Minggu, 12 Agustus 2012

Sifat dan Kelakuan Perempuan Yang Beruntung

Menyatakan segala sifat dan kelakuan perempuan yang beruntung mendapat keredho’an Alloh Subhanahu Wata’ala, maka sesungguhnya tiada ada suatu keuntungan pada manusia yang seperti mendapat keredhoan Alloh kepadanya. Inilah nikmat yang paling besar dan hal yang paling mulya, maka inilah pangkat derajat yang paling tinggi.

Adapun sifat kelakuan perempuan paling beruntung dengan kemuliaan itu ialah ;

  1. Perempuan yang senang duduk di rumah dan tiada suka pergi melangcong kesana-sini hanya jikalau ada perlu, maka beginilah sifatnya dan kelakuan anak-istri para ulama dan para sholihin.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Aqrobu maa takunul mar-atu min robbiha iza kanat fii qo’ri baytiha”.

Artinya :

Yang paling dekat seorang perempuan kepada keredho’an Tuhannya ialah apabila ia berada didalam rumahnya.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Wainna sholataha fii shohni dariha afdholu min sholatiha fil masjidi washolatuha fii baitiha afdholu minsholatiha fii shohni dariha washolatuha fii mahdi’iha afdholu min sholatin fii baytiha”.

Artinya :

Sesungguhnya hanya sholat perempuan di latar rumahnya lebih afdhol dari sholatnya di masjid, dan sholatnya di dalam rumahnya lebih afdhol dari sholat di latar (halaman) rumahnya, dan sholat di kamar rumahnya lebih afdhol daripada sholat di dalam rumahnya.

Sebagai lagi telah bertanya Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam kepada anaknya Siti Fatimah Rodiallohu ’Anha, ”Betapakah hal yang baik pada perempuan ya Fatimah ?”, maka jawab Siti Fatimah ”Bahwa hal yang baik pada seorang perempuan yaitu yang ia tiada melihat pada lelaki lain, dan orang lelaki itu tiada dapat melihat kepadanya”,

maka Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam sangat bersuka cita hati mendengar perkataan ananda Siti Fatimah, ia lalu mencium kepalanya serta berkata :”Zurriyata ba’dhuha min ba’dhin”

Artinya :Inilah turunan yang mulia dari asal yang mulia.

  1. Sifat kebajikan bagi seorang perempuan yang mendapat keredho’an Tuhan ‘Azza Wajalla yaitu perempuan yang tiada suka banyak permintaan dari perhiasan dunia, daripada pakaian, dan perabot rumah tangga yang berlebih-lebihan, maka sebagaimana yang ada padanya ia bersyukur kepada Alloh Subhanahu Wata’ala, sebab bahwasanya kebesaran dunia dan perhiasannya itu telah dibenci oleh Alloh Subhanahu Wata’ala halalnya, apalagi haramnya.

Sabda Nabi Sallollohu ’Alaihi Wasallam :

Hakkudunia ada qodarnya pada Alloh Ta’ala sekalipun sekedar sayap nyamuk besarnya, niscaya tiada dikasih orang kafir akan minum seceguk airnya,dari karena dunia ini tiada qodarnya pada Alloh Ta’ala maka dijadikannya dunia sebagai surga bagi orang2 kafir.

Adapun bagi orang mu’min kesenangan yang sempurna dan kerajaan besar maka yaitu Insya Alloh Ta’ala di dalam syurganya dengan segala nikmatnya yang kekal selama-lamanya

Adapun yang sesungguhnya dunia ini adalah tempat beramal sholeh, maka bukan untuk tempat bersenang-senang, maka dari itu Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam suka meninggalkan keenakan dunia ini, demikian pula anak-istrinya dan sahabatnya, masing-masing suka memadai barang yang amat sedikit dari hal makanan atau hal pakaian atau perabot rumah tangganya.

Sabda Nabi Sallollohu ‘Alaihi Wasallam :

“Maa syabi’a aa-lu muhammadin min hubzisy-sya’iri salasata ayyamin”

Artinya :

Pernah tiada merasa kenyang keluarga Nabi Muhammad Sallollohu ‘Alaihi Wasallam dari roti gandum selama tiga hari berturut-turut.

Setengah riwayat mengatakan bahwa terkadang dua-tiga hari tiada kelihatannya Asfi, orang yang memasak di rumah Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, melainkan makan seadanya saja yang ada di rumah seperti kurma dan air.

Begitulah kelakuan Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam yang senantiasa, jika ia masuk kerumahnya kalau ada suatu makanan lalu dimakan, dan kalau tiada, ia tiada minta dari istrinya, lalu terus puasa di hari itu juga.

Kata Siti Aisyah Rodiallohu ‘Anha (Istri Nabi) :

“Kanat dhoja’u Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam, Allazi yanamu ’alaihi wisadatun min adamin hasy-wuha lifan”

Artinya :

Adalah di tempat tidur Rosululloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam suatu bantal dibuat dari kulit yang isinya daripada sambuk korma.

Sebagai lagi ada pada suatu hari Rosullulloh Sallollohu ’Alaihi Wasallam datang ke rumah Siti Fatimah, didapati ia lagi menggiling gandum dengan memakai baju yang dibuat dari bulu onta, hati Rosullulloh Sallollohu ‘Alaihi Wasallam menjadi sedih melihat kemiskinan Siti Fatimah itu, serta berkata : Hai anakku Fatimah, sabarlah engkau atas merasai sedikit pahit kehidupan dunia, karena sesungguhnya mendapat keenakan yang banyak adalah di akhirat yang kekal selama-lamanya,

maka di waktu itu turunlah Firman Alloh Ta’ala sbb :

“Walasaufa yu’thika robbuka fatardhoo”.

Artinya :

Bahwa sesungguhnya nanti akan diberikan kepadamu ya Muhammad oleh Tuhanmu segala kemuliaan di akhirat, niscaya engkau akan redho’ dan suka hati engkau dan anak buah engkau.

Sebagai lagi dimisalkan orang yang beriman pada hari kemudian dan ia sabar atas kemiskinan dunia serta beramal sholeh dengan mengharap supaya dapat keredho’an Tuhan, dapat kesenangan syurga dan segala nikmatnya, maka adalah ia seperti seorang perempuan yang lagi bikin kue dan membersihkan perabot rumah tangga karena menghadapi hari lebaran, maka engkau dapat lihat sebelum lebaran itu bagaimana ia cape’nya dengan memakai baju terburu-buru tiada meriaskan badan dan bajunya karena arang atau abu dapur.

Semua itu dengan sabar dilakukan karena sedikit hari lagi ia akan dapat merasakan kesenangan dihari raya lebaran dengan pakaian bagus dan makanan yang lezat.

Maka inilah misalnya orang yang beriman didalam sabarnya atas kemiskinan dunia, karena mengharap keredho’an Alloh Ta’ala dan kenikmatan syurga.

Translit Kitab “PERHIASAN BAGUS”

Karya : Syekh Usman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Alwi.

فرهياسن باڮوس

أونتق أنق فرمفوان


0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)