Sabtu, 17 Desember 2011

tarbiyyah cinta SANG PENCIPTA


Ujian itu tarbiyyah Allah kepada hamba-hambaNya untuk menguji sejauh mana tahap keimanan dan kesabaran HambaNya apabila mengaku beriman kepadaNya. Tarbiyyah di sini adalah didikan dari Allah. Tapi tatkala ujian melanda diri, hati kecil ini tidak seakan-akan tidak sedar yang diri sedang dinilai Allah Taala. Ada saja kegelisahan, keraguan, kegusaran dan pertanyaan yang datang ke dalam diri. Mengapa perlu aku? Apa salah aku? Apa dosa aku? Siapa nak bantu aku? Aku tak layakkah? Aku hina sangatkah? Kenapa dalam waktu ini juga benda ni nak jadi? Kenapa bukan dulu? Kenapa bukan kemudian je?

Persoalan yang bertandang di lubuk hati seolah-olah seperi tidak pernah tahu hakikat diri sebagai hamba. Jangan sampai ujian tersebut bertukar menjadi istidraj gara-gara tidak yakin dengan percaturan Yang Maha Mencipta. Nilai yang Allah bakal tukar dengan ujian sangat besar cuma belum nampak di mata sebab itu manusia lebih memilih untuk banyak merungut. Ya Allah...aku mengaku menjadi hambaMu, aku mengaku menjadi umat kekasihMu,aku sibuk membawa agamaMu, aku lantang bercerita tentang kekuasaanMu. Namun apabila Engkau datangkan kepadaku angin yang kuat tanda kasih-sayangMu, aku mula goyah, hati mula berubah. Mula mempersoalkan hakku sebagai hamba yang membawa agamaMu. Aku tempang Ya Allah.. tempang dalam sempurna. Cacat dalam luhur, hina dalam mulia. Engkau lihat segala-galaNya Ya allah. Engkau Nampak segalaNya. Engkau tahu apa yang ku derita, Engkau atur segalanya penuh sempurna.

Bak cerita Ustaz Abdullah dalam ‘Sang Murabbi’, cerita seekor monyet yang berada di atas pokok. Apabila didatangkan 3 jenis angin pada masa yang sama; angin taufan, angin ribut, dan angin puting beliung , pegangan monyet itu akan lebih mantap dan kuat. Lebih kukuh. Monyet tersebut tidak akan jatuh. Tapi apabila didatangkan kepada monyet itu angin sepoi-sepoi bahasa, menyapa lembut ke pipi monyet itu, mendayu-dayu.Monyet itu lalu memejamkan mata menghayati keasyikan buaian angin itu,genggaman di pokok mula longgar. Maka monyet itu akan jatuh tersungkur di tanah.





Inilah perumpamaan yang diberikan kepada seorang pembawa agama ataupun dai’e. Apabila Allah datangkan ujian yang sangat hebat kepadanya, diuji dan ditusuk dari pelbagai arah, seorang pembawa agama tidak akan rebah, tidak akan mudah patah. Dia kuat, dia tabah, dia tahu dia sedang dilatih oleh Rabbnya namun apabila diuji dengan kesenangan, dengan cinta, yang membuat dia terbuai-buai, dia akan alpa. Dia mudah leka, dia lupa semua.. Hatinya sangat asyik dengan ujian yang sepatutnya menguatkan dia lantas sungkurlah seorang daie yang leka dengan kesenangan sementara..Musnah! Musnah semuanya. Banyak cerita yang didengar. Dai’e tewas dengan nafsu sendiri. Alpa..Leka..Terlupa yang diri telah membuat perjanjian dengan Allah. Perjanjian taat setia yang tidak berbelah bahagi.

Firman Allah SWT :
“ Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”- 10“ Iaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” – 11“Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yan baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung”- 12
Ass-Saff: 10-12



Lantas apa yang dimahukan lagi oleh seorang insan apabila ditawarkan dengan tawaran sebegitu rupa oleh Allah. Maha Suci Allah, Tuhan Pencipta segala yang wujud, Tuhan pemilik segala cinta, Tuhan pemegang semua hati-hati. Allah tawarkan tawaran yang besar kepada hambaNya hanya dengan sedikit kesusahan dan kepayahan namun diri tidak pernah bersyukur. Ya, kita manusia biasa, tak dapat lari dari kesilapan. Kita lemah, kita bersifat lupa. Perlu selalu diingatkan. Namun jika kesilapan yang sama diulang-ulang, itu bukan kesilapan. Manusia belajar dari kesilapan. Bukan mengulang kesilapan. Namun jangan lupa, sejauh mana kita lari dan jauh dari Allah, lakukanlah sebesar mana dosa, Allah yang Maha Penyayang tetap akan mengampunkan hambaNya kecuali dosa syirik.
Firman Allah SWT :
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kerana mempersekutukanNya (syirik), Dan Dia memgampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar. “
(An-Nisa’:48)
.................................wAllAhuA’lam.....................................



Sumber:wardahsafiyya.blogspot.com/2011/01/tarbiyyah-cinta-sang-pencipta.html

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)