Jumat, 22 Februari 2013

Mempercayai Kata Hati, Benarkah?



Saat kita melihat film drama, biasanya ada adegan dimana ada seseorang yang sedang ‘galau’ terhadap masalah percintaannya, entah apakah itu di pihak cowok atau ceweknya. Pastinya ia tidak sedang sendiri, tetapi bersamanya ada seorang teman yang akan menasehatinya dan berkata, “Percayalah pada kata hatimu…” Aku yakin kita sering melihat film seperti itu. Dan bahkan kita adalah orang yang sangat mempercayai perihal mempercayai kata hati tersebut.
Namun benarkah demikian? Apa kebenarannya? Suatu saat, waktu sedang merenung, aku mendapatkan bahwa ternyata tidak semua kata hati harus diikuti. Mengapa demikian? Jika memang semua kata hati selalu benar, maka Amsal 4:23 tidak akan berkata,
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Kata hati di sana berasal dari kata leb, yang kira-kira berarti perasaan, keinginan dan pikiran. Jikalau hati kita memang selalu benar, maka kita tidak perlu menjaganya. Bahkan Amsal berkata harus menjaga dengan segala kewaspadaan. Jadi lebih tepatnya, hati kita sebenarnya sangat mudah tertipu. Mari kita lihat Kejadian 3:6, sebuah proses penipuan pertama yang tercatat.
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian…
Dikatakan pohon itu menarik hati. Kata yang digunakan adalah chamad, yang artinya enak untuk dinikmati. Seringkali yang membuat hati kita salah bereaksi adalah karena kita sudah memiliki keinginan terlebih dahulu sebelum bertanya kepada hati kita. Sehingga akhirnya posisi hati kita sudah berat sebelah. Misalnya, pada kasus seseorang yang sedang menyukai lawan jenisnya. Sangat rentan bagi dia untuk salah mendengar kata hati. Kecuali dia benar-benar mampu membuat hatinya seimbang dan aku sendiri tidak menyarankan untuk mencoba menyeimbangkan hati, karena biasanya tetap akan gagal.
Lalu bagaimana? Satu hal yang aku sadari, hanya ada satu patokan yang dapat benar-benar dipercaya, yaitu firman Tuhan. Sebagai contoh dalam kasus hati yang tertuduh. Aku pernah mendengar siaran radio dimana sang pembicara sedang berbagi tentang pengalaman hidupnya. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang sangat supel dan cenderung ceplas-ceplos dalam berbicara, sehingga kadang secara tidak sadar suka menghina temannya dalam gurauannya.
Suatu saat dia merasa tertegur dan itu membuat dirinya tidak damai sejahtera dan akhirnya susah merasakan Tuhan pada saat teduhnya. Apakah kita pernah merasa demikian? Aku pernah! Dan aku ingin berkata bahwa ada yang secara terselubung tidak benar dalam pemikiran tersebut. Mengapa? Seharusnya sejak Yesus menebus dosa kita, tidak ada satupun hal yang dapat memisahkan diri kita dari Tuhan. Jikalau dengan suatu perbuatan, itu membuat kita terpisah dari Tuhan, maka pengorbananNya sia-sia.
Roma 8:35-37 berkata bahwa tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan kita sekarang sudah dijadikan lebih dari pemenang. Artinya, tidak ada satupun lawan kita yang memiliki kuasa untuk membuat kita terpisah dariNya. Tentu saja kecuali diri kita sendiri. Jadi kalau kita sampai tidak bisa merasakan hadirat Tuhan, pastinya itu bukan kemauan Tuhan atau dosa kita, tetapi karena pola pikir kita yang salah. Ibrani 10:22 berkata,
Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
Ternyata tidak semua kata hati tersebut baik. Ada hati nurani yang jahat yang harusnya sudah dibersihkan saat kita ditebus. Tetapi sama seperti Hawa dapat tertipu, kita juga bisa tertipu. Oleh karena itu, hanya satu cara untuk membuat kita tidak mudah tertipu, yaitu ketahuilah firman Tuhan. Jika kita ingin mempercayai hati kita, maka carilah apa kata firman Tuhan tentang hal tersebut.
Aku pun mungkin termasuk orang yang masih mempercayai kata hati. Ada banyak hal di luar pemikiran manusia yang kadang aku selesaikan atau putuskan hanya berdasarkan sebuah ‘insting’. Tuhan telah memberikan kepada kita sebuah alat berupa hati bukan tanpa sebab. Dengan hati, kita bisa mengasihi, Tuhan dan sesama. Itulah tujuan utamanya. Hati selalu diciptakan untuk pihak lain, bukan diri sendiri. Masalahnya, saat kita menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri, maka kita harus berhati-hati, seperti kata Amsal.
(Gambar dari blogspot.com)


Sumber:blog.leipzic.com/2012/10/10/mempercayai-kata-hati-benarkah/

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark and Share
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)