Selasa, 22 November 2011

Malu Sebagai Seorang Muslimah

Malu ialah sifat yang menghiasi seluruh akhlak dengan sinar dan cahaya. Bagi lelaki, malu adalah sifat terpuji. Sedangkan bagi perempuan, malu adalah fitrah dan watak aslinya. Oleh karena itu, tidak masuk akal jika sampai ada seorang perempuan (apalagi muslimah) yang tidak memiliki rasa malu, kecuali jika ia ingin menjadi sumber kebencian dan kejengkelan orang.

Abu Qasim Al-Junaid menuturkan, “Malu adalah menyadari kesenangan-kesenangan (kenikmatan-kenikmatan) dan melihat kelalaian (kekurangan) yang pada akhirnya melahirkan sebuah keadaan yang disebut malu kepada Yang Memberi Nikmat.” Dan malu yang alami adalah perasaan malu seorang anak kecil jika ada yang melihatnya telanjang, memerahnya wajah orang yang bermoral saat mendengar perkataan jorok.

Malu karena iman adalah ekspresi malu sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Junaid di atas, yaitu suatu rasa yang membuat seorang mukmin urung melakukan maksiat karena perasaan serbasalah jika sampai dilihat oleh Allah Swt. Malu pada diri disebut juga dengan nurani dan inilah yang harusnya ada pada setiap diri muslimah. Inilah yang menjadi rahasia sejati kecantikan muslimah sebenarnya. Inilah yang seharusnya menjadi patokan nilai para juri Muslimah Beauty 2011.

Muslimah Beauty 2011

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, tuturnya, Rasulullah saw. bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh tigaan cabang, yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan, sedangkan malu adalah sebagian dari iman.”

Bangunan akhlak hanya bisa berdiri kokoh di atas pondasi iman yang telah mengeras dalam jiwa, memnuhi hati, dan menguasai rasa. Rasa malu adalah penghias dan ikon bangunan tersebut yang selalu disandingkan dengannya. Jika tidak ada rasa malu maka tidak ada pula iman dan akhlak. Malu disebut sebagai bagian dari iman karena keduanya sama-sama menganjurkan kebaikan dan menghindarkan keburukan.

Kebalikan dari malu adalah cabul. Cabul adalah kejorokan dan berangasan dalam berbicara atau berbuat. Muslimah tidak mungkin berbuat keji, berkata jorok, kasar, ataupun berangasan karena semua ini adalah sifat-sifat ahli neraka. Sementara itu, seorang muslimah adalah ahli surga, insya Allah, sehingga ia pun tidak akan bersifat cabul dan berangasan.

Salman Al-Farisi memahami dan memaknai rasa malu dengan ungkapan, “Sesungguhnya jika Allah Swt. ingin membinasakan seorang hamba maka akan dihilangkan-Nyalah rasa malu darinya. Jika telah dicabut rasa malu, dirinya akan terlihat memuakkan dan dibenci sehingga tercabutlah sifat amanah, lalu dirinya akan terlihat sebagai pengkhianat dan dicabutlah rahmat darinya, lalu dirinya menjadi orang terkutuk lagi terlaknat sehinggat dicabutlah simpul Islam darinya.”

Malu adalah akhlak terpuji yang disukai karena Rasulullah saw. sendiri adalah orang yang jauh lebih pemalu daripada gadis pingitan. Jika beliau membenci sesuatu maka akan terlihatlah dari ekspresi wajahnya (HR. Imam Muslim). Itulah hati lembut nan bening yang terpancar pada wajah untuk menjadi indikator bagi manusia sehingga hanya dari perubahan mimik Rasulullah saw., mereka bisa mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik dari perbuatan mereka.

Rasa malu bukanlah penghalang bagi wanita untuk menyuarakan kebenaran, mencari pengetahuan, atau untuk beramar makruf nahi munkar. Rasa malu bahkan tidak menghalangi Ummu Sulaim Al-Ansari untuk belajar agama. Rasa malu adalah mahkota kewibawaan yang membuat orang-orang di sekeliling seorang muslimah menundukkan pandangan, menghormati, menjaga omongannya dengan penuh kesantunan dan kesopanan, serta memperbagus perilakunya dengan penuh khidmat dan penghormatan.

Bagi seorang muslimah, rasa malu itu terealisasi pada empat hal, yaitu gerakan, pandangan, omongan, dan pakaian. Keempat hal inilah yang akan menjaga diri seorang muslimah dari sifat-sifat tercela orang lain yang ada di sekelilingnya. Satu pertanyaan yang patut direnungkan bagi semua muslimah adalah, “Apakah perempuan yang bergerak, memandang, dan berbicara dengan liar itu memiliki sedikit rasa malu? Apakah perempuan yang berpakaian terbuka memiliki rasa malu?”

Semoga kita semua, khususnya para muslimah, masih memiliki rasa malu. Malu bahwa dirinya selalu dipantau oleh Allah Swt. sehingga menjauhi segala maksiat. Rasa malu itulah yang menjadi ciri khas kecantikan muslimah yang sebenarnya.[]


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)