dalam pengenalannya bukan saja pada teks Al-Qur’an, jadi untuk tujuan mem­bedakan skrip dan tanda diakritikal yang digunakan untuk naskah Al-Qur’an selalu dijaga sehingga skrip dan tanda ini dibedakan dari skrip dan tanda yang digunakan pada buku-buku lain, walau bagaimanapun beberapa ahli kaligrafi secara perlahan sudah mulai menggunakan sistem diakritikal yang baru dalam Al-Qur’an.42 Saya beruntung sekali karena mempunyai beberapa buah gambar Al-Qur’an berwarna dari koleksi San’a’, di mana dengan perkembangan skim seperti ini akan mudah dijelaskan.

Gambar 10.6 dan 10.7 (di atas) kemungkinan dari abad kedua hijrah sedang­kan di bawah ini adalah contoh skrip Al-Qur’an pada abad ketiga hijrah.43

Gambar 10.8: Contoh skrip AI-Qur’an pada abad ketiga hijrah. Perlu dicatat lagi tanda titik warna-warni. Jasa Baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.

Gambar berikut ini adalah contoh skrip yang bukan Al-Qur’an pada periode yang sama. Perbedaannya dapat dilihat dalam skrip dan dalam skim kerangka yang digunakan pada titik dan tanda diakritikal. Untuk contoh yang lain, lihat gambar 10.11 dan 10.12.

Garnbar 10.9: Contoh skrip yang bukan Al-Qur’an, akhir abad kedua Hijrah. Perlu dicatat tanda diakritikal sama dengan skim al-Fraheedi. Sumber: A. Shakir (peny.) ar-Risalah of ash-Shafi’i, Kairo 1940, Papan gambar 6.

<

23. Sebagai peringatan: ortografi adalah ejaan yang konvensional, sedangkan palaeografi (dalam konteks ini) akan membahas tentang skrip sebuah bahasa, dengan bentuk hurufnya dan penempatan titik dan sebagainya.24. Ini berarti untuk menggambarkan bunyi pendek vokal. Nama lain adalah al-haraka6 clan dalam bahasa Urdu ini disebut zair, zabar, paish…dst.

25. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 6. Pengarang terkenal, ad-Dau’ali menulis karangannya tentang grammar (dan menemukan tashkil) sckitar tahun 20 H. / 640 M.

26. Untuk mendiskusikan motif ini lihat hlm. 107. Apakah ini disebabkan perbedaan dalam

pembacaan Al-Qur’an bisa dilihat pada bab ke-11.

27. Untuk lebih detailnya, lihat 134.
28. F.V. Winnet dan W.L. Reed, Ancient Records from the North Arabia, University of Toronto Press, 1970, hlm. 11.

29. M. Hamidullah, Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 44, 45; lihat juga S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabic, hlm. 102-103.,

30. Hamidullah di dalam Six Originaux des Letters Diplomatiques du Prophete de L’Islam, hlm. 47, melaporkan bahwa Grohmann (From the World of Arabic Papyri, Kairo, 1952, him. 62, 113-114) melakukan kesalahan dalam membaca lima baris teks Arab. Dalam baris 4, dia membaca sedangkan ia adalah pada baris 5, dia membaca dan padahal ia dibaca masing-masing dan

31. A. Munif, Dirasah Fanniyyah li Mushaf Mubakkir, hlm. 139 mengutip Grohmann, “Arabic Inscriptions”, Louvain 1962, vol. l, xxii, no. 2, hlm. 202.

32. Ibid, hlm. 140 merujuk kepada sebuah buku yang ditulis oleh Dr. S. ar-Rashid tentang Kota

Islam.

33. S. al-Munaggid, Etudes De Paleographic Arabe, hlm. 101-103 mengikuti G.C. Miles, “Early Islamic Inscriptions Near Taif, in the Hidjaz”, JNES, vol. Vii (1948), hlm. 236-242.

34. Al_Khatib al-Baghdadi, al-Jami, I:269.

35. Untuk lebih detail lagi, lihat bab tentang Metodologi Muslim.
36. Ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 4-5, catatan kaki 2, mengutip Ibn al-Anbari, al-Idah. hlm. 15a – 16a. An-Nadim memberikan penjelasan yang detail tentang manuskrip karangan ad-Du’ali tentang grammar. Dia menemukannya di perpustakaan Abi Ba’ra, terdiri dari empat folio dan ditulis (dikopi) oleh seorang ahli tata bahasa yang terkenal Yahya bin Ya’mar (meninggal 90 Hijrah/708 Masehi). Ini Mengandung tanda tangan ahli grammar yang lain, ‘ allan an-Nahawi, clan di atas tanda tangan an-Nadr bin Shumail. (an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 46). Tanda tangan ini mensahkan keaslian karya tulis Abu as­Aswad ad-Du’ali.

37. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 6-7

38. Ibid, hlm. 7.

39. Ibid, hlm. 9.

40. Ibid, hlm. 235.

41. Ibid, hlm. 7.

42. Di antara ahli kaligrafi ini adalah: Ibn Muqla (meninggal 327, Hijrah),. Ibn al-Bawwab (meninggal 413 Hijrah)… dst. Sebenamya Ibn al-Bawwab telah menyimpang ejaan (ortografi) Mushaf ‘Uthmani. Trend sekarang adalah kembali ke ortografi klasik, seperti Mushaf yang dicetak oleh Kompleks Raja Fahd di Madinah (lihat hlm. 131?..).
43. Berdasarkan penjelasan dalam katalog: Masahif San’a’, Dar al-Athar al-Islamiyyah (Museum Nasional Kuwait), 19 Maret-l9 Mei 1985, Papan gambar no. 53. dalam hal ini saya ada beberapa catatan; contohnya saya pcrcaya bahwa gambar 10.6 adalah skrip akhir abad pertama hijrah.

hbis.wordpress.com/2010/03/14/penggunaan-tanda-titik-nuqat-dan-tanda-baca-dalam-mushaf-al-qur’an-zaman-dulu/


0 komentar:

Poskan Komentar

Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)