Jumat, 22 Februari 2013

Dunia sementara

Dari Ibnu Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah S.A.W memegang bahuku lalu ia bersabda:
Hendaklah engkau berada dalam dunia seolah-olah engkau orang berdagang
atau orang yang sedang melalui di jalan (pengembara).

Dan adalah Ibnu Umar r.a berkata:
Jika engkau berada di waktu petang, maka janganlah engkau menunggu pagi;
dan apabila engkau berada di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu petang.
Dan gunakanlah dari sihat engkau bagi masa sakit engkau dan
dari hidup engkau bagi masa mati engkau.
(Riwayat Al-Bukhari)

Huraian Hadith:
1. Dunia adalah tempat untuk manusia beramal dalam sekian waktu yang ditentukan dan bukanlah tempat untuk bermukim, bersenang lenang sepanjang hayat kerana kedudukan seseorang itu di dunia ini adalah seperti pedagang atau pengembara yang akan pulang ke kampung halaman tempat asalnya iaitulah alam akhirat yang kekal abadi.

2. Untuk itu, tiap-tiap amal ada waktunya di mana apabila luputnya waktu sesuatu amal belum tentu waktu itu akan berulang kembali. Oleh itu orang yang mengerti nilai waktu akan menyedari bahawa waktu itu sebenarnya adalah umurnya yang jika habisnya suatu detik waktu maka berkuranglah jangka hayatnya dan berkurang pula tempoh amalnya. Selepas itu kekecewaan dan penyesalan tidak berguna lagi.


3. Oleh itu seseorang yang inginkan kebahagian yang kekal abadi hendaklah memelihara waktunya daripada terbuang dengan percuma atau sebelum tiba waktu yang menghalang seperti sibuk, sakit dan sebagainya.


يَـٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَـٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَـٰعٌ۬ وَإِنَّ ٱلۡأَخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ"Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (untuk sementara waktu sahaja) dan sesungguhnya hari akhirat itulah sahaja negeri yang kekal."
(Surah Al-Ghafir 40: Ayat ke 39)

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)