Selasa, 08 November 2011

PANJANG ANGAN ANGAN

1.Tak diragukan lagi bahwa panjang angan-angan adalah

pengaruh psikologis cinta dunia. Karena apabila

seorang men cintai dunia akan selalu bergantung

padanya. Dan dengan demikian dia akan terus

mengangan-angankannya. Inilah premis pertama dalam

masalah ini. Premis keduanya ialah bahwa orang yang

panjang angan-angannya kepada dunia, akan lupa pada

kematian. Konklusinya, persiapan amal salehnya buat

akhirat semakin berkurang. Silogisme ini telah

disinggung dalam beberapa nash keislaman.

Imam Ali berkata: ''Tidaklah panjang angan-angan

seorang hamba, kecuali jelek perbuatannya".

Imam Ali berkata: "Orang yang paling banyak beran

gan-angan, paling jarang mengingat kematian".

Imam Ali berkata: "Manusia yang paling panjang

angan-angannya adalah yang paling jelek perbuatannya".

2. Merasa Tentram dengan Dunia dan Condong Padanya

Ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan, adalah

akibat dari panjangnya angan-angan pada dunia dan

cinta dunia atau rela kepada dunia.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang

tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan

dengan Karni, dan merasa puas dengan kehidupan dunia

serta merasa tenteram dengan kehidapan itu dan

orang-orang yang melalai kan ayat-ayat Kami. Mereka

itu ternpatnya ialah neraka, dise babkan apa yang

selalu mereka kerjakan..." Q.S. Yunus:7-8.

Keadaan tenteram seperti itu bersifat palsu dan tidak hakiki.

Dengan ketenteraman itu, manusia akan merasa

bahwa dunia adalah tempat abadi baginya. Padahal dunia

bukan tempat abadi. Kesenangannya cepat sirna, rusak

dan hancur. Dan sesungguhnya tempat yang abadi hanyalah surga.

Allah berfirman: "Mereka bergembira dengan kehidupan

dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat,

hanyalah kesenangan (yang sedikit)." Q.S. Ar-Ra'd 26.

Allah berfirman: "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan

dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan

sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal Q.S. Al-Mukmin:39.

Dunia hanya merupakan kesenangan yang lenyap sementara alam akhirat tempat yang kekal berlawanan dengan sangkaan

orang yang condong kepada dunia.

Kecintaan dan ke relaan terhadap dunialah yang menyebabkan

manusia memi liki paham yang demikian itu.

Imam Ali pernah meriwayatkan sebuah hadis qudsi

yang demikian bunyinya: "Aku heran pada orang yang

melihat dunia dan menyaksikan perubahannya dari satu

keadaan ke keadaan yang lain, tapi dia bisa merasa

tenang dan tenteram padanya".

Dalam hadis qudsi lain Allah berfirman kepada kalimul

lah, Musa as: "Wahai Musa! Jangan condong pada dunia

seper ti kecondongan orang-orang zalim dan kecondongan

orang- orang yang menjadikannya sebagai ibu dan

ayahnya. Cukup-cukupkanlah dirimu darinya".

Ungkapan hadis tersebut sangat jernih dan dalam.

Sebagian manusia ada yang condong pada dunia, padahal

dunia itu hanyalah kumpulan keadaan-keadaan yang

terus-menerus berubah, seperti kecondongan bocah pada

ibu dan bapaknya. Sementara sebagian lain ada yang

melihat dunia hanya sebagai gelimang lahwu dan

permainan yang diperlombakan manusia secara batil.

Kemudian, dia mengetahuinya dan tidak tertipu olehnya.

Bahkan dia menggantikan dunia dengan kehidupan hakiki

yang indah, yaitu kehidupan ukhrawi.

Allah berfirman: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini me

lainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya

akhir nya itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau

mereka mengetahui..." Q.S. Al-‘Ankabût:64.

3. Mengutamakan Kehidupan Dunia daripada Akhirat

Bila manusia sangat cinta dunia, dia pasti akan memen

tingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi. Allah

telah menyebutkan dalam Alquran tentang perihal

pengutamaan urusan duniawi di atas urusan ukhrawi.

Allah berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut

kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari

keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah

tenipat tinggal (nya)" Q.S. Al-Nâzi'ât:40-41.

Dan Allah juga berfirman: "Tetapi karnu (orang-orang

kafir) memilih kehidupan duniawi padahal kehidupan

akhirat lebih baik dan kekal." Q.S. Al-A'lâ:16-17.

Pada hakikatnya, mereka menginginkan dunia belaka.

Sikap mengutamakan dunia atas akhirat itu muncul jika

terjadi benturan antara dunia dan akhirat. Yakni

ketika manusia di tuntut memilih 'dunia tanpa akhirat'

atau 'dunia - akhirat', maka mereka akan memilih dunia

tanpa akhirat. Kalau begitu, sebetulnya mereka

semata-mata ingin kehidupan dunia.

Allah SWT berfirman: "Maka berpalinglah (hai Muham

mad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami,

dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi..."

Q.S. An- Najm 29.

Bahkan, lebih dari itu mereka tidak segan-segan

menjual akhirat demi mendapat dunia.

Allah SWT berfirman: "Itulah orang-orang yang membeli

kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat ". Q.S. Al-Baqarah:86.

Berkenaan dengan masalah ini Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa dihadapkan dua pilihan; dunia dan akhirat, lalu

ia memilih dunia daripada akhirat, maka ia akan bertemu Allah SWT

tanpa membawa kebaikan yang bisa mencegahnya dari neraka.

Dan barangsiapa yang mengambil akhirat dan menolak dunia ia akan menemui Allah di hari kiamat dalam keadaan diridhai-Nya".

Imam Ali berkata: "Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk".

Imam Ali juga berkata: "Tidaklah manusia meninggalkan urusan

agamanya untuk memperbaiki urusan dunianya, kecuali Allah

bukakan mereka sesuatu yang lebih mem bahayakan dirinya."

Imam Ali berkata pula: "Orang yang tidak peduli terhadap bencana yang menimpa urusan akhiratnya, asal saja urusan dunianya selamat, maka orang itu akan benar-benar celaka".


0 komentar:

Posting Komentar

Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.
Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)