Jumat, 19 Oktober 2012

Cinta dan Benci



Seorang pria dan wanita duduk di taman kota saat musim semi tiba. Mereka duduk berdampingan, berdekatan antara bahu-bahunya, sambil menikmati indahnya bunga-bunga semerbak dan kolam bundar di tengahnya. Tak lama berselang sang pria berkata; “Aku mencintaimu. Kau baik, cantik dan memiliki kecerdasan”
Sang wanita membalas; “Aku pun mencintaimu. Kau adalah khayalan yang indah, cita-cita yang tercapai tangan dan tubuhku, dan kau pun laksana nada-nada syahdu dalam mimpiku”
Mendengar sambutan dari sang wanita, pria itu segera menatap tajam matanya. Saat itu wajahnya pun menampakkan amarah yang memuncak, lalu berkata; “Tinggalkanlah aku sekarang”
Terkejutlah sang wanita, lantas bertanya keheranan; “Kenapa begitu?”
“Engkau tidak benar-benar mencintaiku. Aku bukanlah khayalan yang indah, bukan pula cita-cita dan nada-nada syahdu dalam mimpimu. Tapi aku adalah pria yang mencintaimu dan kuingin engkau pun mencintaiku. Aku sungguh ingin engkau mau ku persunting dan menjadi ibu dari anak-anakku nanti” Jawab sang pria.
Mendapat jawaban itu, si wanita pun berkata meyakinkan; “Tapi aku benar-benar mencintaimu”
Sang pria pun membalas; “Rasa cintamu sungguh berarti bagiku, namun saat ini tidaklah cukup”
“Berarti engkau tidak mencintaiku?” Tambah sang wanita.
“Kini aku bahkan membencimu” Balas si pria dengan suara yang lantang.
Mendapatkan jawaban itu, sang wanita awalnya bingung. Ia hanya bisa terdiam namun menatap lembut ke arah wajah sang pria untuk mencari jawaban, hingga ia pun akhirnya tertunduk. Sesaat tak ada kata-kata yang keluar dari liang mulutnya, ia cuma bisa menekur diri. Namun setelah merasa cukup, ia pun berkata: “Sungguh, kebencianmu sangat berarti bagiku”
Kali ini sang pria baru mau membalasnya dengan senyuman; “Kini barulah engkau bisa mencintaiku, sebab tak ingin lagi mengubahku”

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)