Kamis, 23 Agustus 2012

Iqra' (Bacalah) Bismi Rabbika (Dengan Nama Rabb Engkau), telah membuka lembaran baru bagi kemajuan menjadikan manusia makhluk utama



 Iqra’ bismi Rabbi-ka
Perintah Pertama Kepada Nabi saw
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)
‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)
Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakat kelilingnya disungkup oleh kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan untuk mencoba menjauh dari lingkungan yang tidak kondusif itu. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, jaraknya tidak terlalu jauh dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.
Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu latihan dan ketetapan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima peran lebih besar Menjadi Rasul utusan Allah. Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang mengawali kitab suci Alquran, di awali dengan perintah untuk membaca (iqra' = bacalah).
Fi’l amar atau kalimat perintah iqra (bacalah) di dalam firman Allah ini sama sekali tidak menjelaskan obyek (maf 'ul bih) nya.
Dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum.
Menurut ilmu balaghah kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq, tetapi mu qayyat (bersyarat), yakni bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca sesuatu yang bebas nilai.
Akan tetapi mempunyai nilai hakiki, bismirabbika, alladzi khalaq (dengan nama Tuhanmu, Yang Maha Menciptakan).
Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain dan tidak memiliki nilai apapun kecuali kesia-siaan.
Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir).
Di antaranya, perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu;
“Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah.
Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami.
Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”
Membaca memiliki proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi yang dibaca. Seseorang yang membaca akan memperoleh pengetahuan (ilmu).
Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dari Al Qur'an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam.
Membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.
Disimpulkan  makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian.
Pertama,    bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang ada dalam Alquranul Karim (al Aayaat al Qauliyyah).  
Kedua,   bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).
Dalam Alquran terdapat ratusan ayat yang memerintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan.
Demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan, di antaranya ;                  
Pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya.
Akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.
Intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham, kecuali orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.
Kemampuan dimiliki manusia sangat terbatas, baik bersifat fisik yang masih menyimpan misteri bagi manusia, apatah lagi yang bersifat non-fisik dan irrasional yang tidak mampu dicerna akal.
Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas itu. Wahyu memberikan kepastian agar akal tidak mengelana tanpa arab yang dapat membawa kepada ketersesatan dari kebenaran yang hakiki. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi yang datang dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlak.
Seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia di masa modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup pada segala sisi aspek kehidupan mesti dihadapi dan harus diatasi.
Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan menjadi salah satu sarana yang diperlukan dan dapat mengantarkan pada kemudahan penguasaan alam kelilingnya. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat imperatif di dalam menatap perkembangan zaman dan menjadi dorongan inovasi peradaban semua ras manusia.
Dengan demikian, maka upaya meraihnya adalah dengan belajar. IQRA’ = bacaalah.
Allahu a ‘lam bishawab.
Wassalam
Buya H.Mas’oed Abidin

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)