Jumat, 25 November 2011

CINTA ITU IBADAH

Siapa sich Generasi Merah Jambu itu? Ya kita ini. Kita?! Kita?! Bagaimana bisa? Yah, kita-lah para Remaja yang berperan sebagai Generasi Merah Jambu. Oke, aku sengaja memilih kata “Merah Jambu”, sebab, kata inilah yang menurutku paling tepat. Merah Jambu identink dengan warna tanda “Love”. Begitulah, masalah yang tak kunjung ada akhirnya. Mulai dari jaman Nabi Adam sono sampai sekarang.

Cinta, selalu menjadi persoalan. Pembunuhan pertama di dunia ini disebabkan kecemburuan. Yah, masih terukir dalam memori ingatan kita. Saat itu, Allah swt memberikan perintah kepada Nabi Adam As, untuk menikahkan silang antara anak-anaknya. Habil dengan Iqlima, sementara Qabil dengan Labuda. Namun ternyata, setan berhasil menyetir pikiran Qabil. Ia merasa tidak puas dengan keputusan tersebut. Ia lebih ingin menikahi Iqlima karena menurutnya mempunyai wajah yang lebih cantik. Saat protes kepada Ayahnya itulah, Allah SWT menurunkan wahyunya agar mereka berkurban. Barang siapa yan kurbannya diterima, maka ia berhak menikahi Iqlima. Dengan penuh ketaatan… Habil mempersembahkan kambing yang paling baik, sehat dan gemuk. Sedangkan Qabil, malah memilih sayuran dan buah-buahan yang sudah busuk. Pada akhirnya, kurban Habil yang diterima oleh Allah. Tak puas dengan keputusan tersebut, maka dipukullah kepala Habil dengan batu besar oleh Qabil. Maka terjadilah pembunuhan pertama di dunia ini. Na’udzu billah…

Lalu apakah hanya Cinta yang mengisi masa muda kita? Nggak koq. Masih banyak kegiatan-kegiatan lainnya. Ya, masa ini adalah masa-masa emas bagi pertumbuhan kita. Masa emas, di mana kita kan beralih menjadi seorang yang dewasa. Alangkah indahnya masa ini apabila dapat kita manfaatkan tuk mereguk kesegaran ilmu serta bersujud di atas mihrab-Nya. Salah besar apabila orang bilang masa muda adalah masa tuk bersenang-senang. Inilah justru masa yang tepat untuk menuntut ilmu, agar kelak di masa tua kita kan memetik buah kerja keras kita.

Nah di sini, saya akan berbicara tentang Cinta. Sebab biasanya, inilah masalah terbesar yang harus kita hadapi. Adakalanya Cinta itu menyejuk-kan bak setetes embun di padang pasir. Adakalanya Cinta itu indah, seindah emas intan permata di Surga-Nya. Namun adakalanya Cinta itu menyakitkan, bak hujaman pedang yang menusuk relung jiwa terdalam.

Namun sekarang, saya akan berbicara, untuk menjadikan Cinta sebagai Ibadah. Bagaimana mengubah cinta yang dipenuhi hawa nafsu menjadi cinta yang berpahala. Ada beberapa tips di bawah ini, agar cinta kita bernilai ibadah:

Yang pertama, Cintailah Allah karena Dia-lah yang menciptakan kita semua. Tak mungkin kita kan cemburu pada jenis Cinta ini. Sebab semakin kita mencintai-Nya maka semakin dekat Allah Azza wajalla pada kita semua.

Yang kedua, Cintailah Rasulullah. Bacalah shalawat untuknya. Allah dan Malaikat pun bershalawat untuknya. Dalam suatu riwayat telah disebut-kan, “Barang siapa yang membaca shalawat kepadaku pada pagi hari sebanyak sepuluh kali, dan pada sore hari sebanyak sepuluh kali pula, maka ia akan mendapat syafa’atku di hari kiamat kelak”.

Yang ketiga, Cintailah kedua orang tuamu. Sebab, merekalah yang telah merawatmu. Merekalah yang telah mendidikmu. Keridhaan Allah berada di keridhaan kedua orang tuamu, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan kedua orang tuamu. Terutama ibu. Adalah Ibu yang telah melahirkan kita. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.

Pernah ada sobatku yang bertanya, kawan, bagaimanakah jikalau kita mencintai seseorang selain tiga yang kau sebutkan tadi? Aku pun menjawab, wajar kau mencintainya. Inilah masa di mana rasa keterta-rikan lain jenis mulai bersemai. Aku pun pernah merasakan. Bagaimana nikmatnya saat perasaan itu tumbuh, bagaimana nikmatnya pada lirikan matanya. Namun segera kupalingkan wajahku seraya beristighfar. Aku teringat sabda nabi, bahwa pandangan pertama itu adalah nikmat, sedang yang kedua dan seterusnya adalah maksiat. Pesanku, Jangan sampai cinta kepada “dia” mengalahkan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, serta orang tua kita, Cintailah dia sewajarnya, sebab bisa jadi suatu saat kau akan membencinya, dan bencilah seseorang sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat kau akan mencintainya (Al-Ayah).

Akhirnya kesimpulan yang saya ambil, agar kita cinta kita bernialai ibadah, janganlah cinta itu kan membutakan mata kita kepada segalanya. Jadikanlah cinta itu sebagai penghias masa Remaja. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya karena ilmu tak akan dapat diraih dengan sendirinya. Namun Jodoh kita kelak, telah ditulis Allah di Lauh Mahfudz sana… Semoga kita kan dapat mengamalkan apa yang ada di artikel ini. Amin…

Oleh: Mushonnifun Faiz Sugihartanto.


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)