Minggu, 12 Agustus 2012

Sukses Dunia Bukan Ukuran Sukses Akhirat

Tidak selamanya Sukses secara Duniawi bisa dijadikan untuk ukuran Sukses kita kelak di Akhirat,tetapi seharusnya ketika kita telah sukses secara Duniawi akan dapat dengan mudah menempuh jalan-jalan kesuksesan hidup kita kelak di Akhirat, tapi ternyata tidak sedikit orang yang sukses Dunianya semakin terpuruk kehidupan Akhiratnya, semoga kita bukan termasuk orang yang demikian.

Ada dua orang laki-laki bersaudara. Mereka sudah yatim piatu sejakremaja. Keduanyabekerja pada sebuah pabrik/perusahaan.

Mereka hidup rukun, dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-harisemaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, Mereka acapkali harus berjalan kakiuntuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknyasekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejekiuntuk membeli sebuah mobil supaya dapatdipergunakan untuk sarana angkutan dia danadiknya, bila pergimengaji. Allah mengabulkannya,jabatannya naik dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuahmobil dapat diamiliki. Dia mendapatkanbonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istriyang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sangkakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turutsang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain.Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalammendekatkan dirikepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkansemua do'anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahansama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalanorang tuanya yang dulu dia tempati bersamadengan Kakaknya.Namun karena kakaknya sangat sibuk denganpekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya.Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a,menandakan adiknya tidak pernah hafalbacaan untuk berdo'a.

Lalu datanglah iakepada adiknya untuk menasehati adiknya supaya selalu berdo'akepada Allah danberupaya untuk membersihkan hatinya, "Dik, sesungguhnya ketidak mampuan kita menghafal quran, haditsdan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.."

Sang adik Mengangguk,hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukursekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknyaatas nasehat itu.

----

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sangkakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahanpada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggaldalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak kemudianmembereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai denganamanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid.

Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipatdalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranyaAl-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat dan adakalimah di akhirdo'anya:

"Ya, Allah. tiadasesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlahsegala do'a kakak ku, Jadikan Kakakku selaludalam lindungan dan cinta-Mu,Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakkudidunia dan akhirat.,"

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya. Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyanaternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Sahabat, kesuksesan yang kita raih harus kita sadari bahwa itu bukan hanya hasil dari jerihpayah dan doa kita sendiri , bisa jadi faktor dari doa orang-orangterdekat dengan kita yang kita sayangi dankita cintai merekaadalah orang tua kita, istri kita, anak-anak kita,tetangga-tetangga kita, karyawan-karyawan kita dan juga orang-orang yang pernah kita tolong.

Kekayaan, kemiskinan,kebaikan, keburukandan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan ataukehinaan seseorang.

Janganlah banggakarena kekayaan dan janganlah putus asakarena kemiskinan..

”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS, al-Hujurat[49]: 13)


0 komentar:

Poskan Komentar

Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)