Rabu, 23 November 2011

PENGERTIAN ILMU

Menuntut IlmuBAB I

I.1 PENGERTIAN ILMU

Secara bahasa : Ilmu adalah kebalikan dari kejahilan (tidak mengetahui) Ilmu yaitu mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang pasti.

Secara istilah : berkata sebagian ahli ilmu, ilmu adalah ma’rifat (pengetahuan), lawan kata dari jahil. Dan berkata sebagian ahli ilmu lainnya : sesungguhnya ilmu itu sudah jelas tanpa harus didefinisikan.

Adapun ilmu yang kami maksudkan adalah ilmu syar’i. Yang dimaksud ilmu syari adalah ilmu yang diturunkan Allah kepada RasulNya dari penjelasan dan petunjuk, ilmu yang didalamnya terkandung pujian dan kemuliaan yaitu ilmu wahyu, ilmu yang diturunkan Allah saja.

Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memberikan kefahaman dalam urusan agama” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Ad Darimi, Ibnu Hibban, At Thahawi, dari jalan Hamid bin Abdurrahman dari Muawiyyah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu).

Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut dia telah mengambil bagian yang banyak. (Shahih Lighairi, Riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad Darimi, Al Baghawi dalam Syarah Sunnah, Baihaqi, Al Baihaqi dalam Al Adab, Al Khatibu dalam Rihlatu Thalabu Al Hadits, Thahawi dalam Misykalil Atsar, dan dalam hadits Abu Darda dalam sanadnya dhaif, akan tetapi ada syawahid (penguat), dishahihkan Al Albani Rahimahullah)

Merupakan hal yang sudah ma’lum (diketahui) bahwa apa yang diwariskan para nabi hanyalah ilmu syariat Allah Azza wa Jalla, dan bukanlah selain ilmu syari. Para Nabi ‘alaihi asholatu wa sallam tidaklah mereka mewariskan ilmu shinaah (buatan) /ilmu dunia dan tidaklah ada kaitannya ilmu tersebut, bahkan ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang sedang mengawinkan pohon kurma. Maka Nabi berkata kepada mereka ketika beliau melihat mereka kepayahan : sesungguhnya hal tersebut tidaklah dibutuhkan. Akhirnya mereka melakukan apa yang dikatakan Nabi meninggalkan pengkawinan pohon kurma. Akan tetapi ternyata pohon kurma tidak berbuah, (kemudian mereka mengeluh kepada Nabi) Kemudian Nabi bersabda : Engkau lebih mengetahui urusan dunia kalian (HR. Muslim, dan Ahmad) . Kalau seandainya ilmu ilmu ini (ilmu tentang pengkawinan pohon kurma) ilmu yang terpuji, tentunya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam lebih mengetahuinya (tapi ternyata Rasul tidak mengetahui ilmu ini). Karena yang paling banyak pujian dengan ilmu dan amal adalah Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, ilmu syari didalamnya mengandung banyak pujian dan menjadikan terpuji bagi orang yang melaksanakannya. Akan tetapi aku (penulis) tidak mengingkari ilmu-ilmu lain yang memberikan manfaat. Akan tetapi manfaat tersebut dibatasi oleh dua hal : Ilmu tersebut harus membantu untuk taat kepada Allah, dan untuk menolong agama Allah, bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, maka hal itu menjadi kebaikan dan kemaslahatan, dan mempelajarinya kadang menjadi wajib, apabila masuk dalam firman Allah : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, ….. (QS. Al Anfal : 60).

Telah banyak disebutkan sebagian besar ahli ilmu, bahwa mempelajari ilmu dunia adalah fardu kifayah. Oleh karena itu mesti bagi mereka ada yang membuat makanan dan minuman, dan yang lainnya dari urusan-urusan yang bermanfaat. Maka apabila tidak ada seorangpun yang menegakkan ilmu ini, maka mempelajarinya menjadi fardu ‘ain. Hal ini masih dalam perbincangan ahli ilmu. Yang terpenting aku (penulis) menyukai untuk mengatakan : Sesungguhnya ilmu yang mempunyai tempat terpuji ialah ilmu syar’i, yang dengannya bisa memahami kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Adapun selain itu bisa menjadi perantara kepada kebaikan atu perantara kepada kejahatan, maka hukumnya bergantung pada apa yang menjadi tujuan mempelajarinya.

I.2 KEUTAMAAN ILMU

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji ilmu dan orang yang mempelajarinya, dan memotivasi hambanya untuk menuntut ilmu, dan menyiapkan bekal dengan ilmu, begitu pula dalam Sunnah yang suci, Ilmu merupakan amalan shaleh yang paling utama, ibadah tathowu, karena merupakan salah satu jihad di jalan Allah, karena sesungguhnya Dinullah Azza wa Jalla didirikan diatas dua perkara :

  1. Ilmu dan Burhan (dalil/hujjah/alasan)
  2. Perang dan Sinan (Panah/Senjata)

Maka mesti dari dua hal ini, tidak mungkin untuk ditegakkan Dinullah tanpa keduanya. Yang awal didahuluhan atas yang kedua. Oleh karena itu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak memerangi suatu kaum sampai datang kepada mereka da’wah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka ilmu didahulukan sebelum perang. Allah berfirman : (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS.Az Zumar : 9)

Jawab : Tidaklah sama, orang yang beribadah di waktu malam mengharapkan pahala dari Allah dan mempersiapkan bekal di akhirat, apakah hal itu dilakukan oleh orang berilmu atau orang jahil ?

Jawab : Tentunya orang berilmu, oleh karena itu Allah berfirman : Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Tidaklah sama orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu, sebagaimana orang mati dan orang hidup, orang yang mendengar dan orang yang tuli, orang yang melihat dengan orang yang buta. Ilmu itu cahaya yang menunjuki manusia, mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya, ilmu menaikan derajat bagi orang yang Allah kehendaki, Allah berfirman : niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS.Mujaadilah : 11), oleh karena itu kita dapatkan bahwa orang berilmu mempunyai kedudukan terpuji, mereka diingat sebagai orang yang terpuji diantara manusia, inilah ketinggian derajat mereka di dunia, adapun di akhirat mereka ditinggikan derajatnya sesuai dengan dawah yang mereka tegakkan, dan amal yang mereka lakukan.

Sesungguhnya hamba Allah yang sebenarnya, dialah yang menyembah Allah berdasarkan bashirah (ilmu), dan jelas baginya kebenaran, inilah jalan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Allah berfirman : Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Seseorang yang berthaharah (bersuci) dan dia mengetahui bahwa dia berada di jalan syar’i, apakah dia seperti orang yang berthaharah karena melihat bapak ibunya berthaharah ? manakah diantara dua orang itu yang paling benar dalam beribadah ? Seseorang yang berthaharah, karena dia mengetahui bahwa Allah memerintahkan untuk berthaharah, dan berthaharah sesuai dengan thaharah Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam).

Jawaban : Tanpa diragukan lagi, adapun orang yang pertama, dia adalah orang yang beribadah diatas bashirah (ilmu), maka apakah sama dengan orang yang beribadah tidak berdasarkan ilmu. Dia beribadah mengharapkan keridhaan Allah Azza wa Jalla, dan takut akan hari akhir, dan dia mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Saya (penulis) bertanya : apakah setiap kali kita berwudhu kita merasa bahwa kita mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmannya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai dengan siku, dan usaplah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian sampai dengan mata kaki (Al Maidah : 6). Apakah seseorang ketika wudhunya menghadirkan ayat ini dan berwudhu karena mengikuti perintah Allah ?

Apakah dia merasa bahwa wudhunya sesuai dengan wudhu Rasul Shallallahu alaihi wa sallam ?

Jawaban : Ya, pada hakikatnya kita akan merasakan, bagi siapa yang menghadirkan ayat tersebut dalam wudhunya, oleh karena itu wajib dalam setiap perbuatan ibadah sesuai mengikuti perintah Allah, dan sampai kita benar-benar ihklas dalam melakukannya, dan kita menjadi pengikut Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kita ketahui bahwa syarat wudhu adalah niat, akan tetapi yang dimaksud niat tersebut adalah niat amal, dan inilah yang dibahas dalam fiqh, dan kadang yang dimaksud dengan niat tersebut adalah niat orang yang beramal karena Allah, oleh karena itu wajib atas kita untuk memperhatikan perkara yang besar ini, untuk menghadirkan (ayat tersebut ketika wudhu), dan kita mendirikan ibadah untuk mengikuti perintah Allah, untuk mengikhlaskan hati, dan juga menghadirkan (hadits cara Rasulullah berwudhu) bahwa Rasul melakukannya, dan kita mengikuti contohnya.

Karena syarat dari shahihnya (benarnya/diterimanya) amal adalah ikhlas dan ittiba, yang dua hal tersebut tercakup dalam Syahadatain (Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah : Ikhlas, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah : Ittiba).

Kita kembali kepada apa yang kita sebutkan di awal tentang keutamaan-keutamaan ilmu. Dengan ilmu, seseorang beribadah kepada Allah diatas bashirah (ilmu syari), maka hatinya akan terikat dengan ibadah, dan akan bersinar hatinya dengan ilmu, dan orang tersebut dikatakan beribadat, bukan dikatakan melakukan adat. Oleh karena itu, apabila seseorang shalat (berdasarkan ilmu), maka orang tersebut mendapat jaminan sebagaimana yang difirmankan Allah : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Dari keutamaan-keutamaan ilmu diantaranya sebagai berikut :

  1. Sesungguhnya ilmu warisan para Nabi, para Nabi “Alaihis Shalatu wa sallam, tidak mewariskan dirham (uang perak) dan tidak pula dinar (uang emas), akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil ilmu, maka dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para Nabi. Engkau sekarang berada di (masa yang jauh dari Nabi), apabila engkau termasuk ahli ilmu, engkau mendapatkan warisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan ini merupakan sebesar-besarnya keutamaan.
  2. Bahwa ilmu kekal sedangkan harta binasa, dalam hal ini Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, salah seorang sahabat yang fakir (miskin), sampai merasakan sangat kelaparan. Dan aku (penulis) bertanya kepadamu : Demi Allah, apakah Nama Abu Hurairah disebut-sebut di zaman kita sekarang ini ? Ya, banyak sekali namanya disebut, Abu Hurairah mendapatkan ganjaran dari hadits-hadits yang diriwayatkannya. Oleh karena itu ilmu kekal, dan harta akan binasa, maka atasmu wahai penuntut ilmu, untuk berpegang teguh pada ilmu, sungguh telah disebutkan dalam hadits bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya (HR. Muslim, Bukhari, Abu Dawud, An Nasai, At Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Huzaimah, Thahawi, Baihaqi, Baghawi, dari Abu Hurairah)
  3. Bahwa sesungguhnya ilmu tidak membuat lelah penuntut ilmu dalam mendalaminya. Karena apabila Allah mengkaruniakan ilmu, maka dia akan membawanya dalam hati, tidak membutuhkan kotak (tempat) atau kunci-kunci atau selainnya, ilmu tersimpan dalam hati, terjaga dalam jiwa, dan disuatu waktu ilmu akan menjagamu dan melindungimu dari bahaya dengan idzin Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu ilmu yang menjagamu akan tetapi harta, engkau yang menjaganya, menyimpannya dalam kotak, lalu menguncinya lalu tidak merasa aman darinya (khawatir pencuri).
  4. Bahwa sesungguhnya seseorang menggunakan perantara ilmu untuk menjadi syuhada (saksi) diatas kebenaran, dalilnya firman Allah Ta’ala : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran 18). Apakah dikatakan “ Ulul Maal ?” (orang-orang yang meiliki harta), jawabannya tidak, bahkan dikatakan “Ulul Ilmi” (orang-orang yang berilmu). Maka bagaimana engkau tidak bangga wahai penuntut ilmu engkau menjadi orang yang bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq melainkan Dia (Allah) bersama para malaikat yang mereka juga menjadi saksi akan keesaan Allah Azza wa Jalla.
  5. Bahwa ahli ilmu mereka adalah salah satu bagian dari ulil amri, yang Allah memerintahkan untuk mentaati mereka, dalam firmannya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS. An Nisa : 59). Maka sesungguhnya ulil amri tersebut mencakup pemerintah, para hakim, ulama, para penuntut ilmu. Wilayah ahli ilmu dalam menjelaskan hukum-hukum Allah, dan mengajak manusia kepada Syariat-Nya, dan wilayah pemerintah (Umara) dalam menerapkan (menegakkan) Syariat Allah, dan menghukumi manusia dengan Syariat-Nya
  6. Bahwa ahli ilmu mereka senantiasa menegakkan perintah Allah, sampai datangnya hari kiamat, dalil atas hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan Muawiyah Radhiyallahu anhu, berkata : Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memberikan kefahaman dalam urusan agama, sesungguhnya aku Qosim, dan Allah yang ditaati, Akan senantiasa ada dari umat ini, mereka yang tegak diatas perintah Allah, tidak dimudharatkan oleh yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah (HR. Bukhari). Sungguh telah berkata Imam Ahmad tentang golongan orang ini : Jika bukan ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka. Berkata Al Qodi Iyadh Rahimahullah : Yang dimaksud Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah dan orang yang bertopang pada jalannya (mazhab) para ahli hadits.
  7. Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintahkan seseorang untuk iri terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang, kecuali iri (gibthah : rasa ingin memiliki tanpa ingin kenikmatan itu lenyap dari orang yang diberikan nikmat) terhadap dua hal : pertama terhadap penuntut ilmu dan beramal dengan ilmunya tersebut, kedua seorang pedagang yang menggunakan hartanya untuk kejayaan Islam. Dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu anhu, berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang, seseorang yang diberi Allah harta, lalu dia gunakan harta tersebut dengan sekehendaknya di jalan kebenaran, dan seseorang yang diberi Allah hikmah (ilmu), lalu dia menetapkan segala sesuatu dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya. (HR. Bukhari Muslim)
  8. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Perumpamaan Allah Azza wa Jalla mengutusku dengan (membawa) petunjuk dan ilmu, seperti hujan yang menyirami bumi, diantaranya ada bagian tanah yang baik, yang bisa menyerap air dan menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak, diantaranya ada tanah yang menyerap dan menampung air, Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia, mereka minum darinya, dan untuk menyirami. Dan diantaranya ada tanah yang menyerap, tidak menampung air dan tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka itulah perumpamaan orang yang memahami dinullah (Islam), memanfaatkan ilmunya, sesuai dengan apa-apa yang Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu tersebut, maka dia alim (orang berilmu) dan allam (mengajarkan ilmu). Dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya (tidak memperhatikan ilmu) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengan membawa petunjuk tersebut.
  9. Bahwa ilmu merupakan jalan menuju surga, sebagaimana dalil dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga. (HR. Muslim).
  10. Sebagaimana dalam hadits Muawiyyah Radhiyallahu anhu berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memberikan kefahaman dalam urusan agama”. Artinya bahwa Allah akan menjadikannya faqih (faham) dalam urusan din, faham dalam urusan din bukan maksudnya faham dalam hukum-hukum ilmiah yang khusus dikalangan ahli ilmu saja, tetapi maksudnya adalah ilmu tauhid, pokok-pokok din, dan apa-apa yang berhubungan dengan syariat Allah Azza wa Jalla. Kalau sekiranya tidak ada dalam nash Al Quran dan As Sunnah kecuali hadits ini (hadits Muawiyah tentang keutamaan ilmu) tentunya hadits ini sudah sempurna untuk memotivasi untuk mencari ilmu syar’i dan memahaminya.
  11. Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya yang menerangi seorang hamba, maka dia mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabbnya, bagaimana bermuamalah dengan orang lain, dan segala gerak langkahnya didasarkan pada ilmu.
  12. Bahwa ilmu cahaya yang menunjuki manusia dalam urusan din dan urusan dunia mereka. Tidak asing lagi tentang kisah seseorang laki-laki dari Bani Israil, yang telah membunuh 99 orang, lalu dia hendak bertanya kepada orang yang paling alim dari penduduk bumi, maka ditunjukkannya kepada seorang ahli ibadah, dan bertanya, adakah baginya taubat ? Ahli ibadah itu menganggap itu sebuah perkara besar lalu menjawab : tidak ada taubat bagimu, lalu dibunuhnya sehingga genap 100 orang. Kemudian pergi kepada seorang alim, lalu dia bertanya dan orang alim mengkhabarkan bahwa baginya ada pintu taubat, dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi dia dengan taubat, kemudian menunjukan kepada negeri yang masyarakatnya orang-orang shaleh. Kemudian orang itu pergi ke negeri tersebut, tetapi orang tersebut meninggal di tengah perjalanan. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk mengukur jarak tempat dia maksiat ke tempat dia bertaubat, ternyata lebih dekat ke tempat bertaubat, lalu Allah mengampuninya dan memasukannya ke dalam surga (HR. Bukhari Muslim). Maka lihatlah perbedaan antara orang jahil dan orang alim.
  13. Bahwa Allah mengangkat derajat Ahlul Ilmi di dunia dan di akhirat, adapun di akhirat, sesungguhnya Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan da’wah yang mereka sampaikan dalam mengajak kepada Allah Azza wa Jalla, dan amal yang mereka lakukan. Adapun di dunia Allah meninggikan derajat sesuai dengan apa yang mereka lakukan di dunia. Allah berfirman : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Mujadilah : 11)

Judul Asli : Kitabul Ilmi

Penulis : Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah

Penerbit : Darul Iman 2002

Penterjemah : Agung Hidayatullah S.Sos.I


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)