Selasa, 15 November 2011

Ketika Cinta Berbuah Syurga ^_^

“ …Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin…” Begitulah Jalaluddin Rumi melukiskan betapa dahsyatnya kekuatan cinta.
Menyitir Rumi, kepahitan hidup terasa manis kala hati kita dipenuhi cinta. Penderitaan bagaikan kenikmatan tiada tara ketika taburan cinta hinggap dalam jiwa kita. Rasa sakit langsung hilang tersembuhkan oleh obat cinta. Singkat kata, cinta adalah sebuah perasaan dalam diri manusia yang mampu membuat hidupnya terasa bahagia selamanya. Tiada kesedihan di situ, yang ada hanyalah kebahagiaan serba indah. Itulah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya.
Persoalannya, manusia seringkali tidak memanfaatkan fitrah itu dengan sebaik-baiknya. Cinta bukannya diwujudkan dalam dua dimensi kebahagiaan: dunia dan akhirat; tetapi malah diekspresikan secara dominan pada kehidupan duniawi saja, bahkan tak jarang melupakan sama sekali kehidupan ukhrawi. Akibatnya, kerusakan di muka bumi menjadi pemandangan sehari-hari yang tak elok dilihat.
Kita kerap melihat sebuah ekspresi cinta yang kebablasan di kalangan muda-mudi yang belum dihalalkan oleh pernikahan. Atas nama cinta, banyak pasangan –terutama di kota-kota besar- menghabiskan waktunya bermesraan lewat kontak fisik yang melanggar larangan Allah. Mereka lupa, sebagai makhluk ciptaan Allah semestinya meniadakan hal-hal yang dilarang Sang Pencipta. Mereka memang mendapatkan kenikmatan, tapi itu hanya kenikmatan sesaat di dunia saja, bukannya kenikmatan abadi di surga.
Atas nama cinta pula, seorang insan rela mengorbankan banyak hal demi pasangannya. Celakanya, pengorbanan itu kadangkala mengalahkan keikhlasan untuk meninggalkan aneka kenikmatan dunia demi “bermesraan” dengan Allah, Sang Pecinta Sejati. Jika diminta memilih: berduaan dengan pasangan ataukah “berduaan” dengan Yang Maha Pecinta, pilihannya jatuh pada yang pertama. Dampak buruknya, shalat ditinggalkan, zikir dilupakan, beramal shalih dilalaikan, perintah dan larangan Allah diabaikan. Astaghfirullah. Manusia semacam itu telah terperangkap dalam jeratan setan dan karenanya wajib kita ingatkan agar tak semakin terjerumus dalam kubangan dosa.
Apabila setan telah menjerat, yang terjadi adalah kerusakan. Setan menyadari bahwa manusia sangat rentan dengan godaan dunia. Pasalnya, dalam diri manusia, tersimpan rasa cinta kepada dunia. Itulah sebabnya, di sekitar kita amat banyak pengejar kenikmatan dunia yang tak sabar dengan kenikmatan surga abadi di akhirat. Pecinta dunia tak pernah peduli dengan perintah dan larangan Allah. Yang paling penting bagi mereka adalah bagaimana bisa memaksimalkan kebahagiaan hidup di dunia.
Tak dapat dibantah, kekayaan materi, gelimang uang, jabatan tinggi, adalah kenikmatan. Tapi, semua itu tak berarti apa-apa jika tak dibarengi dengan kesadaran bahwa kenikmatan duniawi hanyalah titipan yang setiap saat diambil kembali haknya oleh Allah Sang Pemilik Sejati. Seseorang yang terlanjur cinta dengan kenikmatan duniawi pasti tak rela apabila kenikmatan itu hilang. Ketika Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, seringkali ia tak bisa menerima.
Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Illahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah ke rumah sakit jiwa. Orang semacam itu bisa jadi tenggelam dalam derita, merasa tak memiliki siapapun, merasa kehilangan hal terindah dalam hidupnya. Padahal, sesungguhnya itu adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya.
Karenanya, ingatlah, kenikmatan duniawi bukanlah segalanya! Masih ada kenikmatan lain yang harus kita raih, yakni kenikmatan surgawi. Kenikmatan itulah yang dapat membawa hidup kita menjadi indah sepanjang masa. Tiada kesedihan, yang ada hanyalah kebahagiaan. Derita tak pernah mampir dalam kehidupan kita dan nestapa pun sangat alergi menemani kita.
Untuk meraih nikmat itu, kita harus mencintai Allah lebih dari segalanya karena Allah pun juga sangat mencintai kita. Cinta Allah adalah cinta yang tak bertepi. Jika sudah merasakan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada lagi tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh kita jadi semakin kuat dalam beribadah dan semangat kita kian membara dalam menggapai cita-cita tertinggi menikmati kebahagian akhirat di surga.
Oleh sebab itu, ketika mencintai seseorang atau sesuatu, usahakan cinta kita tidak lebih dari cinta kita kepada Allah. Renungkanlah… telah sangat banyak dosa, salah, dan khilaf yang kita perbuat, tetapi Allah tak pernah berhenti mengirimkan karunia-Nya pada kita. Kalau demikian, pantaskah kita mengkhianati-Nya dengan melebihkan cinta kita kepada makhluk-Nya yang lain?
Rasulullah Saw. bersabda: “Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku -yakni dalam tidurku- kemudian berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, katakanlah: ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu.’’”
Hendaknya, kita pun juga sering memohon agar selalu mampu mencintai Allah melebihi segalanya. Rasa cinta itu bisa tumbuh kalau kita mencintai siapa saja yang mencintai Allah dan dicintai Allah, serta apa saja yang dicintai Allah. Sebab, mencintai yang dicintai oleh Yang Tercinta adalah bagian dari mencintai Yang Tercinta….
Terkait dengan hal itu, dalam buku Mahabbatullah (Mencintai Allah), Imam Ibnu Qayyim menyatakan bahwa cinta senantiasa berkaitan dengan amal dan amal sangat tergantung pada keikhlasan hati, sebab di sanalah cinta Allah berlabuh. Dalam keikhlasan amal di hati, cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Karena itu, agar hati kita senantiasa diliputi rasa cinta kepada Allah, ada 10 aktivitas yang harus kita jalani:

Pertama, membaca Al Qur’an dengan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Memahami Al Quran dan mengamalkan kandungan maknanya merupakan kemuliaan yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Dengan kemuliaan itu Allah memuliakan manusia di atas makhluk lainnya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah sunnah setelah melakukan ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah fardlu dengan sempurna adalah orang yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah sunnah adalah orang yang dicintai Allah.
Ketiga, berdzikir dalam segala tingkah laku, melaui lisan, hati, amal, dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang kepada Allah tergantung pada kadar dzikirnya. Dzikir merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman, ’Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepada-Ku.’”
Keempat, memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh makhluk.
Kelima, secara konsisten senantiasa mengenal Allah dengan mengarahkan hati kepada nama-nama Allah beserta sifat-sifat-Nya. Kesadaran dan penglihatan hatinya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barangsiapa ma’rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.
Keenam, menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Karenanya, tiada satu pun kekasih yang hakiki selain Allah, karena Dialah yang memberi kita semua kenikmatan.
Ketujuh, menundukkan hati secara total di hadapan Allah. Inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ dalam semua aspek kehidupan akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
Kedelapan, menyendiri bersama Allah ketika Dia turun, yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah turun ke dunia dan itulah saat yang paling berharga bagi untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan melaksanakan shalat malam.
Kesembilan, bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah.
Kesepuluh, menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikasi hati dengan Allah. Jika itu semua kita lakukan, cinta kita kepada Allah akan semakin berlipat ganda dan Allah pun akan semakin mencintai kita. Itulah cinta yang membuahkan surga di akhirat kelak….

~~Wallahu'alam Bishawab~~

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)