Sabtu, 19 November 2011

Boneka Horta, Sarana Edukasi untuk Anak-anak

Boneka ini tampil dalam beragam rupa. Ada yang berbentuk kura-kura, sapi, babi, platipus, kucing, atau panda. Berbeda dengan boneka lain yang biasa jadi teman bermain anak-anak, boneka horta bisa dibilang seperti tanaman. Jika Anda rajin menyiramnya setiap hari, rumput akan tumbuh di bagian atasnya.

Boneka rumput ini diperkenalkan oleh tujuh lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2004, yakni Gigin Mardiansyah, Asep Rodiansah, Imam Rabbul Izzati, Rachmatullah, Nisa Rahmania, Agustina Nigraheni, dan Nurheidy. Saat itu, mereka masih menjadi mahasiswa di institut tersebut.

"Ide awal pembuatan boneka horta sebenarnya dari ucapan seorang dosen kami, Dr. Ni Made Armini Wiendy. Beliau ingin bisa membuat sebuah media edukasi buat anak-anak supaya dapat mengenal dunia pertanian dan tanaman sejak dini," ujar Gigin. Dia dan teman-temannya lalu mencari ide dan tertarik untuk membuat boneka. Menurut mereka, boneka bisa menjadi media edukasi yang tepat dan menarik bagi anak-anak.

Tujuh mahasiswa IPB ini kemudian mencoba mengajukan proposal ke Dirjen Pendidikan Tinggi melalui program kreativitas mahasiswa (PKM). "Alhamdulillah proposal PKM yang kami ajukan diterima dan mendapatkan dana untuk penelitian dan pengembangan usaha sebesar Rp4.750.000," aku Gigin. Mereka pun kemudian memulai memproduksi boneka horta.

Sama seperti harapan sang dosen, misi mereka memasarkan boneka horta adalah untuk memperkenalkan dunia pertanian dan tanaman kepada anak-anak sejak usia dini. "Kami berharap generasi muda masa depan bisa lebih mencintai tanaman dan lingkungan, agar dunia ini bisa hijau kembali."

Kenapa diberi nama boneka horta? "Kata 'horta' sebetulnya singkatan dari kata 'hortikultura' karena kebetulan dulu kami kuliah di program studi Hortikultura IPB," ujar Gigin yang kini telah lulus dari IPB.

Bahan-bahan

Penasaran kenapa boneka ini bisa ditumbuhi rumput? Boneka ini dibuat dari bahan utama serbuk kayu yang diperoleh dari limbah industri penggergajian kayu. Bahan lainnya, menurut Gigin, adalah benih rumput, arang sekam, pupuk, stocking, dan aksesoris boneka seperti mata, pita-pita, dan kancing.

"Bahan-bahannya kami peroleh di sekitar Bogor saja, kecuali benih rumput yang sampai sekarang masih harus kami datangkan dari Amerika," tutur Gigin. Pasalnya, benih rumput lokal masih sulit diperoleh. Karena itu pula, hingga kini Gigin dan rekan-rekanya terus mengadakan penelitian mengenai benih rumput lokal. "Agar suatu saat kami tidak harus mengimpornya dari Amerika."

Awalnya, produksi boneka horta dikerjakan sendiri oleh Gigin dan teman-teman. Mereka juga dibantu oleh teman-teman mahasiswa dan adik-adik kelas mereka di IPB. "Tapi karena permintaan terus bertambah, sedangkan tenaga kami terbatas, sekarang produksinya sudah kami serahkan sepenuhnya kepada ibu-ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah di Kampung Selahuni, Desa Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas, Bogor," ujar Gigin. Lewat program pemberdayaan masyarakat ini, sekarang sudah ada 35 orang yang ikut terlibat dalam proses pembuatan boneka horta.