Selasa, 06 Desember 2011

Logika dan Emosi - Penulisan Artikel Bermutu


Di dunia ini ada 2 hukum terutama yang tak dapat dibantah oleh manusia:

  1. Hukum sebab akibat / aksi reaksi
  2. Hukum yang kuat memangsa (menaklukan dan sejenisnya) yang lemah

Semua mengerti ada aksi, ada reaksi. Bila ada yang melanggar peraturan negara, maka pantaslah bila polisi (ataupun tentara) mencoba mencegah pihak yang dirasa bersalah. Terlepas dari entah negara itu diakui secara de jure atau tidak, selama de facto negara itu ada, maka peraturannya perlu dihormati. Juga dapat dipahami bahwa kekerasan akan memicu kekerasan lagi. Kekerasan dalam kerusuhan contohnya, melempari tentara yang sudah memiliki senjata api tentu akan menuai balasan peluru tajam. Ini adalah sesuai dengan hukum aksi reaksi.

Hukum yang kedua adalah hukum alam. Dapat dilihat dalam dunia nyata, apakah ini salah satu bentuk ketidak adilan? Bila anda menjawab bahwa ini tidak adil, maka sebenarnya anda sedang menyalahkan TUHAN YME karena ia yang menciptakan hukum ini agar sebenarnya kita sebagai ciptaan selalu tunduk pada kehendak-NYA, yang terkuat dari seluruh yang ada.

Akan tetapi saya heran kepada banyak orang yang menulis di kompasiana ini tanpa memahami kedua hukum di atas. Mungkin saja emosi yang menguasai mereka akibat hal tersebut menyentuh sesuatu yang sensitif dalam kepercayaan mereka, sehingga mereka bahkan menyuruh, bukan lagi meminta, agar TUHAN bekerja bagi mereka, sesuatu yang sungguh absurd.

Logika dan Emosi dalam Menulis Artikel


Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Dalam tulisan, lebih baik menggunakan logika karena logika membuat para pembaca mengerti alur pikiran dari penulis. Pembaca dapat melihat dasar pemikiran penulis, proses berpikir penulis dan kesimpulan dari penulis sehingga pemahaman pembaca kepada apa yang tertulis dapat menjadi lengkap.

Sebaliknya, emosi biasanya dilampiaskan dalam tindakan sehingga tidaklah baik dalam mengungkapkan pendapat dengan menggunakan tulisan. Mungkin anda akan lebih berhasil dalam pidato dan ceramah, bila anda dapat mengungkapkan isi hati anda dengan baik, anda dapat membakar perasaan orang banyak.

Saya melihat ada penulis yang menulis seperti ini: “Israel memang biadab”. Bila penulis sudah memiliki pandangan Israel biadab dan Israel bertindak seperti yang diharapkan penulis, mengapa dia protes? Bukankah Israel bertindak seperti yang dia harapkan? Ataukah dalam hatinya, sebenarnya ia menginginkan Israel bertindak penuh belas kasih? Heran bukan ada yang berkata “Israel adalah musuh *” kemudian ia heran ketika Israel membunuh orang * . Bukankah itu harapannya? Atau dia sebenarnya berharap orang * yang membunuh Israel? Tetapi tidak menyadari bahwa itu adalah hubungan 2 arah? Dalam contoh-contoh ini kita dapat melihat bagaimana emosi mempengaruhi logika penulisan.

Etiket penulisan juga perlu diperhatikan dalam penulisan. Spasi dan enter untuk memudahkan orang membaca membuat pembaca paham apa yang hendak ditulis. Menulis dengan huruf besar semua biasanya digunakan untuk penekanan terhadap sesuatu yang ingin ditekankan dalam argumen. Menulis dengan huruf kapital seluruhnya (kecuali dalam penyebutan TUHAN, yang adalah penghormatan), saya rasa merupakan perbuatan orang yang belum matang dan tidak dapat menguasai dirinya dalam diskusi. Demikian juga dengan men-generalisir orang/ stereotiping. Biasanya orang yang melakukan hal itu sudah buntu dan sudah tidak dapat berkata apa-apa, kemudian daripada ia malu tak bisa menjawab, maka ia melakukan hal yang lebih memalukan lagi.

Teori Politik

Dalam politik, ada yang mengungkapkan:

Musuh dari musuhku adalah temanku, dan tentu saja sebaliknya teman dari musuhku adalah musuhku

Dilihat dari strategi perang sekalipun hal ini adalah hal yang sangat masuk akal. Dalam berbagai tulisan yang mengutuk Israelpun merembet kepada US dan negara barat, bahkan PBB. Bahkan pernah ada anggota DPR yang berkata: “Apakah World Bank ingin mencari masalah dengan DPR-RI?”(terkait dengan kasus SMI dan Bank Century). Dalam hal ini kita harus bercermin. Apa kita tidak sadar adanya hukum yang kuat memangsa yang lemah? Apakah kita siap dalam berperang dengan seluruh bangsa yang disebutkan di atas? Untung saja pemimpin World Bank tidak tersinggung dan berkata: “Iya, memangnya kenapa?” Lalu ia mengumpulkan semua temannya untuk membangkrutkan Indonesia sehingga negara kita benar-benar hancur perekonomiannya. Melawan 1 orang George Soros saja kita belum mampu.

Saya sangat menyayangkan banyaknya orang yang mengutarakan pendapatnya yang sangat provokatif tanpa disertai kemampuan untuk melakukan pendapatnya. Mayoritas hanya bersandar kepada kitab sucinya, tanpa memperhitungkan konten, konteks dan cara pelaksanaannya. Istilahnya, nafsu besar tak ada kemampuan atau bagaikan pungguk merindukan bulan.

Kemudian ada yang mengatakan “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Tentu saja ini adalah benar. Toh secara de facto Palestina sudah merdeka, secara de jure hal ini menunggu dari hasil perang saudara antara Fatah dengan Hamas. Apabila saya pendukung Fatah, apakah saya dianggap tidak mendukung perjuangan rakyat Palestina? Seolah Palestina hanya Hamas saja. Saya tidak melihat korelasi Pembukaan UUD’45 ini terhadap proses perang saudara yang terjadi pada negara Palestina. Apabila Palestina belum diakui kemerdekaannya saya pikir ini terutama karena perang saudara antara Fatah dengan Hamas yang masih berlangsung sampai sekarang. Dan alasan mengapa Israel memblokade Hamas, saya pikir ini juga karena Fatah “meminta tolong” juga. Dan apabila saudara tidak mengakui kemerdekaan Israel, justru hal ini seharusnya merupakan bumerang bagi anda.

—————————–

Kesimpulan:

Saya berpikir bahwa logika berpikir yang jelas, diperlukan dalam penulisan artikel yang bermutu. Emosi hanya akan menutupi maksud yang ada. Etiket menulis perlu diperhatikan agar tidak memusingkan pembaca (yang mungkin adalah tujuan penulis yang sengaja melanggar, agar tidak ada yang dapat menjawab karena merasa pusing dengan tulisannya). Demikian pula dalam penggunaan alur berpikir dan contoh yang diberikan.

Selamat menulis.


http://filsafat.kompasiana.com/2010/06/10/logika-dan-emosi-penulisan-artikel-bermutu/



0 komentar:

Poskan Komentar

Bookmark and Share
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)